Gaikindo Dibantah Tuduhan Menghambat EV: Kontroversi Besar Antara OEM Jepang & Kebijakan Listrik Nasional

Otomotif
Siska AmeliaSiska Amelia
Siska Amelia
Siska Amelia
Rider & Reviewer

Membawa perspektif segar dalam dunia otomotif roda dua dari kacamata perempuan.

Gaikindo Dibantah Tuduhan Menghambat EV: Kontroversi Besar Antara OEM Jepang & Kebijakan Listrik Nasional
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Gaikindo menolak keras temuan InfluenceMap yang menuduh mereka memperlambat transisi kendaraan listrik (EV) di Indonesia.
  • Ketua Bidang Pengembangan Pasar Jongkie D Sugiarto mengaku belum melihat laporan tersebut, namun menegaskan dukungan penuh pada elektrifikasi sesuai PP No.55/2019.
  • Analisis Toyota, Honda, dan Suzuki dianggap berpotensi menahan adopsi BEV demi mempertahankan pasar hybrid berbasis ICE.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) melontarkan pernyataan resmi pada 26 Juli 2026 setelah InfluenceMap mempublikasikan laporan yang menuduh asosiasi bersama beberapa produsen otomotif Jepang berusaha memengaruhi kebijakan pemerintah demi memperlambat electric vehicle (EV) di tanah air.

Jongkie D Sugiarto, Ketua Bidang Pengembangan Pasar Gaikindo, mengaku tidak mengetahui detail temuan tersebut, namun menegaskan komitmen organisasi untuk selalu selaras dengan kebijakan negara, khususnya Peraturan Presiden No.55/2019 dan peraturan turunannya yang menargetkan elektrifikasi armada kendaraan bermotor.

"Saya tidak tahu mengenai temuan tersebut, tapi yang pasti Gaikindo mendukung sepenuhnya elektrifikasi kendaraan bermotor di Indonesia," ujar Jongkie dalam konferensi pers singkat.

Sementara itu, analis Muhammad Risky dari InfluenceMap menuduh Toyota, Honda, dan Suzuki—yang diproyeksikan menguasai sekitar 74% pangsa pasar otomotif Indonesia pada 2025—memanfaatkan posisi strategis mereka di Gaikindo untuk menolak percepatan kebijakan BEV dan memperpanjang insentif bagi kendaraan hybrid berbasis internal combustion engine (ICE).

Risky menilai langkah tersebut berlawanan dengan agenda nasional yang menekankan kemandirian energi dan dekarbonisasi transportasi. Ia menyoroti keputusan pemerintah Desember 2024 yang memperluas skema insentif dari hanya BEV menjadi juga mencakup hybrid, yang menurutnya dipicu oleh tekanan lobi industri.

Sejak keputusan itu, industri otomotif terus menekan agar paket insentif baru—yang dijadwalkan terbit akhir tahun ini—tetap memberikan ruang bagi kendaraan berbasis ICE, berpotensi menunda adopsi massal BEV di Indonesia.

Analisis Pakar

Sebagai seorang reviewer otomotif yang telah menelusuri evolusi powertrain sejak era turbocharged hingga era electrified, saya melihat fenomena ini sebagai benturan klasik antara kepentingan jangka pendek produsen dan visi jangka panjang negara. Hybrid memang menawarkan transisi yang lebih mulus bagi konsumen yang masih ragu dengan infrastruktur pengisian baterai, namun mengandalkannya sebagai solusi permanen akan menutup pintu bagi inovasi baterai berkapasitas tinggi dan sistem manajemen termal yang kini menjadi standar global.

Data teknis menunjukkan bahwa efisiensi termal mesin pembakaran internal (ICE) berada di kisaran 30‑35%, sementara motor listrik dapat mencapai >90% dengan kehilangan minimal pada drivetrain. Bahkan dengan sistem hybrid seri atau paralel, rasio kontribusi listrik‑bensin masih menempatkan emisi CO₂ di atas target yang ditetapkan dalam Roadmap Nasional Elektrifikasi. Oleh karena itu,

Meow! Tanya Nesi!
😾