Pertamina & Jabar Luncurkan Hidrogen Rendah Karbon dari Sampah: Model Bisnis Energi Bersih yang Bisa Direplikasi Nasional
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Kerja sama antara Pertamina dan Pemerintah Provinsi JawaBarat akan mengubah sampah menjadi hidrogen rendah karbon, biomethane, dan biofuel.
- Proyek di TPA Sarimukti dan Legok Nangka direncanakan menghasilkan biogas, hidrogen, serta listrik 40āÆMW, sekaligus menciptakan ribuan lapangan kerja.
- Kolaborasi melibatkan subholding PNRE, Subholding Gas, serta mitra internasional Hyundai, dengan tujuan menjadi model percontohan yang dapat direplikasi di seluruh Indonesia.
Dalam upaya mempercepat transisi energi bersih, Pertamina menandatangani MoU dengan Pemerintah Provinsi JawaBarat pada 29 Juli di Bandung. Kesepakatan ini mencakup pengembangan ekosistem hidrogen terintegrasi yang memanfaatkan sampah sebagai feedstock utama, sekaligus mengatasi permasalahan pengelolaan limbah di wilayah Bandung Raya.
Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha Emma Sri Martini menegaskan fokus utama pada TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat. Sampah yang diolah akan menghasilkan biogas, kemudian dipurifikasi menjadi biomethane dan selanjutnya diākonversi menjadi hidrogen melalui proses reformasi metana. Seluruh rantai nilai ā dari penyediaan feedstock, pengolahan, pembangunan infrastruktur, hingga distribusi ā akan dikelola oleh Subholding Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) dan Subholding Gas.
Kolaborasi ini juga melibatkan mitra internasional, termasuk Hyundai dari Korea Selatan, yang akan mempercepat transfer teknologi lowācarbon. Bagi Pertamina, proyek ini bukan sekadar inisiatif lingkungan, melainkan peluang bisnis baru yang dapat membuka pasar hidrogen domestik dan ekspor.
Seiring dengan penandatanganan, Pemprov Jawa Barat meresmikan groundbreaking proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPPAS Legok Nangka. Fasilitas berkapasitas 40āÆMW ini dirancang untuk mengolah 2.000 ton sampah per hari, sekaligus menjadi sumber bahan baku bagi produksi hidrogen dan biomethane. Target operasional ditetapkan pada 2029, dengan estimasi penciptaan 1.500 lapangan kerja langsung.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menilai proyek ini sebagai langkah strategis dalam mempercepat penyediaan energi bersih sekaligus mengurangi beban TPA Sarimukti. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menambahkan bahwa keberhasilan PSEL Legok Nangka akan memperkuat posisi provinsi sebagai pusat energi bersih terbesar di Indonesia, dan membuka peluang replikasi di wilayah lain.
Analisis Pakar
Secara makroekonomi, inisiatif ini menandai pergeseran paradigma dari model energi berbasis fosil ke ekonomi sirkular yang memanfaatkan limbah sebagai aset produktif. Dengan mengintegrasikan rantai nilai wasteātoāenergy, Pertamina tidak hanya menurunkan emisi COā, tetapi juga mengamankan pasokan bahan baku yang relatif stabil dan murah dibandingkan gas alam impor. Hal ini dapat meningkatkan margin operasional pada unit hidrogen, yang selama ini terhambat oleh volatilitas harga gas.
Dari perspektif bisnis, kolaborasi lintas sektorāantara BUMN energi, pemerintah daerah, dan pemain internasionalāmenciptakan ekosistem inovasi yang mempercepat komersialisasi teknologi. Keterlibatan Hyundai memberi akses pada teknologi reformasi metana tingkat tinggi serta standar keamanan yang diperlukan untuk skala komersial. Jika model ini berhasil, Pertamina dapat memposisikan diri sebagai eksportir hidrogen rendah karbon ke pasar AsiaāPasifik, khususnya Jepang dan Korea Selatan yang tengah mengintensifkan kebijakan dekarbonisasi.
Namun, tantangan utama tetap pada regulasi dan mekanisme pendanaan. Pemerintah perlu menyusun insentif fiskal yang memadaiāmisalnya kredit pajak karbon atau tarif feedāin untuk listrik berbasis sampahāagar proyek dapat mencapai tingkat pengembalian investasi (IRR) yang menarik bagi investor swasta. Selain itu, keberlanjutan operasional bergantung pada kualitas dan konsistensi aliran sampah, yang memerlukan sistem pengelolaan limbah terintegrasi di tingkat kota.
Jika semua faktor ini dapat dikelola dengan baik, model Jawa Barat berpotensi menjadi blueprint nasional. Replikasi di provinsi lain akan menambah kapasitas produksi hidrogen Indonesia secara signifikan, memperkuat posisi negara dalam rantai nilai energi bersih global, dan sekaligus mengurangi beban lingkungan dari penumpukan sampah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Bagaimana proses sampah diubah menjadi hidrogen?
- A: Sampah diolah menjadi biogas melalui proses anaerobik, kemudian biogas dipurifikasi menjadi biomethane. Biomethane selanjutnya direformasi menjadi hidrogen melalui teknologi reformasi metana.
- Q: Berapa kapasitas listrik yang akan dihasilkan oleh PSEL Legok Nangka?
- A: Fasilitas direncanakan menghasilkan sekitar 40āÆMW listrik, dengan kemampuan mengolah 2.000 ton sampah per hari.
- Q: Kapan proyek hidrogen berbasis sampah di Jawa Barat diperkirakan mulai beroperasi?
- A: Target operasional awal untuk fasilitas PSEL Legok Nangka adalah tahun 2029; fase pilot produksi hidrogen diperkirakan akan dimulai beberapa tahun setelah itu, tergantung pada penyelesaian infrastruktur.


