Bukan Sekadar Ritus Budaya: Bagaimana Tradisi Sebar Apem Yaaqawiyyu Klaten Putar Roda Ekonomi Akar Rumput
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Tradisi Grebeg Ageng Apem Yaaqawiyyu di Jatinom, Klaten, sukses menarik sekitar 50.000 pengunjung dan menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang signifikan.
- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya pelestarian budaya yang sekaligus memberikan dampak ekonomi riil bagi pelaku UMKM dan sektor jasa informal.
- Perputaran ekonomi terlihat nyata dari konsumsi 6 hingga 7 ton kue apem serta lonjakan pendapatan pedagang kaki lima, penyedia transportasi, dan jasa parkir.
Di tengah tantangan ketidakpastian ekonomi global, motor penggerak ekonomi domestik sering kali datang dari arah yang tidak terduga: tradisi lokal. Gelaran tahunan Grebeg Ageng Andum Apem Yaaqawiyyu di Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, membuktikan bahwa warisan budaya berusia ratusan tahun mampu menjadi stimulus riil bagi sektor riil akar rumput.
Acara puncak yang berlangsung pada Jumat (31/7) ini dihadiri langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto. Kehadiran tokoh kunci kebijakan ekonomi nasional ini menegaskan bahwa acara keagamaan dan budaya bukan lagi sekadar ritus spiritual, melainkan instrumen penting dalam menjaga daya beli masyarakat daerah.
Tahun ini, tradisi penyebaran kue apem yang diinisiasi oleh ulama besar Kiai Ageng Gribig mengusung tema 'Ingaluhur Rinasa Trusthaning Gusti'. Namun, di balik pesan spiritual tentang ketawakalan dan kerendahan hati, terdapat angka-angka ekonomi yang sangat menarik untuk dibedah.
Estimasi kunjungan mencapai 50.000 orang dalam satu hari puncak acara. Bagi para pelaku ekonomi lokal, ini adalah 'panen raya'. Bayangkan saja, total kue apem yang diproduksi dan disebarkan mencapai 6 hingga 7 ton. Ini bukan jumlah yang sedikit; ini merepresentasikan rantai pasok (supply chain) mikro yang bergerak aktifāmulai dari petani beras, produsen tepung, peternak kelapa, hingga para pembuat kue apem rumahan yang kebanjiran pesanan.
Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, mengonfirmasi efek domino (multiplier effect) dari festival ini. Sektor jasa informal seperti juru parkir, transportasi lokal, warung makan, hingga pedagang kaki lima (PKL) mengalami lonjakan omzet yang signifikan selama sepekan rangkaian acara berlangsung.
Analisis Pakar
Sebagai seorang ekonom, saya melihat Grebeg Yaaqawiyyu ini sebagai contoh klasik dari cultural-driven economy atau ekonomi berbasis budaya yang sangat efektif. Di saat pemerintah pusat sibuk merumuskan insentif fiskal untuk menjaga konsumsi rumah tangga, festival semacam ini justru bekerja secara organik di tingkat akar rumput. Perputaran uang dari puluhan ribu pengunjung dalam waktu singkat menciptakan velocity of money (kecepatan perputaran uang) yang tinggi di Klaten. Ini adalah stimulus ekonomi tanpa beban APBD yang sangat efisien.
Mari kita bedah angka 6-7 ton apem tersebut. Angka ini bukan sekadar statistik konsumsi, melainkan indikator hidupnya rantai pasok lokal. Ada permintaan agregat yang melonjak tajam untuk bahan baku seperti tepung beras, gula, dan kelapa. UMKM kuliner lokal yang biasanya beroperasi dengan skala terbatas, dipaksa untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Ini memberikan pengalaman scaling up bisnis yang berharga bagi mereka, sekaligus meningkatkan inklusi keuangan di tingkat desa.
Namun, tantangan terbesar dari event musiman seperti ini adalah keberlanjutannya (sustainability). Bagaimana agar dampak ekonomi ini tidak menguap begitu saja setelah festival berakhir? Pemerintah daerah Klaten harus mulai berpikir untuk menginstitusionalkan dampak ekonomi ini. Misalnya, dengan mengintegrasikan klaster perajin apem Jatinom ke dalam ekosistem pariwisata digital atau menjadikannya pusat oleh-oleh khas yang konsisten sepanjang tahun, bukan hanya saat bulan Sapar.
Secara makro, Indonesia memiliki ribuan festival serupa yang tersebar di berbagai daerah. Jika potensi ini dikelola dengan manajemen pariwisata yang profesionalādidukung infrastruktur aksesibilitas dan digitalisasi pembayaran (seperti QRIS)āmaka sektor pariwisata berbasis budaya ini bisa menjadi pilar kokoh penopang pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5%. Ini adalah bukti nyata bahwa kekuatan ekonomi kita sesungguhnya ada pada keunikan domestik kita sendiri.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa itu tradisi Grebeg Ageng Andum Apem Yaaqawiyyu?
A: Tradisi tahunan penyebaran kue apem di Jatinom, Klaten, yang diinisiasi oleh ulama besar Kiai Ageng Gribig sebagai metode dakwah Islam, yang kini juga berfungsi sebagai penggerak ekonomi lokal.
Q: Bagaimana dampak ekonomi dari festival Yaaqawiyyu di Klaten?
A: Festival ini menciptakan multiplier effect yang besar, meningkatkan pendapatan UMKM, menyerap 6-7 ton bahan baku kue apem, serta menghidupkan sektor jasa informal seperti parkir, transportasi, dan kuliner lokal.
Q: Siapa tokoh nasional yang hadir dalam acara Grebeg Yaaqawiyyu ini?
A: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang hadir sekaligus sebagai perwakilan keluarga besar dzurriyah (keturunan) Kiai Ageng Gribig.

