Harga Kakao Melambung 37%: El Nino Guncang Pasokan Afrika Barat

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Harga Kakao Melambung 37%: El Nino Guncang Pasokan Afrika Barat
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Harga referensi (HR) biji kakao naik 36,66% menjadi US$5.424,96/MT untuk Agustus 2026.
  • Harga patokan ekspor (HPE) kakao juga naik 38,90% menjadi US$5.064/MT, dipicu gangguan pasokan di Afrika Barat.
  • Bea keluar dan pungutan ekspor tetap 7,5%, sementara harga kayu dan produk lain menunjukkan pola naik‑turun yang beragam.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) mengumumkan kenaikan tajam harga referensi (HR) dan harga patokan ekspor (HPE) biji kakao untuk periode 1‑31 Agustus 2026. Tommy Andana, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, menjelaskan bahwa HR kini berada di level US$5.424,96 per metrik ton (MT), naik US$1.455,41 atau 36,66% dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara HPE tercatat US$5.064 per MT, meningkat US$1.418 atau 38,90%.

Peningkatan ini tidak terjadi dalam ruang kosong. El Nino memperparah kondisi cuaca buruk, serangan hama, dan penurunan produksi di negara‑negara produsen utama Afrika Barat. Kombinasi faktor‑faktor tersebut menimbulkan gangguan pasokan yang signifikan, memaksa pasar global menyesuaikan harga.

Sejalan dengan penetapan HR dan HPE, Kemendag menetapkan bea keluar (BK) dan pungutan ekspor (PE) biji kakao masing‑masing sebesar 7,5% untuk periode yang sama, mengacu pada PMK No. 38/2024 yang telah diubah oleh PMK No. 68/2025 dan PMK No. 69/2025 yang diubah oleh PMK No. 9/2026.

Sementara itu, HPE produk kulit tetap stabil, dan HPE getah pinus naik tipis 1,10% menjadi US$1.013 per MT. Produk kayu menunjukkan pola yang beragam: veneer dari hutan alam dan kayu olahan berukuran 1.000‑4.000 mm² naik, namun veneer hutan tanaman, wooden sheet, serta kayu olahan meranti, merbau, dan eboni turun.

Analisis Pakar

Lonjakan harga kakao di atas 30% dalam satu bulan merupakan sinyal kuat bahwa pasar komoditas ini sedang berada dalam fase *supply shock* yang dipicu oleh faktor iklim. El Nino, yang biasanya meningkatkan suhu dan mengurangi curah hujan, secara langsung memengaruhi produktivitas kebun kakao di wilayah tropis Afrika Barat—daerah yang menyumbang lebih dari 70% produksi dunia. Ketika hasil panen menurun, para eksportir harus menyesuaikan harga untuk menutupi biaya produksi yang lebih tinggi serta menyeimbangkan permintaan global yang tetap kuat, terutama dari industri makanan dan minuman.

Dampak kenaikan harga ini tidak hanya dirasakan oleh petani dan eksportir, tetapi juga oleh produsen barang olahan di Indonesia. Industri coklat lokal akan menghadapi tekanan margin yang signifikan, memaksa mereka untuk meninjau kembali strategi harga, diversifikasi bahan baku, atau bahkan beralih ke sumber alternatif seperti kakao dari Amerika Latin yang relatif lebih stabil. Bagi investor, kenaikan HR dan HPE membuka peluang spekulatif pada kontrak berjangka kakao, namun juga menambah risiko volatilitas yang harus dikelola dengan hedging yang tepat.

Penting juga untuk mencermati kebijakan bea keluar dan pungutan ekspor yang tetap pada 7,5%. Kebijakan ini mencerminkan upaya pemerintah menjaga pendapatan negara dari komoditas strategis, namun dapat menambah beban biaya bagi eksportir. Jika tren kenaikan harga berlanjut, ada kemungkinan pemerintah akan meninjau kembali tarif tersebut untuk menghindari penurunan daya saing di pasar internasional.

Secara keseluruhan, situasi ini menegaskan perlunya strategi manajemen risiko yang terintegrasi—baik bagi petani, eksportir, maupun produsen akhir. Diversifikasi sumber, investasi pada teknologi pertanian yang tahan iklim, serta penggunaan instrumen keuangan derivatif menjadi kunci untuk mengurangi dampak fluktuasi harga yang dipicu oleh fenomena iklim ekstrem seperti El Nino.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa harga kakao naik begitu tinggi pada Agustus 2026?
    A: Kenaikan dipicu oleh gangguan pasokan di Afrika Barat akibat El Nino, serangan hama, dan cuaca buruk, yang menyebabkan penurunan produksi dan meningkatkan harga referensi serta patokan ekspor.
  • Q: Apa dampak kenaikan harga kakao bagi industri coklat Indonesia?
    A: Produsen coklat akan menghadapi tekanan margin, kemungkinan kenaikan harga jual produk akhir, dan kebutuhan untuk mencari alternatif bahan baku atau mengimplementasikan strategi hedging.
  • Q: Apakah bea keluar dan pungutan ekspor kakao akan berubah?
    A: Saat ini keduanya tetap pada 7,5% untuk Agustus 2026, namun pemerintah dapat menyesuaikannya jika kondisi pasar terus berfluktuasi.
Meow! Tanya Nesi!
😸