PGE Tambah 45 MW & 110 MW Baru: Dorong Target 1,8 GW Geothermal 2033

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

PGE Tambah 45 MW & 110 MW Baru: Dorong Target 1,8 GW Geothermal 2033
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) akan menandatangani kesepakatan dengan PLN untuk tambahan 45 MW yang diproyeksikan on‑stream sebelum 2029.
  • PGE mempercepat pembangunan PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW) dan menyiapkan Unit 4 serta Hulu Lais Unit 1‑2 (total 110 MW).
  • Strategi ini mendukung target kapasitas terpasang 1,8 GW pada 2033 dan ambisi menjadi pemain geothermal terbesar di dunia dengan 3 GW.

Jakarta – Dalam wawancara eksklusif di program Energy Corner CNBC Indonesia, Edwil Suzandi, Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGE, mengungkapkan rangkaian proyek geothermal yang akan segera diluncurkan. Kesepakatan terbaru dengan PLN diperkirakan menambah kapasitas terpasang perusahaan sebesar 45 MW, membawa total menjadi 727 MW saat ini.

Proyek tambahan mencakup PLTP Lumut Balai Unit 3 (55 MW) serta persiapan Unit 4 yang akan beroperasi berurutan. Di samping itu, PGE sedang menyiapkan Hulu Lais Unit 1‑2, masing‑masing 55 MW, yang secara kumulatif menambah 110 MW kapasitas baru. Semua unit diharapkan siap beroperasi sebelum akhir 2029.

Di luar Sumatra, PGE juga mempercepat eksplorasi di Gunung 3 Lampung dan Kotamobagu, Sulawesi Utara untuk mengamankan cadangan panas bumi yang dapat mendukung ekspansi jangka panjang. Manajemen menekankan upaya menurunkan CAPEX melalui kolaborasi dengan kontraktor lokal dan penyempurnaan regulasi, sehingga proyek dapat menghasilkan IRR yang kompetitif.

Visi ambisius perusahaan adalah menjadi “nomor satu dunia” dalam kapasitas terpasang geothermal, menargetkan 3 GW pada 2035. Pencapaian ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi hijau Indonesia, tetapi juga membuka peluang investasi besar‑besar bagi sektor infrastruktur energi bersih.

Analisis Pakar

Langkah PGE memperluas portofolio geothermalnya harus dilihat dalam konteks kebijakan energi nasional yang menekankan dekarbonisasi. Penambahan 45 MW melalui kerjasama dengan PLN bukan sekadar peningkatan kapasitas, melainkan sinyal bahwa utilitas listrik publik siap mengintegrasikan sumber energi baseload yang stabil ke dalam grid. Ini mengurangi ketergantungan pada pembangkit termal berbahan bakar fosil, yang pada gilirannya menurunkan intensitas karbon sektor kelistrikan.

Dari perspektif keuangan, penurunan CAPEX yang dicanangkan PGE sangat penting. Proyek geothermal tradisional dikenal dengan biaya investasi awal yang tinggi karena pengeboran dan infrastruktur steam‑turbin. Dengan mengoptimalkan rantai pasokan dan memanfaatkan skala ekonomi di beberapa lokasi (Sumatra, Sulawesi, Lampung), PGE dapat menurunkan biaya per megawatt, meningkatkan return on investment dan menarik lebih banyak modal asing, terutama dari dana ESG yang kini mengincar proyek energi terbarukan dengan profil risiko terukur.

Namun, tantangan regulasi dan perizinan masih menjadi batu sandungan. Pemerintah perlu mempercepat proses Izin Usaha Pertambangan (IUP) serta memberikan insentif fiskal yang konsisten untuk memastikan cash‑flow proyek tidak terganggu. Koordinasi yang lebih erat antara PGE, PLN, dan Kementerian ESDM akan menjadi kunci untuk mengubah rencana ambisius menjadi realitas operasional sebelum 2029.

Jika PGE berhasil mencapai target 1,8 GW pada 2033, Indonesia akan menempati posisi strategis di pasar geothermal global, membuka peluang ekspor teknologi, serta memperkuat posisi tawar dalam negosiasi energi regional. Ini bukan hanya soal menambah megawatt, melainkan menciptakan ekosistem energi bersih yang dapat menstimulasi pertumbuhan industri pendukung, mulai dari manufaktur turbin hingga layanan teknik khusus.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan proyek tambahan 45 MW PGE akan mulai beroperasi?
    A: Proyek tersebut diproyeksikan on‑stream sebelum akhir 2029.
  • Q: Berapa total kapasitas terpasang yang ditargetkan PGE pada 2033?
    A: PGE menargetkan 1,8 GW kapasitas terpasang pada tahun 2033.
  • Q: Apa manfaat utama penurunan CAPEX bagi investor?
    A: Menurunkan CAPEX meningkatkan IRR, mempercepat pengembalian modal, dan membuat proyek lebih menarik bagi dana ESG serta investor internasional.
Meow! Tanya Nesi!
😸