Katy Perry ‘Menyulut’ Kontroversi: Lagu ‘Firework’ Dipakai di TikTok Gedung Putih, Siapa yang Marah?

Selebriti
Ayu LestariAyu Lestari
Ayu Lestari
Ayu Lestari
Wartawan Selebriti

Selalu update dengan kabar terbaru dari dunia artis dan infotainment tanah air.

Katy Perry ‘Menyulut’ Kontroversi: Lagu ‘Firework’ Dipakai di TikTok Gedung Putih, Siapa yang Marah?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Katy Perry kaget karena lagu Firework dipakai dalam video TikTok resmi Gedung Putih yang menampilkan ledakan militer.
  • Penyanyi menegaskan bahwa lagunya adalah simbol harapan, bukan propaganda perang, dan menolak penggunaan tanpa izin.
  • Kontroversi ini menambah deretan artis yang mengkritik Trump atas penyalahgunaan musik untuk tujuan politik.

Penyanyi pop internasional Katy Perry kembali menjadi sorotan setelah ia mengeluarkan pernyataan keras mengenai penggunaan lagunya, Firework (2010), dalam sebuah unggahan TikTok resmi Gedung Putih. Video yang diunggah pada Kamis (23/7) menampilkan klip ledakan bom bersamaan dengan lirik “You’re a firework,” lengkap dengan caption “Iran telah diperingatkan.”

“Saya sangat terkejut dan marah melihat Firework digunakan di akun TikTok @WhiteHouse sebagai musik latar untuk cuplikan video serangan militer,” tulis Perry di media sosialnya pada Sabtu (24/7). “Saya tidak menyetujui ini, saya tidak diminta, dan saya sama sekali tidak membenarkannya.”

Perry menambahkan bahwa lagu tersebut ditulis sebagai “lagu harapan, penyembuhan, dan kekuatan batin bagi orang-orang yang sedang melewati momen-momen tergelap dalam hidup mereka.” Ia menegaskan, “Melihat pesan tentang harga diri dan peningkatan diri dipersenjatai untuk mengiringi kehancuran dan kekerasan adalah pelanggaran total terhadap semua yang diwakili lagu saya.”

Kontroversi ini muncul di tengah ketegangan antara Trump dan Iran, yang mengingatkan pada serangan udara Israel di Gaza, di mana pemerintah Amerika Serikat tampak menunda ancaman eskalasi besar-besaran meski pasukan tetap siaga. Sementara itu, artis lain seperti Ariana Grande, Sabrina Carpenter, dan Olivia Rodrigo juga pernah mengkritik penggunaan musik mereka tanpa izin untuk tujuan politik atau militer.

Analisis Pakar

Menurut saya, Nadia Putri, fenomena penyalahgunaan musik dalam konteks politik bukanlah hal baru, namun era media sosial mempercepat penyebarannya. Ketika sebuah institusi resmi seperti Gedung Putih memanfaatkan trek populer untuk menambah dramatisasi visual, mereka tidak hanya melanggar hak cipta, tetapi juga mengubah makna asli karya seni tersebut. Lagu Firework yang semula dimaksudkan untuk menginspirasi individu menemukan kekuatan dalam diri, kini diputar sebagai soundtrack bagi aksi militer—sebuah kontradiksi yang mengundang kemarahan artis dan publik.

Secara hukum, penggunaan musik tanpa lisensi dapat menimbulkan tuntutan pelanggaran hak cipta, namun dalam praktik politik, seringkali ada “fair use” yang diperdebatkan. Namun, “fair use” biasanya mengacu pada kritik, komentar, atau pendidikan, bukan propaganda atau promosi militer. Oleh karena itu, Gedung Putih berisiko berada di zona abu‑abu hukum yang dapat memicu litigasi atau setidaknya menurunkan citra institusional di mata internasional.

Dari perspektif budaya pop, reaksi keras Katy Perry menegaskan peran artis sebagai penjaga nilai moral karya mereka. Ketika musik dijadikan alat propaganda, artis tidak lagi pasif; mereka beralih menjadi aktivis yang menuntut akuntabilitas. Ini memperkuat tren di mana selebriti tidak hanya memproduksi konten, tetapi juga mengawasi bagaimana konten mereka dipakai di panggung politik.

Terakhir, fenomena ini menyoroti pentingnya edukasi digital bagi institusi pemerintah. Menggunakan musik populer tanpa izin tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga dapat menimbulkan backlash publik yang luas. Kedepannya, diharapkan ada prosedur yang lebih ketat dalam memilih soundtrack untuk materi resmi, terutama yang berkaitan dengan isu sensitif seperti konflik militer.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apakah Gedung Putih melanggar hak cipta dengan memakai lagu Firework?
  • A: Ya, penggunaan tanpa lisensi dapat dianggap pelanggaran hak cipta, kecuali dapat dibuktikan sebagai “fair use” yang sangat terbatas.
  • Q: Mengapa Katy Perry menolak penggunaan lagunya dalam video militer?
  • A: Karena lagu tersebut dimaksudkan sebagai simbol harapan dan penyembuhan, bukan untuk mendukung atau mempromosikan kekerasan.
  • Q: Apakah artis lain pernah mengalami hal serupa?
  • A: Ya, artis seperti Ariana Grande, Olivia Rodrigo, dan bahkan band Rolling Stones pernah mengkritik penggunaan musik mereka tanpa izin untuk tujuan politik atau militer.
Meow! Tanya Nesi!
😸