Speedboat Hilang Kontak: 11 Turis Asing Menghilang di Laut Sulawesi, SAR Bergabung Cari

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Speedboat Hilang Kontak: 11 Turis Asing Menghilang di Laut Sulawesi, SAR Bergabung Cari
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Speedboat yang berangkat dari TojoUna-una pada Jumat pagi tidak pernah tiba di PelabuhanMarisa.
  • Sepuluh penumpang asing dan satu awak kapal (nakhoda) serta satu ABK dilaporkan hilang kontak.
  • Tim gabungan Basarnas bersama otoritas lokal tengah melakukan pencarian intensif.

Gorontalo, 24 Juli 2026 – Sebuah speedboat yang mengangkut sebelas wisatawan asing serta dua awak kapal berangkat dari pelabuhan Tojo Una‑una di Sulawesi Tengah sekitar pukul 07.00 WITA, dengan perkiraan tiba di Pelabuhan Marisa, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo pada pukul 11.00 WITA. Hingga kini, kapal tersebut belum muncul, menimbulkan kekhawatiran akan nasib para penumpang.

Menurut Kepala Basarnas Gorontalo, Heriyanto, data yang diterima hanya mengkonfirmasi keberadaan penumpang asing, namun identitas lengkap mereka masih belum terverifikasi secara resmi. Identitas Korban Kedua KM Nurul Salsa menjadi contoh pentingnya pencatatan data penumpang yang akurat.

Tim SAR gabungan telah dikerahkan, memanfaatkan kapal patroli, helikopter, serta peralatan pencarian laut lainnya. Operasi SAR KM Nurul Salsa menjadi contoh upaya serupa yang dapat diadaptasi untuk meningkatkan efektivitas pencarian.

Berikut nama lengkap wisatawan asing yang tercatat berada di dalam kapal:

  • Milan Kasik
  • Rani Permentier
  • Mathijs Sercu
  • Jelka Van Driesum
  • Hinke Van Deer
  • Roeland Van Driesum
  • Age Van Driesum
  • Matthias Prange
  • Celine Josette Menguy
  • Hector Fabio Prange
  • Ronny Josue Prange

Analisis Pakar

Kasus hilangnya speedboat ini mengungkap celah serius dalam pengawasan keselamatan pelayaran di wilayah perairan Indonesia, khususnya pada rute wisata yang semakin populer. Meskipun regulasi Safety of Life at Sea (SOLAS) telah diadopsi secara formal, implementasinya masih lemah di daerah terpencil. Tidak ada sistem pelacakan otomatis (AIS) yang terpasang pada kapal kecil seperti speedboat, sehingga otoritas tidak dapat memantau pergerakan secara real‑time.

Selain itu, prosedur verifikasi penumpang asing tampak kurang ketat. Identitas lengkap para wisatawan belum terkonfirmasi oleh pihak berwenang, menandakan kurangnya koordinasi antara operator kapal, agen perjalanan, dan imigrasi. Hal ini berpotensi mempersulit proses pencarian dan penanganan darurat ketika insiden terjadi.

Pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa cuaca di Selat Sulawesi dapat berubah drastis dalam hitungan jam. Namun, tidak ada laporan resmi mengenai kondisi meteorologi pada saat keberangkatan. Kegagalan untuk mengintegrasikan data cuaca ke dalam keputusan operasional menambah risiko kecelakaan.

Untuk mencegah tragedi serupa, diperlukan langkah-langkah konkret: pemasangan AIS pada semua kapal komersial, standar wajib bagi operator untuk melaporkan daftar penumpang lengkap kepada otoritas pelabuhan, serta peningkatan kapasitas SAR lokal dengan peralatan modern. Tanpa reformasi ini, insiden serupa dapat terulang, menodai reputasi pariwisata Indonesia di mata dunia.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa yang terjadi pada speedboat yang berangkat dari Tojo Una‑una?
  • A: Kapal tidak melaporkan kedatangan di Pelabuhan Marisa dan kehilangan kontak, memicu operasi pencarian gabungan SAR.
  • Q: Siapa saja yang berada di dalam kapal tersebut?
  • A: Sebelas wisatawan asing yang namanya tercantum di atas, serta satu nakhoda dan satu ABK.
  • Q: Apa langkah yang diambil oleh otoritas?
  • A: Basarnas bersama Lanal Gorontalo, Basarnas Palu, dan stasiun radio pantai meluncurkan operasi pencarian intensif serta terus memantau situasi.
Meow! Tanya Nesi!
😸