Mengapa Azerbaijan, Negara Mayoritas Syiah, Diam-diam Bekerjasama dengan Israel dalam Konflik Iran?

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Mengapa Azerbaijan, Negara Mayoritas Syiah, Diam-diam Bekerjasama dengan Israel dalam Konflik Iran?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Azerbaijan dilaporkan memberi izin bagi pasukan dan unit khusus Israel beroperasi di wilayah perbatasan selatan negara itu.
  • Kerjasama militer dan intelijen ini memberi Israel posisi strategis untuk mengawasi wilayah utara Iran.
  • Hubungan ekonomi, energi, dan pertahanan antara Azerbaijan dan Israel telah berkembang selama tiga dekade, meski mayoritas penduduknya beragama Syiah.

Keberadaan pasukan Israel di wilayah Azerbaijan menimbulkan pertanyaan geopolitik yang serupa dengan ketegangan di Selat Hormuz.

Menurut laporan investigatif yang dipublikasikan oleh CNN, Azerbaijan telah menampung pasukan Israel di wilayah selatan yang berbatasan langsung dengan Iran. Unit komando khusus tersebut dikabarkan melakukan misi pengumpulan intelijen serta operasi drone, memberikan Israel kemampuan pengawasan yang jaraknya kurang dari 100 kilometer dari kota Tabriz di Iran.

Klaim Iran mengenai negosiasi damai menambah kompleksitas dinamika regional.

Kerjasama ini muncul dalam konteks hubungan bilateral yang telah lama terjalin. Sejak awal 1990-an, Azerbaijan menjadi pemasok energi penting bagi Israel, dengan sekitar 50 % produksi minyaknya dialokasikan untuk pasar Israel sebelum konflik Gaza 2023. Di samping itu, Azerbaijan menjadi pembeli utama peralatan militer Israel; hampir 70 % impor senjata negara itu berasal dari Israel.

Kerjasama pertahanan ini juga terlihat dalam konflik Nagorno Karabakh. Pada 2023, Israel dilaporkan menyediakan persenjataan canggih kepada Azerbaijan menjelang serangan militer yang berhasil merebut kembali wilayah tersebut dari kontrol Armenia. Data pelacakan penerbangan menunjukkan pesawat kargo militer Azerbaijan berulang kali terbang antara pangkalan di Israel dan bandara dekat Nagorno Karabakh.

Para pengamat menilai bahwa kedekatan strategis ini tidak semata‑mata didorong oleh kepentingan ekonomi, melainkan juga oleh kebutuhan keamanan regional. Azerbaijan melihat Israel sebagai mitra teknologi militer yang dapat menyeimbangkan tekanan dari Iran dan Armenia, sementara Israel memperoleh jalur logistik dan intelijen yang jarang tersedia di kawasan Timur Tengah.

Analisis Pakar

Menurut Mordechai Kedar, peneliti senior di Pusat Studi Strategis Begin‑Sadat, hubungan Azerbaijan‑Israel mencerminkan dinamika ā€œrealpolitikā€ yang mengesampingkan identitas sektarian. Kedar menekankan bahwa meski mayoritas penduduk Azerbaijan beragama Syiah, kebijakan luar negeri negara itu lebih dipengaruhi oleh kebutuhan keamanan energi dan militer daripada solidaritas ideologis dengan Iran.

Sejarawan politik Timur Tengah, Joseph Epstein, menambahkan bahwa pertemuan rahasia antara Yitzhak Rabin dan Heydar Aliyev pada awal 1990‑an menandai titik balik: kedua pemimpin menyepakati pertukaran sumber daya strategis—minyak bagi Israel dan sistem pertahanan bagi Azerbaijan. Kesepakatan ini telah bertransformasi menjadi jaringan kerjasama yang meliputi intelijen, teknologi drone, dan dukungan logistik dalam konflik regional.

Dari perspektif geopolitik, peran Azerbaijan sebagai ā€œjembatanā€ antara Israel dan Turki menambah dimensi strategis. Kedua negara tersebut, masing‑masing sekutu utama Israel dan Turki, dapat memanfaatkan Azerbaijan untuk memperluas pengaruh mereka di wilayah Kaukasus dan Laut Kaspia.

Namun, kerjasama ini menimbulkan risiko diplomatik. Jika terungkap secara luas, keterlibatan Israel di wilayah perbatasan Azerbaijan dapat memicu respons keras dari Iran dan memperburuk ketegangan di kawasan. Selain itu, persepsi publik Muslim global yang menyoroti konflik Gaza dapat menambah tekanan pada pemerintah Azerbaijan untuk menyeimbangkan antara kepentingan strategis dan tekanan ideologis.

Kondisi ini mengingatkan pada peristiwa ketegangan yang dapat meningkat, berpotensi memicu konfrontasi militer atau diplomatik lebih luas.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah Azerbaijan secara resmi mengakui keberadaan pasukan Israel di wilayahnya?
  • A: Hingga kini tidak ada pernyataan resmi; laporan tersebut berasal dari sumber anonim dan investigasi media.
  • Q: Bagaimana hubungan ekonomi antara Azerbaijan dan Israel memengaruhi kebijakan luar negeri mereka?
  • A: Kedua negara saling bergantung pada energi dan pertahanan; perdagangan minyak dan impor senjata menjadi pilar utama yang mendorong kerjasama strategis.
  • Q: Apa implikasi kerjasama ini bagi keamanan regional, khususnya dengan Iran?
  • A: Jika Iran menanggapi kehadiran militer Israel di perbatasan Azerbaijan, ketegangan dapat meningkat, berpotensi memicu konfrontasi militer atau diplomatik lebih luas.
Meow! Tanya Nesi!
😸