Misteri Kesehatan Trisno PAS Band Terungkap: Dari Pusing di Depok hingga Gagal Ginjal 5% – Kisah Tragis yang Mengguncang Dunia Musik!
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Ringkasan Singkat
- Trisno, bassist PAS Band, meninggal pada 14.47 WIB setelah berjuang melawan gagal ginjal.
- Kondisi mulai menurun sejak ia keluh pusing di Depok dan mengabaikan pemeriksaan medis.
- Rekan setim, Sandy Sandy, akhirnya memaksa Trisno cek kesehatan, terungkap fungsi ginjal tinggal 5%.
Jakarta, 2 Agustus 2026 – Dunia musik Indonesia kembali terdiam. Bassist legendaris Trisno PAS Band, atau Bambang Sutrisno, menghembuskan napas terakhirnya pada pukul 14.47 WIB. Sebelum itu, ia sempat berjuang keras melawan gagal ginjal yang ternyata sudah berada di ambang titik kritis.
Menurut sahabat sekaligus rekan panggungnya, Sandy, kabar pertama tentang keluhan Trisno muncul pada Sabtu (1/8/2026) di sebuah kos di Depok. “Dua minggu yang lalu kami dapat info Trisno pusing, kepala terasa berat,” ungkap Sandy dengan nada yang masih terasa berat.
Selama beberapa bulan terakhir, Trisno memang tampak kurang “fresh”. Ia jarang mengeluh, namun keluhan pusing itu terus berulang. “Dia memang tipe yang enggak mau periksa ke dokter, semua dirasain sendiri,” kata Sandy. Kekhawatiran tim makin memuncak ketika kaki Trisno mulai bengkak, tanda yang biasanya menandakan masalah pada ginjal atau hati.
“Kami sudah berkali‑kali ingetin dia untuk cek ginjal, apalagi ayah saya dulu meninggal karena masalah yang sama,” ujar Sandy sambil mengingatkan momen di belakang panggung. Akhirnya, setelah tekanan terus‑menerus, Trisno setuju dibawa ke rumah sakit dua minggu sebelum kepergiannya. Hasilnya? Fungsi ginjal tinggal 5% – sebuah angka yang menandakan kegagalan organ yang hampir total.
Meski tim medis berusaha sekuat tenaga, Trisno tak dapat melawan takdir. Pada pukul 14.47 WIB, ia mengucapkan selamat tinggal kepada dunia musik yang selama ini ia warnai dengan alunan bass yang khas.
Analisis Pakar
Kasus Trisno menyoroti betapa pentingnya preventive health care di kalangan musisi. Seringkali, para seniman terjebak dalam ritme kerja yang padat, menunda pemeriksaan rutin demi menutup jadwal tur atau rekaman. Padahal, gejala‑gejala ringan seperti pusing atau pembengkakan kaki bisa menjadi sinyal bahaya yang harus segera direspons.
Dari perspektif medis, gagal ginjal pada usia relatif muda biasanya berakar pada faktor risiko yang tidak terdeteksi: hipertensi, diabetes, atau penggunaan obat-obatan yang berpotensi nefrotoksik. Tanpa skrining berkala, kerusakan ginjal dapat berkembang perlahan hingga mencapai stadium akhir, seperti yang dialami Trisno.
Secara sosial‑kultural, tragedi ini juga mengingatkan industri musik Indonesia untuk lebih peduli pada kesejahteraan artis. Lembaga manajemen dan label rekaman sebaiknya menyediakan program kesehatan rutin, termasuk cek laboratorium dan konsultasi psikologis. Kesehatan fisik dan mental saling terkait; stres berkepanjangan dapat memperparah kondisi kronis.
Terakhir, peran teman sejati seperti Sandy sangat krusial. Tekanan persahabatan yang mengingatkan untuk “cek ginjal” memang terasa mengganggu, namun dalam banyak kasus, itulah yang menjadi penyelamat. Edukasi publik tentang pentingnya deteksi dini harus dimulai dari lingkungan terdekat, bukan menunggu gejala parah muncul.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa penyebab utama gagal ginjal pada musisi seperti Trisno?
A: Faktor utama meliputi hipertensi, diabetes, penggunaan obat berisiko, serta kurangnya pemeriksaan kesehatan rutin. - Q: Bagaimana cara mengenali gejala awal gagal ginjal?
A: Gejala awal meliputi pusing, pembengkakan pada kaki atau pergelangan, kelelahan, dan perubahan warna urine. - Q: Apa yang bisa dilakukan rekan band untuk membantu anggota yang sakit?
A: Mengingatkan secara lembut untuk cek kesehatan, menyediakan dukungan emosional, dan membantu mengatur jadwal medis serta istirahat yang cukup.


