Mojtaba Khamenei Puji Hizbullah: Janji Perlawanan Terhadap Israel Memicu Ketegangan Regional

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Mojtaba Khamenei Puji Hizbullah: Janji Perlawanan Terhadap Israel Memicu Ketegangan Regional
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Mojtaba Khamenei memuji milisi Hizbullah setelah menerima surat sumpah setia.
  • Dia mengutip ayat Al‑Quran yang menyerukan perlawanan terhadap Israel dan menyoroti kematian komandan Hizbullah.
  • Ketegangan antara Lebanon dan Israel terus meningkat, sementara upaya gencatan senjata melalui AS belum melibatkan Hizbullah.

Dalam sebuah unggahan di platform X pada Minggu (26/7), Mojtaba Khamenei, putra Mahkamah Agung Iran dan tokoh politik senior, memuji Hizbullah atas “jihad” dan perlawanan yang, menurutnya, telah mengangkat kehormatan Lebanon di dunia Islam. Ia menanggapi surat sumpah setia yang baru‑baru ini dikirimkan milisi kepada Tehran, menegaskan bahwa dukungan Iran terhadap kelompok tersebut tetap kuat.

Khamenei mengutip Surat At‑Taubah ayat 123: “Wahai orang‑orang beriman! Perangilah orang‑kafir di sekitar kalian, dan biarkanlah mereka merasakan kekerasan dari kalian.” Kutipan ini dipakai untuk menekankan bahwa perlawanan terhadap Israel adalah bagian dari “kewajiban religius”. Ia juga menyebut secara khusus para komandan Hizbullah yang gugur dalam serangan Israel, termasuk Sekretaris Jenderal Naim Qassem, serta menambahkan doa agar mereka “mendapatkan berkah Tuhan”.

Menurut Khamenei, pencapaian milisi tersebut tidak lepas dari “kesabaran, kemuliaan, pengorbanan diri, dan dukungan rakyat Lebanon, khususnya di wilayah selatan”. Ia menegaskan bahwa keteguhan hati dalam melawan Israel akan menghasilkan “kemenangan ilahi” yang dijanjikan dalam tradisi Islam.

Lebih jauh, Khamenei menilai surat sumpah setia itu “patut dihormati dan diapresiasi”. Ia menuduh pemerintah AS dan Israel sebagai “tirani” yang menindas, menegaskan bahwa “jihad dan perlawanan” adalah satu‑satunya jalan ke depan. Sejak Maret lalu, setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei, Israel melancarkan serangkaian serangan balasan ke wilayah Lebanon, memicu siklus kekerasan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Sementara itu, negosiasi gencatan senjata yang diprakarsai oleh Amerika Serikat berlangsung antara pemerintah Lebanon dan Israel, namun tidak melibatkan Hizbullah. Pihak Lebanon menilai usulan gencatan senjata tersebut “lebih menguntungkan Israel” dan menolak solusi yang tidak mengakui peran milisi dalam pertahanan nasional.

Analisis Pakar

Penghargaan publik yang diberikan Mojtaba Khamenei kepada Hizbullah harus dipahami dalam konteks strategi geopolitik Iran. Tehran secara konsisten menggunakan retorika religius untuk memperkuat aliansi dengan kelompok non‑negara di wilayah Timur Tengah, khususnya yang beroperasi sebagai “perpanjangan tangan” kebijakan luar negeri Iran. Dengan menonjolkan ayat Al‑Quran yang mengajak perlawanan, Khamenei tidak hanya memobilisasi dukungan domestik, tetapi juga mengirim sinyal kuat kepada sekutu dan lawan di arena internasional.

Namun, pendekatan ini menimbulkan risiko eskalasi yang lebih luas. Ketegangan antara Lebanon dan Israel sudah memicu ribuan korban sipil, dan setiap pernyataan yang mengagungkan “jihad” dapat memperkuat narasi militeristik di kedua belah pihak. Di sisi lain, upaya gencatan senjata yang dipimpin AS tanpa melibatkan Hizbullah mencerminkan dilema diplomatik: mengakomodasi kepentingan negara‑negara sah sambil mengabaikan aktor kunci yang memegang kontrol atas medan pertempuran.

Dari perspektif hukum internasional, surat sumpah setia milisi kepada negara lain menimbulkan pertanyaan tentang kedaulatan dan tanggung jawab negara tuan rumah. Iran, sebagai sponsor utama Hizbullah, dapat dianggap memiliki “kewajiban kontrol” atas tindakan milisi tersebut, yang pada gilirannya dapat menambah beban diplomatik Tehran dalam forum‑forum multilateral. Sementara itu, komunitas internasional harus menyeimbangkan antara menolak dukungan terhadap terorisme dan menghindari tindakan yang memperparah penderitaan warga sipil.

Ke depan, dinamika ini menuntut pendekatan yang lebih inklusif dalam perundingan gencatan senjata. Mengabaikan peran Hizbullah tidak hanya mengurangi legitimasi proses perdamaian, tetapi juga meningkatkan kemungkinan milisi kembali melakukan serangan balasan yang dapat memicu siklus kekerasan tak berujung. Solusi yang berkelanjutan memerlukan dialog yang melibatkan semua pihak berkepentingan, termasuk aktor non‑negara, serta jaminan keamanan yang dapat diterima oleh semua pihak.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa isi utama surat sumpah setia yang dikirim Hizbullah ke Iran?
    A: Surat tersebut menegaskan loyalitas Hizbullah kepada Tehran, menegaskan komitmen bersama dalam melawan Israel dan mendukung kebijakan luar negeri Iran di kawasan.
  • Q: Mengapa Amerika Serikat tidak melibatkan Hizbullah dalam perundingan gencatan senjata?
    A: Amerika Serikat menganggap Hizbullah sebagai organisasi teroris, sehingga secara resmi menolak memasukkan kelompok tersebut dalam proses diplomatik resmi antara Lebanon dan Israel.
  • Q: Bagaimana reaksi pemerintah Lebanon terhadap serangan Israel sejak Maret 2024?
    A: Pemerintah Lebanon menolak serangan tersebut, menuduh Israel melanggar kedaulatan, namun tetap berusaha mencari gencatan senjata melalui mediasi internasional meski tanpa melibatkan Hizbullah.
Meow! Tanya Nesi!
😾