Rabu, 4 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Revolusi atau Kontroversi? Erick Thohir Dukung FIFA Jual Saham Piala Dunia Senilai Rp360 Triliun, UEFA Langsung Meradang!

OlahragaEka SaputraEka SaputraSumber: CNN Olahraga
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Revolusi atau Kontroversi? Erick Thohir Dukung FIFA Jual Saham Piala Dunia Senilai Rp360 Triliun, UEFA Langsung Meradang!
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat FIFA berencana menjual saham Piala Dunia melalui entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) dengan valuasi fantastis mencapai Rp360 triliun.
  • Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mendukung penuh langkah ini demi mengamankan dana segar hingga Rp722 miliar untuk transformasi Timnas Indonesia yang saat ini sedang terbang tinggi.
  • UEFA bersama 55 asosiasi sepak bola Eropa menolak keras rencana ini karena dinilai merusak nilai historis dan integritas kompetisi.

Ringkasan Singkat

  • FIFA berencana menjual saham Piala Dunia melalui entitas baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE) dengan valuasi fantastis mencapai Rp360 triliun.
  • Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mendukung penuh langkah ini demi mengamankan dana segar hingga Rp722 miliar untuk transformasi Timnas Indonesia yang saat ini sedang terbang tinggi.
  • UEFA bersama 55 asosiasi sepak bola Eropa menolak keras rencana ini karena dinilai merusak nilai historis dan integritas kompetisi.

Bung! Jagat sepak bola dunia kembali diguncang oleh manuver bisnis super berani dari Zurich! Presiden FIFA, Gianni Infantino, tengah merancang rencana gila untuk menjual saham Piala Dunia melalui entitas komersial baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE). Perusahaan ini diproyeksikan memiliki valuasi fantastis mencapai US$20 miliar atau setara dengan Rp360 triliun! Langkah mega-bisnis ini langsung memicu pro dan kontra di level global.

Menariknya, Ketua Umum PSSI kita, Erick Thohir, berdiri di barisan terdepan yang mendukung penuh langkah revolusioner ini. Bagi Erick, kehadiran FFE bukan sekadar urusan bisnis, melainkan keran dana segar yang sangat krusial untuk menjaga momentum kebangkitan Timnas Indonesia yang saat ini sedang terbang tinggi.

"Sepak bola Indonesia telah mengalami transformasi luar biasa dalam tiga tahun terakhir, semuanya kini sudah bersih dan transparan," tegas Erick kepada media Inggris, Sky. Erick menambahkan bahwa peringkat FIFA Indonesia yang melesat dari posisi 174 ke 118 membutuhkan sokongan dana yang tidak sedikit untuk terus melaju ke level dunia.

Bayangkan saja, demi memuluskan rencana ini, Infantino menjanjikan guyuran dana hingga US$40 juta (sekitar Rp722,8 miliiar) untuk setiap federasi anggota FIFA! Angka yang sangat menggiurkan untuk negara berkembang yang sedang giat membangun infrastruktur sepak bolanya.

Namun, jalan Infantino tidak semulus itu. Raksasa sepak bola Eropa, UEFA, bersama 55 asosiasi anggotanya langsung memasang badan dan menolak keras rencana ini. Mereka menilai privatisasi Piala Dunia akan merusak tatanan dan nilai historis dari turnamen sepak bola terakbar di bumi ini.

Analisis Pakar

Bung, mari kita bedah secara taktis! Langkah Erick Thohir mendukung Infantino ini adalah langkah geopolitik sepak bola yang sangat cerdas sekaligus berisiko tinggi. Di satu sisi, kita harus realistis: membangun sepak bola modern itu mahal! Dari pembinaan usia muda, teknologi VAR, hingga mendatangkan pelatih kelas dunia, semuanya butuh uang. Jika PSSI bisa mendapatkan kucuran dana segar hingga Rp722 miliar dari FIFA, ini akan menjadi game changer bagi akselerasi prestasi Garuda di kancah internasional. Erick melihat peluang emas ini dan langsung menyambarnya tanpa ragu.

Namun, mengapa UEFA meradang? Ini adalah perang perebutan kekuasaan dan uang antara Eropa dan FIFA. Eropa selama ini mendominasi industri sepak bola lewat Liga Champions dan liga-liga top mereka. Mereka tidak ingin FIFA menjadi terlalu kuat secara finansial dengan menggandeng investor swasta raksasa. Bagi UEFA, menjual saham Piala Dunia ke pihak swasta adalah "dosa besar" yang bisa mengikis kontrol asosiasi terhadap turnamen itu sendiri. Ada ketakutan bahwa investor swasta nantinya akan mendikte jadwal, format, bahkan lokasi pertandingan demi keuntungan semata.

Kita juga harus waspada. Komersialisasi yang terlalu agresif bisa menjadi pisau bermata dua. Jika P

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ