Prabowo Prediksi Konflik Rusia‑Ukraina Bisa Lebih Panjang dari Perang Dunia II: Imbasnya bagi Indonesia
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Presiden Prabowo Subianto memperkirakan perang antara Rusia dan Ukraina dapat berlangsung lebih lama daripada Perang Dunia II.
- Ia menekankan bahwa konflik global yang terus meluas menimbulkan ketidakpastian ekonomi, termasuk kenaikan harga pangan dan BBM di Indonesia.
- Prabowo mengingatkan bahwa perang di kawasan lain, seperti ketegangan antara Iran‑Israel‑AS, belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Jakarta, 31 Juli 2026 – Dalam sambutan yang disampaikan pada pertemuan dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) di Istana Negara, Presiden Prabowo Subianto melontarkan pernyataan kontroversial: konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina berpotensi bertahan lebih lama daripada Perang Dunia II.
Prabowo mengingatkan bahwa Perang Dunia II berlangsung enam tahun, dimulai pada September 1939 dengan invasi Jerman ke Polandia dan berakhir pada Agustus 1945. "Jika perang Ukraina dimulai pada 2022, maka 2022, 2023, 2024, 2025, dan bahkan 2026 masih belum selesai," ujarnya dengan nada tegas.
Presiden menegaskan bahwa dunia kini berada dalam kondisi geopolitik yang sangat rawan. Konflik di Ukraina, menurutnya, telah menelan jutaan korban jiwa dan menimbulkan dampak domino pada ekonomi global. "Peperangan di satu sudut bumi tidak dapat dipisahkan dari konsekuensi bagi Indonesia, mulai dari harga pangan, BBM, hingga stabilitas nilai tukar," kata Prabowo.
Selain Ukraina, Prabowo menyoroti ketegangan yang terus memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa hingga kini belum ada titik terang yang terlihat, dan konflik‑konflik tersebut memperparah ketidakpastian yang dirasakan oleh pelaku usaha dan konsumen di dalam negeri.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat pernyataan Prabowo bukan sekadar prediksi teknis, melainkan sebuah sinyal politik. Membandingkan durasi konflik Ukraina dengan Perang Dunia II—sebuah tragedi yang menelan lebih dari 70 juta jiwa—bisa dianggap berlebihan dan berpotensi menimbulkan kepanikan. Secara historis, Perang Dunia II melibatkan hampir seluruh kekuatan besar, dengan front yang meluas di Eropa, Asia, Afrika, dan Samudra Pasifik. Sementara konflik Rusia‑Ukraina, meski brutal, masih terfokus pada wilayah geografis yang lebih terbatas.
Analisis militer menunjukkan bahwa faktor-faktor kunci—seperti kemampuan logistik, dukungan internasional, dan kelelahan perang—bisa memperpendek atau memperpanjang durasi konflik. Saat ini, Ukraina menerima bantuan senjata dan ekonomi yang signifikan dari NATO, sementara Rusia menghadapi sanksi ekonomi yang menekan. Kedua sisi memiliki kepentingan yang kuat untuk mengakhiri pertempuran, meski tidak dalam jangka waktu yang singkat.
Dari perspektif ekonomi, pernyataan Prabowo tentang dampak pada harga pangan dan BBM memang memiliki dasar. Konflik di Eropa Timur mengganggu rantai pasokan gandum, minyak, dan energi, yang pada gilirannya memengaruhi inflasi di negara‑negara berkembang, termasuk Indonesia. Namun, mengaitkan semua tekanan inflasi secara eksklusif pada perang Ukraina mengabaikan faktor domestik seperti kebijakan moneter, subsidi energi, dan fluktuasi nilai tukar rupiah.
Terakhir, penting untuk menilai motif politik di balik pernyataan ini. Pada masa pemilihan umum mendatang, menonjolkan ancaman eksternal dapat menjadi taktik untuk menggalang dukungan nasionalis. Namun, pemimpin negara harus berhati‑hati agar tidak mengubah isu keamanan menjadi alat kampanye yang menimbulkan ketakutan berlebihan di masyarakat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apakah benar perang Rusia‑Ukraina bisa lebih lama dari Perang Dunia II?
A: Secara historis tidak ada bukti kuat; durasi konflik tergantung pada banyak faktor militer, politik, dan ekonomi yang masih berubah. - Q: Bagaimana konflik Ukraina memengaruhi harga pangan di Indonesia?
A: Gangguan pasokan gandum dari wilayah konflik dapat menaikkan harga beras dan roti, namun inflasi juga dipengaruhi oleh kebijakan domestik. - Q: Apa hubungan antara ketegangan Iran‑Israel‑AS dengan situasi ekonomi Indonesia?
A: Ketegangan tersebut dapat memicu fluktuasi harga minyak dunia, yang pada gilirannya memengaruhi subsidi BBM dan biaya transportasi di Indonesia.


