Inflasi Merajalela, Dukungan PM Jepang Takaichi Merosot di Bawah 60% – Apa Artinya bagi Bisnis?
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- Survei Juli 2026 menunjukkan persetujuan publik terhadap Sanae Takaichi turun ke 57%, pertama kali di bawah 60% sejak ia menjabat.
- Inflasi dan kenaikan biaya hidup memicu ketidakpuasan 34% masyarakat, sementara kebijakan fiskal ekspansif menekan yen ke level terendah empat dekade.
- Bank of Japan menaikkan suku bunga acuannya ke 1%—tinggi 31 tahun—tetapi inflasi tetap mengancam target 2% pada paruh kedua 2026.
Jakarta, CNBC Indonesia – Popularitas Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi terus tergerus di tengah tekanan inflasi Jepang dan beban hidup yang melambung. Menurut survei Reuters yang dirilis Senin (27/7/2026) oleh Harian Yomiuri, tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Takaichi turun menjadi 57% pada Juli, turun tajam dari 69% pada Juni. Ini menandai pertama kalinya dukungan turun di bawah ambang 60%.
Ketidakpuasan publik melonjak menjadi 34%, naik signifikan dari 21% bulan lalu. Sebanyak 71% responden menilai pemerintah gagal mengendalikan lonjakan harga, naik dari 56% pada survei sebelumnya. Tekanan ini bersamaan dengan pasar keuangan yang menanggapi kebijakan fiskal dan moneter yang masih cenderung ekspansif, memicu kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah dan melemahnya yen hingga hampir menyentuh level terendah dalam empat dekade.
Janji pemotongan pajak penjualan makanan sebesar 8% belum terealisasi, terhambat oleh tekanan pasar dan penolakan internal partai. Sementara itu, Bank of Japan (BOJ) pada Juni menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1%, level tertinggi dalam 31 tahun, namun biaya pinjaman riil tetap negatif karena inflasi tetap berada di sekitar target 2% selama hampir empat tahun.
Subsidi bahan bakar sempat menahan inflasi inti di bawah target BOJ selama lima bulan berturut‑turut, namun analis memperkirakan inflasi akan kembali menembus 2% pada paruh kedua tahun ini seiring kenaikan harga produsen yang diteruskan ke konsumen.
Media Jepang melaporkan bahwa Takaichi sedang menyiapkan perombakan kabinet yang kemungkinan akan diluncurkan Agustus atau September, sebagai upaya meredam penurunan dukungan politiknya. Kepala pasar Daiwa Securities, Kenji Yamamoto, menilai fondasi politik Takaichi masih lebih kuat dibandingkan pendahulunya, namun perombakan kabinet akan menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan reflasi pemerintah.
Analisis Pakar
Penurunan tajam dalam persetujuan publik menandakan bahwa kebijakan makroekonomi Takaichi tidak lagi selaras dengan ekspektasi rumah tangga dan pelaku bisnis. Kenaikan biaya hidup yang dipicu oleh inflasi impor—didorong oleh yen yang lemah—menyebabkan margin konsumen tertekan, yang pada gilirannya menurunkan permintaan domestik. Bagi perusahaan, terutama yang bergantung pada konsumsi ritel, ini berarti penurunan penjualan dan tekanan pada profitabilitas.
Langkah BOJ menaikkan suku bunga ke 1% memang mengindikasikan upaya menahan ekspektasi inflasi, namun kebijakan moneter yang ketat dapat memperburuk beban utang korporasi, terutama pada sektor manufaktur yang masih berhutang dalam yen. Kombinasi kebijakan fiskal ekspansif dan moneter yang mulai mengetat menciptakan ketidakpastian yang tidak menguntungkan bagi investasi jangka panjang.
Penundaan pemotongan pajak makanan—yang seharusnya menjadi stimulus langsung bagi konsumen—menunjukkan adanya konflik internal dalam koalisi pemerintahan. Tanpa insentif fiskal yang jelas, perusahaan ritel dan restoran akan terus menghadapi penurunan volume penjualan. Investor harus memantau apakah perombakan kabinet akan menghasilkan kebijakan yang lebih pro‑bisnis, seperti pengurangan pajak atau subsidi energi yang lebih terarah.
Secara strategis, perusahaan multinasional yang beroperasi di Jepang perlu meninjau kembali eksposur mata uang mereka. Hedging yen menjadi krusial mengingat volatilitas yang dipicu oleh kebijakan moneter BOJ. Selain itu, diversifikasi rantai pasok ke negara dengan mata uang lebih stabil dapat mengurangi risiko biaya produksi yang meningkat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa popularitas PM Takaichi turun di bawah 60%?
A: Penurunan dipicu oleh inflasi tinggi, kenaikan biaya hidup, dan kegagalan pemerintah menepati janji pemotongan pajak makanan. - Q: Apa dampak kenaikan suku bunga BOJ terhadap bisnis di Jepang?
A: Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya pinjaman, menekan profitabilitas perusahaan, terutama yang bergantung pada utang jangka pendek. - Q: Bagaimana perusahaan dapat melindungi diri dari melemahnya yen?
A: Melakukan hedging mata uang, diversifikasi rantai pasok, dan mengurangi ketergantungan pada impor dapat mengurangi risiko nilai tukar.


