Evakuasi Darurat: Enam Mahasiswa Unhas Terselamat dari Tebing 25 Meter di Gunung Goa Kalibbong

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Evakuasi Darurat: Enam Mahasiswa Unhas Terselamat dari Tebing 25 Meter di Gunung Goa Kalibbong
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Enam mahasiswa Universitas Hasanuddin mengalami kram dan kelelahan saat mendaki Gunung Goa Kalibbong Alloa, Kabupaten Pangkep.
  • Tim SAR gabungan Tim SAR yang dipimpin Basarnas Makassar menurunkan korban melalui tebing curam setinggi 25 meter dengan teknik tali khusus.
  • Semua korban berhasil dievakuasi ke Puskesmas Minasatene untuk perawatan medis lanjutan.

Pada Senin (27/7) dini hari, tim SAR gabungan dikerahkan setelah menerima laporan warga tentang pendaki yang mengalami kram kaki di area Gunung Goa Kalibbong Alloa, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Enam mahasiswa Universitas Hasanuddin sedang melaksanakan program kerja inovasi desa pariwisata ketika salah satu dari mereka tiba-tiba mengalami kram pada pukul 21.00 WITA. Lima lainnya dilaporkan kelelahan berat dan tidak mampu melanjutkan pendakian.

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa medan di lokasi sangat menantang: tebing terjal setinggi kurang lebih dua puluh lima meter harus dilalui. Karena itu, Tim SAR harus menerapkan teknik evakuasi khusus menggunakan sistem tali untuk menurunkan seluruh korban dengan aman.

Enam mahasiswa—Ine Agustina, Baso Rafiansyah, Riyanti Rahmania Putri, Adel Zain Filadelfia, Mutiara Kamilah, dan Lulu—berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat dan langsung dibawa ke Puskesmas Minasatene untuk mendapatkan perawatan serta penanganan medis lebih lanjut.

Analisis Pakar

Kasus ini menyoroti kegagalan mendasar dalam perencanaan kegiatan lapangan yang melibatkan mahasiswa. Meskipun program inovasi desa pariwisata memiliki tujuan mulia, tidak ada bukti bahwa pihak universitas melakukan penilaian risiko yang memadai sebelum menugaskan mahasiswa ke medan yang dikenal berbahaya. Kram otot dan kelelahan yang terjadi pada malam hari mengindikasikan kurangnya persiapan fisik serta minimnya pemantauan kondisi kesehatan selama pendakian.

Selanjutnya, respons cepat Basarnas Makassar dan tim SAR menunjukkan kapasitas operasional yang memadai, namun juga mengungkap keterbatasan infrastruktur di daerah terpencil. akses darurat di kawasan ini masih sangat terbatas. Pemerintah daerah perlu berinvestasi pada pos-pos pertolongan pertama dan jalur evakuasi yang lebih baik, terutama mengingat potensi peningkatan aktivitas ekowisata.

Dari perspektif akademik, universitas harus menegakkan standar keselamatan yang sebanding dengan kegiatan lapangan. Ini termasuk penyusunan protokol medis, keharusan membawa peralatan pertolongan pertama, serta kehadiran pemandu atau pendamping yang terlatih dalam teknik pertolongan pertama. Tanpa langkah-langkah tersebut, mahasiswa menjadi subjek eksperimentasi yang berisiko tinggi.

Akhirnya, kasus ini menjadi peringatan bagi seluruh institusi pendidikan dan organisasi petualangan di Indonesia: keselamatan bukanlah pilihan tambahan, melainkan prasyarat mutlak. Kegagalan dalam menilai risiko dapat berujung pada tragedi yang lebih besar, sementara respons yang terkoordinasi dapat menyelamatkan nyawa—seperti yang terjadi pada enam mahasiswa ini.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa penyebab utama mahasiswa mengalami kram dan kelelahan saat mendaki?
    A: Kombinasi faktor kelelahan fisik, kurangnya aklimatisasi, persiapan fisik yang tidak memadai, serta kondisi medan yang menantang.
  • Q: Bagaimana prosedur evakuasi yang dilakukan oleh tim SAR?
    A: Tim SAR menggunakan teknik penurunan tali khusus untuk menurunkan korban dari tebing setinggi 25 meter, kemudian membawanya ke titik evakuasi terdekat untuk perawatan medis.
  • Q: Apa langkah pencegahan yang seharusnya diambil sebelum melakukan pendakian di area rawan?
    A: Melakukan penilaian risiko, persiapan fisik yang cukup, pemeriksaan kesehatan, membawa peralatan pertolongan pertama, memiliki pemandu berpengalaman, serta memastikan adanya jalur evakuasi dan koordinasi dengan otoritas SAR setempat.
Meow! Tanya Nesi!
😸