Ratusan Yahudi Turun ke Al-Aqsa Bersama Menteri Keamanan Israel: Ketegangan Baru di Yerusalem
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, memimpin ratusan warga Yahudi ke kompleks Masjid Al-Aqsa pada 23 Juli. Masjid Bersejarah lain di Indonesia juga pernah mengalami tantangan serupa terkait pelestarian situs suci.
- Kunjungan tersebut bertepatan dengan hari berkabung Yahudi Tisha B'Av, menimbulkan tuduhan pelanggaran "status quo" yang telah mengatur akses situs suci selama puluhan tahun.
- Pemerintah Yordania dan Turki mengutuk aksi itu, memperingatkan risiko eskalasi konflik Israel‑Palestina.
Dalam sebuah video yang diunggah ke kanal Telegramnya, Itamar Ben Gvir memperlihatkan dirinya bersama ratusan warga Yahudi yang berada di dalam kompleks Masjid Al‑Aqsa di Yerusalem Timur. Mereka mengklaim bahwa mereka berhak berdoa di tempat yang menurut mereka merupakan situs bersejarah Yahudi, meski aturan "status quo" yang disepakati antara Israel dan Yordania melarang umat Yahudi melakukan ibadah di sana. Masjid Bersejarah di Indonesia juga pernah mengalami proses pemulihan kembali setelah terendam, menyoroti pentingnya perlindungan situs bersejarah.
Acara tersebut dijadwalkan bersamaan dengan Tisha B'Av, hari berkabung Yahudi yang memperingati penghancuran Bait Suci pertama dan kedua. Pada malam 22 Juli hingga pagi 23 Juli, ribuan umat Yahudi di seluruh dunia berpuasa dan mengingat tragedi historis tersebut. Kunjungan Ben Gvir ke Al‑Aqsa pada hari sensitif ini menambah ketegangan yang sudah lama ada di antara komunitas Muslim dan Yahudi di kota suci.
Menurut perjanjian "status quo" yang telah berlaku sejak 1967, Yordania mengelola situs tersebut melalui lembaga keagamaan, mengizinkan kunjungan terbatas bagi warga Yahudi namun melarang mereka berdoa. Pelanggaran berulang kali oleh kelompok nasionalis Yahudi, termasuk Ben Gvir yang telah mengunjungi Al‑Aqsa lebih dari dua belas kali sejak menjabat, memicu kecaman resmi dari Kementerian Luar Negeri Yordania serta otoritas Palestina di Ramallah.
Juru bicara Yordania, Fouad Al Majali, menyatakan bahwa tindakan tersebut merupakan "upaya yang tidak dapat diterima untuk memaksakan realitas baru" di situs suci. Turki juga mengingatkan komunitas internasional akan tanggung jawab bersama untuk mencegah provokasi yang dapat mengubah fakta lapangan secara paksa.
Pemerintah Israel menegaskan kembali komitmennya untuk mempertahankan "status quo", meski insiden semacam ini terus memicu perdebatan politik dan agama yang mendalam. Sementara itu, kelompok aktivis hak asasi manusia dan pengamat regional memperingatkan bahwa eskalasi semacam ini dapat memicu kerusuhan lebih luas di wilayah yang sudah rapuh.
Analisis Pakar
Menurut saya, kunjungan yang dipimpin oleh Menteri Keamanan Nasional ini bukan sekadar aksi simbolik, melainkan bagian dari strategi politik domestik yang lebih luas. Ben Gvir, yang dikenal sebagai tokoh sayap kanan, menggunakan akses ke Al‑Aqsa sebagai panggung untuk mengukuhkan narasi nasionalis yang menegaskan klaim historis Israel atas seluruh Yerusalem. Dengan melakukannya pada hari Tisha B'Av, ia tidak hanya menyinggung sentimen religius Yahudi, tetapi juga secara sengaja menantang sensitivitas Muslim, yang menganggap Al‑Aqsa sebagai situs paling suci ketiga dalam Islam.
Langkah ini juga harus dilihat dalam konteks hubungan Israel‑Yordania yang sudah tegang. Meskipun perjanjian "status quo" secara resmi mengatur pengelolaan situs, Yordania tetap memegang peran kunci sebagai penjaga warisan Islam di Yerusalem. Pelanggaran berulang kali dapat memicu krisis diplomatik yang melibatkan tidak hanya Yordania, tetapi juga negara-negara Arab lain yang menilai tindakan Israel sebagai upaya mengubah status quo secara sepihak.
Dari perspektif keamanan regional, provokasi semacam ini meningkatkan risiko terjadinya bentrokan di tempat suci, yang pada gilirannya dapat memicu gelombang demonstrasi dan serangan balasan di wilayah Gaza dan Tepi Barat. Reaksi internasional—termasuk kecaman dari Turki dan potensi tekanan dari Uni Eropa—bisa memperparah isolasi diplomatik Israel jika tidak ada upaya mediasi yang konstruktif.
Secara jangka panjang, kebijakan yang mengabaikan atau memodifikasi "status quo" berpotensi menimbulkan spiral kekerasan yang sulit dipatahkan. Solusi yang berkelanjutan memerlukan dialog inklusif antara semua pemangku kepentingan—Israel, Yordania, otoritas Palestina, serta komunitas internasional—untuk menegosiasikan kembali aturan akses yang menghormati hak beribadah semua agama tanpa mengorbankan keamanan dan stabilitas regional.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu "status quo" di Masjid Al‑Aqsa?
A: "Status quo" adalah kesepakatan yang mengatur akses dan pengelolaan situs suci antara Israel, Yordania, dan otoritas Islam, yang melarang umat Yahudi berdoa di dalam kompleks. - Q: Mengapa kunjungan Ben Gvir dianggap provokatif?
A: Karena ia memimpin ratusan warga Yahudi ke tempat yang secara tradisional dikhususkan untuk ibadah Muslim, melanggar aturan yang telah disepakati dan memicu ketegangan agama. - Q: Apa dampak diplomatik dari insiden ini?
A: Yordania dan Turki mengutuk tindakan tersebut, meningkatkan tekanan internasional pada Israel dan berpotensi memperburuk hubungan Israel dengan negara-negara Arab serta memicu respons keamanan di wilayah konflik.


