Dua Jalur Vital Minyak Dunia Terblokir: Harga Brent Menembus $100, Pasar Gemetar!

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Dua Jalur Vital Minyak Dunia Terblokir: Harga Brent Menembus $100, Pasar Gemetar!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Serangan Houthi terhadap kapal di Bab Al Mandab menghentikan aliran minyak melalui salah satu jalur strategis dunia.
  • Penurunan lalu lintas di Selat Hormuz karena tekanan AS-Iran memperburuk ketersediaan global.
  • Harga minyak Brent menyentuh US$100 per barel, mencatat kenaikan mingguan lebih dari 10 persen.

Dua jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia di Timur Tengah kini tak bisa dilewati. Setelah arus pengiriman melalui Selat Hormuz berkurang akibat memanasnya konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran, kini jalur Bab Al Mandab di pintu masuk Laut Merah juga terdampak.

Meski belum ada pengumuman penutupan resmi, jalur pelayaran kedua terbesar energi dunia itu tak bisa dilewati karena serangan kelompok Houthi Laut Merah terhadap semua kapal yang melewati jalur.

Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap terganggunya pasokan minyak global. Akibatnya, harga minyak dunia kembali melonjak dan berada di jalur kenaikan mingguan terbesar dalam beberapa bulan terakhir.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent pada perdagangan Jumat (24/7), tercatat berada di level US$99,97 per barel, meski turun tipis 72 sen atau 0,72 persen dibanding penutupan sebelumnya. Namun secara mingguan, Brent masih menguat sekitar 13,5 persen.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 70 sen atau 0,76 persen menjadi US$91,49 per barel. Meski demikian, WTI masih mencatat kenaikan sekitar 10,9 persen sepanjang pekan ini.

Pada perdagangan Kamis (23/7) sebelumnya, Brent sempat ditutup melonjak 7 persen hingga kembali menembus level US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei. WTI juga menguat 6,2 persen.

Bab Al Mandab merupakan salah satu jalur pelayaran minyak paling penting di dunia setelah Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi rute utama ekspor minyak Arab Saudi setelah lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz menurun tajam sejak gencatan senjata antara AS dan Iran runtuh pada awal bulan ini.

Situasi semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan akan meminta pertanggungjawaban Iran atas setiap serangan lanjutan terhadap kapal-kapal di kawasan tersebut.

Sebelumnya, kelompok Houthi telah mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Langkah itu diambil setelah Iran disebut meminta kelompok tersebut bersiap menutup Bab Al Mandab apabila AS terus menyerang infrastruktur energi Iran.

Analisis Pakar

Blokade di dua chokepoint vital – Selat Hormuz dan Bab Al Mandab – menyoroti seberapa fragilitas sistem pasokan energi global bergantung pada sedikitnya titik lalu lintas yang dapat dengan mudah menjadi sasaran konflik geopolitik. Ketika salah satu jalur terhenti, tekanan langsung berpindah ke jalur yang tersisa, meningkatkan risio kecurangan pasokan dan memicu reaksi pasar yang sering berlebihan karena sifat spekulatif komoditas minyak. Situasi ini bukan hanya masalah logistik, tetapi juga sinyal bahwa kekuatan militer non-negara seperti Houthi kini mampu memengaruhi dinamika pasar internasional melalui taktik asymetri.

Dari perspektif pasar, lonjakan harga Brent di atas ambang US$100 per barel mencerminkan kombinasi dari fundamental pasokan yang menyusut dan sentase risk-off yang meningkatkan premi risiko geopolitik. Data inventaris AS menunjukkan penurunan cadangan minyak mentah sebesar 2,3 juta barel dalam minggu terakhir, memperkuat tekanan naik. Namun, kenaikan yang terlihat ekstrem juga dipengaruhi oleh algoritma perdagangan tinggi frekuensi yang bereaksi terhadap berita berita, menghasilkan volatilitas yang mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fisik pasokan pada tingkat global.

Respons yang diharapkan dari komunitas internasional meliputi peningkatan kehadiran militer di kawasan tersebut, seperti patroli bersama AS-Uni Emirat Arab dan Uni Eropa di Selat Hormuz serta upaya mengamankan Bab Al Mandab melalui koalisi maritim yang melibatkan Arab Saudi, Mesir, dan negara-negara Afrika Timur. Selain itu, negara pemakai minyak mulai mempertimbangkan penggunaan cadangan strategis petroleum (SPR) untuk menstabilkan harga, sementara investasi dalam infrastruktur alternatif – seperti saluran pipa melalui Israel atau memperluas kapasitas LNG – mendapatkan perhatian yang lebih besar sebagai mitigasi risiko chokepoint.

Pada panjang horizon, ketidakstabilan di jalur ini mempercepat transisi energi karena negara-negara mulai mengurangi ketergantungan pada ekspor hydrocarbon melalui diversifikasi ekonomi dan percepatan adopsi energi terbarukan. Sementara itu, produsen minyak mungkin menekankan pada peningkatan efisiensi produksi dan penambahan kapasitas pengolahan di wilayah yang lebih aman, seperti bagian timur Arab Saudi atau wilayah Persia Selatan, untuk mengurangi kebergantungan pada lewat laut yang rentan. Dalam konteks ini, konflik di Laut Merah tidak hanya merupakan krisis pasokan minyak singkat, tetapi juga katalisator yang mungkin meredefinisikan arus perdagangan energi global dalam dekade ke depan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Meow! Tanya Nesi!
😾