Kapal Cepat Turun Kontak di Teluk Tomini: 11 Wisatawan Asing Tertahan, SAR Basarnas Dikerahkan

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kapal Cepat Turun Kontak di Teluk Tomini: 11 Wisatawan Asing Tertahan, SAR Basarnas Dikerahkan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • KN SAR Bhimsa dikerahkan mencari speedboat yang hilang kontak di Teluk Tomini, Gorontalo.
  • Kapalan membawa 11 wisatawan asing serta nakhoda dan ABK belum muncul sejak 24 Juli, diperkirakan berada 20‑40 mil laut dari Tojo Una‑Una.
  • Cuaca buruk menghambat operasi Basarnas, pencarian dijadwalkan kembali pagi hari berikutnya.

Gorontalo, 25 Juli 2026 – Kapal cepat yang menurunkan kontak radio pada Jumat (24/7) di Teluk Tomini kini menjadi fokus operasi penyelamatan KN SAR Bhisma. Kendaraan laut itu mengangkut 11 wisatawan asing, seorang nakhoda, serta kru ABK, dan terakhir diketahui berlayar dari pelabuhan Tojo Una‑Una pukul 07.30 WITA menuju Pelabuhan Marisa, Kabupaten Pohuwato.

Menurut Kepala Basarnas Palu, Muh Rizal, tim SAR Bhisma telah tiba di lokasi pada pukul 09.40 WITA dan diperkirakan akan menyelesaikan penempatan personel pada malam hari sekitar 19.40 WITA. “Kami sudah menyiapkan tim Rescue Pos SAR Luwuk untuk melakukan operasi SAR, namun cuaca malam ini tidak mendukung karena gelombang mencapai 1,5‑2,5 meter,” ujar Heriyanto, Kepala Basarnas Gorontalo.

Perkiraan jarak tempuh kapal tersebut berada di kisaran 20‑40 mil laut dari titik keberangkatan, namun hingga pukul 15.00 WITA tidak ada tanda‑tanda kedatangan. “Jika tidak ada perubahan signifikan, pencarian intensif akan dilanjutkan besok pagi,” tambah Heriyanto.

Daftar lengkap penumpang asing yang belum kembali meliputi:

  • Ferdiansyah (L/29)
  • Arif (L/27)
  • Milan Kasik (L/55)
  • Rani Permentier (P/30)
  • Mathijs Sercu (L/29)
  • Jelka Van Driesum (P/16)
  • Hinke Van Deer (P/59)
  • Roeland Van Driesum (L/61)
  • Age Van Driesum (L/18)
  • Matthias Prange (L/50)
  • Celine Josette Menguy (P/52)
  • Hector Fabio Prange (L/20)
  • Ronny Josue Prange (L/13)

Analisis Pakar

Kasus hilangnya kontak speedboat ini menyoroti dua kegagalan struktural yang sudah lama menggerogoti sistem keselamatan maritim Indonesia. Pertama, regulasi operasional kapal penumpang kecil masih lemah; tidak ada keharusan wajib mengirimkan laporan posisi secara berkala, sehingga ketika sinyal terputus, otoritas tidak memiliki data real‑time untuk memulai pencarian. Kedua, kesiapan Basarnas di wilayah timur masih terhambat oleh infrastruktur logistik yang tidak memadai, terbukti dari keterlambatan penempatan tim SAR akibat cuaca buruk yang seharusnya dapat diatasi dengan peralatan penanggulangan gelombang modern.

Selain itu, keberadaan 11 wisatawan asing menambah dimensi diplomatik yang sensitif. Pemerintah harus segera berkoordinasi dengan kedutaan negara asal penumpang, menyediakan informasi transparan, dan menyiapkan prosedur evakuasi yang terstandarisasi. Kegagalan dalam hal ini dapat menurunkan citra Indonesia sebagai destinasi wisata yang aman.

Terakhir, fenomena cuaca ekstrem di perairan Sulawesi Utara bukan lagi hal yang dapat diabaikan. Data BMKG menunjukkan peningkatan frekuensi gelombang tinggi selama musim hujan, yang menuntut revisi prosedur navigasi serta peningkatan kapasitas SAR berbasis udara. Tanpa investasi yang serius, insiden serupa akan terus berulang, menimbulkan kerugian jiwa dan ekonomi yang tidak dapat ditoleransi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa penyebab utama hilangnya kontak speedboat di Teluk Tomini?
    A: Kemungkinan besar kombinasi kegagalan sistem pelaporan posisi, cuaca buruk, dan potensi kerusakan teknis pada kapal.
  • Q: Bagaimana prosedur Basarnas dalam menangani kasus seperti ini?
    A: Basarnas mengerahkan tim SAR, melakukan penilaian cuaca, dan menyiapkan operasi pencarian dengan dukungan kapal dan helikopter bila kondisi memungkinkan.
  • Q: Apakah wisatawan asing yang terlibat akan mendapatkan bantuan konsuler?
    A: Ya, Kedutaan masing‑masing negara penumpang telah dihubungi dan akan memberikan bantuan konsuler serta informasi terkini kepada keluarga.

Untuk meningkatkan kompetensi maritim, pemerintah juga mendukung program beasiswa pelaut yang diluncurkan oleh Pertamina.

Meow! Tanya Nesi!
😸