Tragedi KM Nurul Salsa di Selayar: 20 Penumpang Masih Hilang, Mengapa Pengawasan Laut Kita Selalu Kebobolan?

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Tragedi KM Nurul Salsa di Selayar: 20 Penumpang Masih Hilang, Mengapa Pengawasan Laut Kita Selalu Kebobolan?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Operasi SAR hari kelima memperluas area pencarian korban KM Nurul Salsa hingga mencapai 1.305 mil laut persegi di perairan Selayar.
  • Dari total 78 orang di atas kapal, 57 dinyatakan selamat (termasuk 5 orang yang terapung selama 4 hari), 1 meninggal dunia, dan 20 orang masih hilang.
  • Armada tambahan dari TNI AL, termasuk KRI Marlin 877 dan KRI Hiu 634, dikerahkan untuk memperkuat penyisiran di empat sektor pencarian.

Tragedi kemanusiaan kembali mencoreng wajah dunia pelayaran Indonesia. Memasuki hari kelima, operasi penyelamatan korban karamnya KM Nurul Salsa di perairan Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, kian dipacu dengan memperluas radius pencarian. Tim SAR gabungan kini memperlebar jangkauan operasi hingga mencapai 1.305 nautical mile (nm) persegi demi menemukan 20 jiwa yang masih dinyatakan hilang.

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Basarnas Makassar, Andi Sultan, mengonfirmasi bahwa wilayah pencarian kini dipecah menjadi empat sektor strategis, masing-masing seluas 337,5 nm². Langkah taktis ini diambil berdasarkan pemodelan Search and Rescue Marine Prediction (SARMAP) guna mengantisipasi pergerakan arus laut yang dinamis dan tidak menentu.

Kekuatan armada laut pun dilipatgandakan. Selain KN SAR Puntadewa 250 dan KN SAR Pacitan 102, operasi kemanusiaan ini diperkuat oleh kehadiran KRI Marlin 877 dari Makassar dan KRI Hiu 634 yang didatangkan langsung dari Palu. Kehadiran alutsista TNI AL ini diharapkan mampu mengoptimalkan efektivitas penyisiran di tengah kondisi cuaca yang menantang.

Di sisi lain, secercah harapan muncul ketika KN SAR Kamajaya berhasil mengevakuasi lima korban selamat yang sempat terombang-ambing selama empat hari di laut lepas. Kelimanya kini dilarikan ke Pelabuhan Benteng Selayar untuk mendapatkan penanganan medis darurat di rumah sakit setempat. Berdasarkan data manifes terbaru, dari total 78 orang di atas kapal, 57 orang berhasil diselamatkan, 1 orang ditemukan tewas, sementara nasib 20 penumpang lainnya masih menjadi tanda tanya besar.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah puluhan tahun menginvestigasi berbagai kecelakaan laut di tanah air, saya melihat tragedi karamnya KM Nurul Salsa bukan sekadar musibah alam biasa. Ini adalah cerminan nyata dari rapuhnya sistem pengawasan keselamatan pelayaran kita yang seolah tidak pernah belajar dari kesalahan masa lalu. Mengapa kapal dengan muatan hingga puluhan orang bisa mengalami petaka tanpa adanya mitigasi dini yang memadai? Setiap kali kecelakaan terjadi, pola respons kita selalu sama: sibuk mencari korban setelah kejadian, namun abai pada akar masalah kedisiplinan manifes dan kelaikan kapal sebelum berlayar.

Ketidakakuratan data manifes dan pengawasan yang longgar sering kali menjadi momok dalam investigasi kecelakaan laut di Indonesia. Kita harus mempertanyakan secara kritis: bagaimana pengawasan dari pihak otoritas pelabuhan setempat sebelum kapal ini lepas jangkar? Apakah ada celah hukum atau kelalaian dalam verifikasi kelaiklautan serta kapasitas muatan? Jika ada pembiaran terhadap standar keselamatan demi keuntungan ekonomi semata, maka ini bukan lagi sekadar kecelakaan, melainkan kelalaian pidana yang mengorbankan nyawa manusia.

Meskipun kita mengapresiasi kerja keras Basarnas dan TNI AL yang memperluas area pencarian hingga ribuan mil laut, kita tidak boleh menutup mata bahwa teknologi deteksi dini dan penyelamatan kita masih tertinggal. Menemukan korban selamat setelah empat hari terombang-ambing menunjukkan betapa tangguhnya fisik para korban, namun di sisi lain, ini juga menunjukkan lambatnya respons lokalisasi titik koordinat awal tenggelamnya kapal. Mengapa sistem pemancar darurat (EPIRB) kapal tidak berfungsi maksimal, atau apakah kapal ini bahkan tidak memilikinya?

Pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan dan Syahbandar, tidak boleh terus-menerus berlindung di balik tameng "faktor cuaca buruk". Cuaca ekstrem adalah variabel alam yang sebenarnya bisa diprediksi melalui data BMKG. Yang tidak bisa ditoleransi adalah ketidakpedulian terhadap regulasi keselamatan. Harus ada audit investigatif yang menyeluruh terhadap izin berlayar KM Nurul Salsa. Jika ditemukan adanya kongkalikong atau pembiaran terhadap standar keselamatan, sanksi hukum yang tegas harus dijatuhkan agar tragedi memilukan seperti ini tidak terus berulang di perairan nusantara.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa penyebab tenggelamnya KM Nurul Salsa di perairan Selayar?
A: Penyebab pasti tenggelamnya KM Nurul Salsa masih dalam proses investigasi mendalam oleh pihak berwenang, namun faktor cuaca buruk dan kelaikan kapal menjadi fokus utama penyelidikan.

Q: Berapa jumlah korban yang sudah ditemukan selamat dan yang masih hilang?
A: Hingga hari kelima operasi SAR, dari total 78 orang di kapal, 57 orang dinyatakan selamat, 1 orang meninggal dunia, dan 20 orang lainnya masih dalam proses pencarian aktif.

Q: Kapal apa saja yang dikerahkan dalam operasi penyelamatan ini?
A: Operasi SAR diperkuat oleh armada gabungan yang terdiri dari KN SAR Puntadewa 250, KN SAR Pacitan 102, KN SAR Kamajaya, KRI Marlin 877, dan KRI Hiu 634.