Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Dewi Perssik Marah! Ini Alasan Peserta D'Academy 8 Gagal Dapat Standing Ovation!

SelebritiRio DewantaraRio DewantaraSumber: KapanLagi
Rio Dewantara
Rio Dewantara
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Dewi Perssik Marah! Ini Alasan Peserta D'Academy 8 Gagal Dapat Standing Ovation!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Dewi Perssik menegaskan bahwa attitude panggung sama pentingnya dengan vokal.
  • Duet Listen dan Kiara menyanyikan 'Cuma Satu' namun belum mendapat Standing Ovation.
  • Kritik juru fokus pada tempo, energi, dan ekspresi pada panggung.

Pada Final Audition D'Academy 8, Dewi Perssik tidak hanya memuaskan telinga para penonton dengan pujian vokal, tetapi juga menegaskan bahwa menjadi penyanyi bukan hanya soal suara bagus. Setelah menyaksikan duet Listen dan Kiara yang membawakan lagu 'Cuma Satu', ia langsung memberikan saran yang tajam.

Menurut Dewi Perssik, kedua peserta sudah menghibur, namun masih ada hal yang perlu diperbaiki: Kiara cenderung off tempo sementara Listen terlihat kurang energik dan ekspresif. “Suaranya centil, tapi ritme-nya masih terburu‑buru,” kata Dewi, menambahkan bahwa gerak tubuh dan ketepatan mengikuti irama harus selaras dengan nuansa lagu.

Coach Fildan yang memasangkan Listen dan Kiara karena keduanya memiliki karakter centil dan manja, menilai bahwa penampilan mereka masih kurang memicu Standing Ovation dari juri, termasuk Dewi Perssik sendiri. Ia menilai Kiara memiliki vokal yang lebih menarik, namun Listen akan jauh lebih kuat jika menambah power dan ekspresi saat tampil.

Lesti juga turut menyoroti aspek RAL (Rhythm and Lyrics), menilai bahwa kedua peserta terburu‑buru memasuki bagian tersebut tanpa memberi ruang untuk meniknukan musik terlebih dahulu. Soimah menambahkan bahwa tempo awal yang terlalu cepat mengurangi kesempatan mencuri napas, sehingga memengaruhi kestabilan vokal.

Secara keseluruhan, kompara‑kompara juru menyiratkan bahwa bagi peserta yang ingin lolos, tidak cukup hanya memiliki suara indah; attitude panggung, kontrol dinamika, dan kemampuan bercerita melalui gerak tubuh adalah kunci utama untuk mencuri hati audiens dan meraih Standing Ovation.

Analisis Pakar

Sebagai editor hiburan yang selalu mengikuti perkembangan kompetensi musik di Indonesia, saya menilai pernyataan Dewi Perssik sangat relevatif dengan dinamika industri musik kontemporer. Dalam era di mana konten visual dan performa menjadi sama pentingnya dengan rekaman studio, peserta talent show seperti D'Academy 8 harus memahami bahwa panggung adalah media storytelling. Vokal yang bagus hanya menjadi fondasi; tanpa ekspresi gerak, interaksi dengan audiens, dan kesadaran akan irama, penampilan akan terasa “datar” dan tidak mampu memicu respons emosional seperti Standing Ovation.

Dari segi teknis, catatan Soimah mengenai tempo awal yang terlalu cepat menunjukkan sebuah masalah umum pada peserta muda: kecemasan yang membuat mereka buru‑buru memulai lagu, mengurangi kapasitas napas dan menyebabkan vokal terasa lelah pada bagian tengah. Teknik “mencuri napas” atau breath control yang baik adalah keterampilan dasar yang harus dilatih sejak awal, terutama ketika lagu memiliki frasa yang panjang dan membutuhkan dinamika yang beragam.

Lesti menekankan aspek RAL (Rhythm and Lyrics) yang sering diabaikan oleh peserta yang fokus hanya pada melodi. Memahami lirik dan memberikan jeda yang sesuai sebelum melirik ke bagian vokal tidak hanya meningkatkan kejelasan pesan lagu, tetapi juga memberi ruang bagi audiens untuk “menyatu” dengan suasana. Ini adalah aspek yang membedakan penyanyi sekadar dari seorang entertainer yang benar‑benar bisa menghadirkan pengalaman lengkap.

Secara keseluruhan, jika Listen dan Kiara ingin meningkatkan peluang mereka di babak selanjutnya, mereka perlu bekerja pada tiga pilar: (1) vokal yang stabil dengan teknik napas yang baik, (2) attitude panggung yang energik namun tetap sesuai dengan nuansa lagu, dan (3) pemahaman mendalam tentang lirik dan ritme sehingga setiap gerak dan ekspresi berfungsi sebagai ekstensi dari cerita yang mereka sampaikan. Dengan menggabungkan elemen-elemen ini, peluang mereka untuk mendapatkan Standing Ovation dan hati juri akan meningkat secara signifikan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Dewi Perssik menekankan attitude panggung lebih dari sekadar vokal?
  • A: Ia menilai bahwa penampilan yang menarik dan selaras dengan lagu menciptakan emosi yang lebih kuat bagi penonton, sehingga meningkatkan peluang mendapat Standing Ovation.
  • Q: Apa saja kritik utama yang diberikan juri terhadap duet Listen dan Kiara?
  • A: Kritik meliputi masalah tempo (off tempo), kurangnya energi dan ekspresi, serta terburu‑buru memasuki bagian RAL tanpa memberi ruang untuk menikmati musik.
  • Q: Apakah Listen memiliki peluang lebih besar jika memperbaiki aspek tertentu?
  • A: Ya, menurut Dewi Perssik dan Lesti, Listen akan lebih kuat jika menambah power, ekspresi, dan mengontrol napas agar vokalnya lebih stabil dan energik.
Meow! Tanya Nesi!
😸