Mengenang Nasirun: Sang Maestro Tanpa HP yang Tetap Mengguncang Dunia Seni!
Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Ringkasan Singkat
- Nasirun, pelukis legendaris Indonesia, meninggal dunia pada 1 Agustus 2024.
- Ia dikenal hidup tanpa telepon genggam, tetap relevan dan bebas dari algoritma media sosial.
- Rekanârekan seni mengingatnya sebagai guru, sahabat, dan sumber inspirasi yang tak pernah lekang.
Berita duka datang dari Nasirun, maestro seni rupa Indonesia yang baru saja berpulang pada Sabtu, 1 Agustus pagi. Meski tak lagi hadir secara fisik, kenangan tentang hidupnya yang sederhanaâtanpa handphoneâmasih menggelora di hati sahabat, seniman, dan budayawan.
Marzuki Mohamad, alias Kill the DJ dan pendiri Jogja Hip Hop Foundation (JHF), mengingat Nasirun sebagai âteman sekaligus guruâ yang selalu mengocok perut dengan candaan. Ia menekankan, âPak Nasirun nggak mau terpenjara dengan hal semacam itu. Dan karyaâkaryanya tetap kontekstual, meski tidak terperangkap algoritma media sosial.â
Sementara itu, sastrawan dan budayawan Gabriel Possenti Sindhunata (Romo Sindhu) menambahkan bahwa kebebasan Nasirun bukan sekadar menolak gadget, melainkan menolak segala belenggu yang menghalangi kreativitas. âDia memang orang bebas, tidak mau terikat oleh apapun, bahkan teknologi sekalipun,â ujarnya.
Perupa kontemporer Jumaldi Alfi Chaniago menuturkan, Nasirun selalu memperlakukan semua seniman setara, dari pameran internasional hingga pameran âRT antar gangâ. âDia tetap datang, walau hanya di gang sebelah,â candanya.
Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta, Mikke Susanto, mengaku Nasirun memberi kepercayaan diri pada generasi muda yang masih diragukan orang tua mereka. âDia membuat saya percaya bahwa seni bisa jadi jalan hidup,â katanya.
Nasirun wafat setelah mengeluhkan sesak napas di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta. Jenazahnya akan dimakamkan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri, Bantul.
Lahir di Cilacap pada 1965, ia menamatkan pendidikan di ISI Yogyakarta dan menorehkan jejak di pameran dalam dan luar negeri dengan gaya ekspresif yang memadukan simbol, kaligrafi, dan unsur budaya Jawa. Relasinya yang luas meliputi seniman, kolektor, hingga tokoh politik.
Analisis Pakar
Kepergian Nasirun bukan sekadar kehilangan satu nama besar dalam seni rupa Indonesia, melainkan sebuah peringatan tentang nilai autentisitas di era digital. Di tengah maraknya seniman yang terjebak dalam âalgoritma viralâ, Nasirun menunjukkan bahwa kekuatan karya tidak bergantung pada likes atau followers, melainkan pada kedalaman makna dan keberanian menolak konformitas.
Keputusan hidup tanpa handphone bukan sekadar aksi antiâteknologi; ia adalah manifestasi filosofi bahwa seni harus menjadi ruang kebebasan, bukan arena kompetisi statistik. Dengan menolak âpenjaraâ digital, Nasirun membuka ruang bagi seniman muda untuk mengeksplorasi bahasa visual yang lebih personal dan terhubung langsung dengan komunitas, bukan sekadar platform.
Namun, ada sisi gelap yang perlu diwaspadai. Tanpa akses ke jaringan digital, seorang seniman berisiko terisolasi dari pasar global yang kini sangat bergantung pada jaringan online. Nasirun berhasil menyeimbangkan keduanya karena reputasinya yang sudah terbangun lama. Bagi generasi baru, tantangannya adalah menemukan cara memanfaatkan teknologi tanpa menjadi budak algoritmaâsebuah digital minimalism yang produktif.
Secara keseluruhan, warisan Nasirun mengajarkan bahwa integritas artistik dapat bertahan meski dunia berputar cepat. Ia menegaskan bahwa seni yang berakar pada budaya lokalâseperti penggunaan kaligrafi Jawa dalam lukisanâadalah jembatan kuat menuju apresiasi internasional. Kita harus terus menghidupkan semangatnya: berkarya dengan hati, bukan dengan hitâcounter.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan dan di mana Nasirun meninggal?
- A: Nasirun wafat pada Sabtu, 1 Agustus 2024, sekitar pukul 05.00 WIB di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta.
- Q: Mengapa Nasirun menolak menggunakan handphone?
- A: Ia percaya bahwa ketergantungan pada gadget dapat mengurung kreativitas dan membuat seniman terperangkap dalam algoritma media sosial.
- Q: Di mana jenazah Nasirun akan dimakamkan?
- A: Jenazahnya akan dimakamkan di Taman Makam Seniman dan Budayawan Giri Sapto, Imogiri, Bantul.


