Chey Tae-won Dikritik Bayar Rp11 Triliun Mantan Istri, SK Group Tekan Likuiditas
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Pengadilan Tinggi Seoul memutuskan Chey Tae-won membayar Rp11,3 triliun sebagai ganti rugi perceraian kepada mantan istrinya Roh Soh-yeong.
- Putusan ini merupakan pembayaran perceraian terbesar di Korea Selatan, meski lebih rendah dari putusan banding 2024 sebesar 1,38 triliun won.
- Analisis menunjukkan Chey mungkin menjual sebagian saham SK Inc. atau menggunakannya sebagai agunan, namun kendali manajemen SK Group diperkirakan tetap terjaga.
Jakarta, CNBC Indonesia – Ketua SK Group dan salah satu konglomerat terkaya Korea Selatan, Chey Tae-won, dihukum oleh Pengadilan Tinggi Seoul untuk membayar kompensasi tunai sebesar 944 miliar won (sekitar Rp11,3 triliun) kepada mantan istrinya, Roh Soh-yeong. Kejatuhan putusan ini menandai salah satu kasus perceraian paling bernilai dalam sejarah negara tersebut dan kembali menyoroti peran strategis sahamnya di SK Group, yang kini mendapat dorongan dari SK Hynix sebagai pemasok utama chip high‑bandwidth memory (HBM) untuk prosesor AI Nvidia.
Menurut Reuters (24/7/2026), nilai pembayaran ini menjadi rekord baru, meski putusan pengadilan banding tahun lalu曾一度 meminta pembayaran 1,38 triliun won. Para manajer investasi menilai Chey mungkin perlu mencairkan aset melalui penjualan sebagian saham SK Inc. atau menggunakannya sebagai jaminan pinjaman, namun mereka menilai langkah tersebut tidak akan menggoyangkan kendali penguasaan atas konglomerat.
Park Ju-gun, kepala analisis korporat Leaders Index, menegaskan: "Hal ini kemungkinan tidak akan memengaruhi kendali manajemen atas SK Group." Sementara tim hukum Chey menyatakan masih menilai keputusan sebelum memutuskan apakah akan mengajukan banding.
Di pasar saham, reaksi negatif terasa jelas: saham SK Inc. menutup lemah 3,8 %, sementara saham SK Hynix menjunamkan 8,3 % dalam perdagangan di Seoul. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor mengenai likuiditas dan potensi tekanan harga saham akibat kebutuhan pembayaran tunai besar.
Putusan pengadilan menetapkan rasio pembagian harta sepertiga untuk Roh Soh-yeong dan dua pertiga untuk Chey Tae-won, berdasarkan nilai saham SK Inc. pada 16 April 2024. Pengadilan menegaskan bahwa kenaikan nilai saham setelah tanggal tersebut tidak dipertimbangkan ulang untuk pembagian, tetapi telah diakomodasi dalam menghitung hak masing‑masing pihak.
SK Group belum memberikan tanggapan resmi, sedangkan tim kuasa hukum Roh Soh-yeong menolak komentar. Kasus ini kembali menimbulkan perdebatan tentang bagaimana kontribusi non‑finansial—seperti pengasuhan anak dan tanggung rumah tangga—dipertimbangkan dalam pembagian harta bersama, serta tentang dampak strategis bagi SK Group yang tengah menggeluti boom AI melalui unit semiconductornya.
Analisis Pakar
Sebagai pakar ekonomi makro, saya melihat putusan perceraian Chey Tae-won bukan hanya masalah keluarga, tetapi juga sinyal penting bagi pasar modal dan strategi korporat SK Group. Pembayaran tunai sebesar Rp11,3 triliun setara dengan hampir 20 % dari nilai pasar estimasi SK Group berdasarkan data terkini, sehingga likuiditas perusahaan akan mengalami tekanan signifikan jika Chey harus mencairkan aset secara cepat.
Namun, struktur kepemilikan Chey di SK Group cukup kompleks: ia tidak memiliki saham langsung di SK Hynix, tetapi melalui SK Inc. ia mengontrol sekitar 32 % saham SK Square, yang puolanya merupakan pemegang saham terbesar SK Hynix dengan sekitar 20 % posisi. Ini berarti bahwa penjualan saham SK Inc. tidak akan langsung mengalihkan kontrol operasional di SK Hynix, tetapi dapat mengurangi jumlah suara dalam rapat pemegang saham SK Group dan menurunkan influence Chey dalam pengambilan strategik terkait investasi AI dan semiconductors.
Dari perspektif pasar, reaksi saham SK Inc. dan SK Hynix yang menunjukkan penurunan lebih dari 3 % dan 8 % masing‑masing menunjukkan bahwa investor lebih khawatir tentang potensi dialisis likuiditas daripada perubahan kontrol. Jika Chey memilih jalan pinjaman atau penggunaan saham sebagai agunan, beban bunga dan rasio utang terhadap ekuitas (D/E) SK Group mungkin naik, yang pada gilirannya bisa menimbulkan tekanan pada rating kredit dan biaya peminjaman masa depan.
Pada akhirnya, meskipun putusan pengadilan memberikan kepastian hukum, keputusan strategik Chey selanjutnya akan menentukan apakah SK Group dapat mempertahankan momentum pertumbuhan yang didorong oleh AI atau justrinya akan teralihkan ke upaya restrukturisasi keuangan. Saya menyarankan investor memantau closely rencana pembiayaan Chey, perubahan struktur kepemilikan, dan indikator likuitas seperti rasio kas terhadap utang jangka pendek dalam kuartalan berikutnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa Chey Tae-won harus membayar ganti rugi sebesar Rp11,3 triliun?
A: Putusan Pengadilan Tinggi Seoul menetapkan bahwa selama pernikahan, Chey dan mantan istrinya Roh Soh-yeong sama‑sama berkontribusi dalam pembentukan dan pertumbuhan aset SK Group, sehingga harta bersama dibagi dengan rasio 2:1 untuk Chey dan 1:3 untuk Roh, menghasilkan pembayaran tunai sebesar 944 miliar won. - Q: Apakah pembayaran ini akan mengalihkan kontrol saham SK Group ke mantan istrinya?
A: Tidak. Pengadilan memutuskan Chey tetap memegang sahamnya dan memenuhi kewajiban melalui pembayaran tunai, bukan dengan menyerahkan saham, sehingga struktur pengendalian manajemen SK Group diperkirakan tetap berada di tangan Chey. - Q: Apa dampak potensi ini terhadap harga saham SK Hynix di pasar?
A: Investor menilai kebutuhan likuiditas Chey mungkin memaksa penjualan aset atau pinjaman, yang menimbulkan tekanan bawah pada saham SK Hynix, terlihat dari penurunan 8,3 % sesaat setelah putusan diumumkan.


