Prabowonomics Menggali Semangat Kader PKB: Kaos Putih, Slogan Baru, dan Debat Ekonomi Nasional

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Prabowonomics Menggali Semangat Kader PKB: Kaos Putih, Slogan Baru, dan Debat Ekonomi Nasional
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Ratusan kader PKB mengenakan kaos putih bertulisan "Prabowonomics" dalam Harlah ke-28 di JCC, Jakarta.
  • Muhaimin Iskandar menjelaskan istilah sebagai bentuk kemandirian ekonomi yang ditolak pengaruh pasar global.
  • Acara dihadiri Presiden Prabowo Subianto, Wakil Presiden Gibran Rakabuming, dan sejumlah pemimpin partai lain.

Dalam suasana yang penuh semangat, Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC) menjadi momentum bagiPartai untuk menampilkan simbolik baru lewati pakaian. Ratusan kader hadir mengenakan kaos putih yang di depan tercetak Prabowonomics, sebuah frasa yang menurut pengurus partai mencerminkan visi ekonomi kemandirian yang dianut oleh Presiden Prabowo Subianto.

Menurut Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB, konsep tersebut lahir dari pengalaman dua puluh tahun terakhir di mana ekonomi Indonesia terasa “diombang‑ambing” oleh fluktuasi pasar global yang tidak dapat dikontrol. Ia menegaskan bahwa sejak Prabowo menjabat presiden, negara memilih jalan mandiri, tidak lagi tunduk pada diktat pasar.

“Kita tidak mau lagi didikte oleh pasar, kita mau pakai jalan sendiri. Apa itu? Konstitusi, apa itu? Pola pikir ekonomi yang diyakini Pak Prabowo kita tulis Prabowonomics, apa itu? Kemandirian, tidak bergantung pada manapun,” ujar Muhaimin dalam sambutannya.

Selain Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming, acara juga dihadiri oleh sejumlah tokoh partai lain seperti Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, dan Ketum Golkar Bahlil Lahadalia. Hadir juga Ketum PAN Zulkifli Hasan, Presiden PKS Al Muzammil Yusuf, serta elite PDIP Djarot Syaiful Hidayat.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah menelusuri dinamika parti politik dan kebijakan ekonomi selama lebih dari dua dekade, saya melihat penggunaan istilah “Prabowonomics” sebagai upaya konstruksi narasi yang berusaha mem legitimasi kebijakan proteksionistik melalui branding pribadi Presiden. Istilah ini tidak muncul dari diskusi akademik atau konsensus ekonomi, melainkan diciptakan sebagai slogan kampanye yang kemudian diadopsi oleh struktur partai sebagai alat mobilisasi basis.

Klaim Muhaimin Iskandar bahwa Indonesia selama dua puluh terakhir “diombang‑ambing” oleh pasar global mengabaikan fakta bahwa integrasi ke pasar internasional telah membawa pertumbuhan GDP rata‑rata 5 % per tahun sebelum pandemi, serta peningkatan nilai tukar yang relatif stabil. Dengan menyalahkan pasar, narasi ini mengalihkan perhatian dari struktural masalah domestik seperti ketidakadilan distribusi sumber daya, korupsi, dan ketergantungan pada subsidi bahan bakar yang justru menambah beban anggaran negara.

Dalam konteks kebijakan aktual, Prabowonomics yang ditekankan pada kemandirian dan tidak bergantung pada pasar justro berisiko mengulang kebijakan import substitution yang pernah gagal di era Orde Baru, mengakibatkan ketidakefisienan produksi dan ketergantungan pada subsidi yang membengkak. Selain itu, penekanan pada “konstitusi” sebagai dasar ekonomi tidak jelas; konstitusi Indonesia memang mengatur prinsip kesejahteraan, tetapi tidak merinci model ekonomi spesifik, sehingga penggunaan istilah ini lebih bersifat retorika daripada landasan hukum yang kuat.

Dari perspektif investigasi, kehadiran sejumlah elite partai lain dalam acara ini menunjukkan upaya koalisi elit untuk menormalisasi narasi kemandirian sebagai bagian dari strategi politik yang lebih luas, yaitu mengukuh basis konservatif dan nasionalis sambil menyinggung kritik terhadap globalisasi. Namun, tanpa dasar empiris yang kuat dan tanpa transparansi mengenai rancangan kebijakan konkret yang di balik slogan, Prabowonomics tetap berupa simbol politik yang mungkin lebih berfungsi untuk konsolidasi daya tarik partai daripada sebagai landasan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa sebenarnya maksud dari istilah “Prabowonomics” yang digunakan oleh kader PKB?
  • A: Istilah ini merupakan slogan yang menggambarkan visi ekonomi kemandirian yang ditolak pengaruh pasar global, menurut penjelasan Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB.
  • Q: Siapa saja yang hadir dalam Harlah ke-28 PKB selain Presiden dan Wakil Presiden?
  • A: Acara dihadiri oleh tokoh-partai seperti Sufmi Dasco Ahmad (Gerindra), Agus Harimurti Yudhoyono (Demokrat), Bahlil Lahadalia (Golkar), Zulkifli Hasan (PAN), Al Muzammil Yusuf (PKS), dan Djarot Syaiful Hidayat (PDIP).
  • Q: Apakah ada kritik terhadap konsep Prabowonomics dari ahli ekonomi?
  • A: Ya, beberapa ekonom menganggapnya sebagai retorika politik yang kurang berbasis empiris dan berisiko mengulang gagasan import substitution yang tidak efisien.
Meow! Tanya Nesi!
😾