Demi 'Cábala' dan Gelar Juara: Alasan Unik Presiden Argentina Javier Milei Absen di Final Piala Dunia 2026

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Demi 'Cábala' dan Gelar Juara: Alasan Unik Presiden Argentina Javier Milei Absen di Final Piala Dunia 2026
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Argentina Javier Milei memutuskan tidak menghadiri final Piala Dunia 2026 secara langsung demi menjaga ritual takhayul (cábala) demi kemenangan timnya.
  • Milei memilih menonton dari kediaman resmi di Olivos dengan mengenakan jaket khusus, sebuah kebiasaan yang ia yakini membawa keberuntungan.
  • Tradisi takhayul atau ritual keberuntungan ini juga mengakar kuat di kalangan skuad Argentina, mulai dari pelatih Lionel Scaloni hingga megabintang Lionel Messi.

Keputusan seorang kepala negara untuk tidak menghadiri laga final turnamen olahraga terbesar di dunia biasanya didasari oleh isu diplomatik, krisis domestik, atau agenda kenegaraan yang mendesak. Namun, bagi Presiden Argentina, Javier Milei, keputusannya untuk absen dalam final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium, Amerika Serikat, murni didasari oleh komitmen terhadap tradisi metafisika kolektif negaranya: cábala (takhayul sepak bola).

Argentina dijadwalkan bertanding melawan Spanyol dalam laga pamungkas yang sangat dinantikan. Alih-alih menduduki kursi VIP di stadion, Milei memilih untuk tetap berada di kediaman resmi kepresidenan di Olivos. Langkah ini diambil demi menjaga konsistensi ritual yang ia lakukan sepanjang turnamen, yang ia yakini menjadi faktor penentu kesuksesan Albiceleste melaju hingga ke babak final.

"Tidak mungkin (datang ke stadion). Saya akan terus menonton semua pertandingan dari Olivos," ujar Milei dalam wawancara yang dikutip oleh The New York Times. Presiden berusia 55 tahun tersebut bahkan membagikan detail ritualnya yang sangat spesifik, termasuk mengenakan jaket perusahaan minyak tertentu di tengah cuaca dingin tanpa menyalakan pemanas ruangan—sebuah kebiasaan yang lahir secara tidak sengaja saat laga melawan Swiss.

Fenomena ini bukanlah anomali individu, melainkan refleksi dari psikologi kultural Argentina yang mendalam. Di kubu tim nasional, pelatih Lionel Scaloni juga dikenal taat pada ritualnya sendiri, seperti selalu menginjakkan kaki kanan terlebih dahulu saat memasuki lapangan pertandingan. Sementara itu, kapten tim Lionel Messi, bersama Rodrigo De Paul dan Presiden Federasi Sepak Bola Argentina (AFA) Claudio Tapia, mempertahankan tradisi berfoto bersama sebelum laga besar—sebuah ritual yang terbukti sukses mengantarkan mereka meraih trofi Copa America 2021 dan Piala Dunia 2022.

Analisis Pakar

Dari perspektif analisis hubungan internasional dan sosiologi politik, keputusan Presiden Javier Milei untuk memprioritaskan cábala di atas kehadiran diplomatik di panggung global adalah sebuah langkah komunikasi politik yang sangat diperhitungkan. Di Argentina, sepak bola bukan sekadar olahraga; ia adalah instrumen kohesi sosial terbesar dan elemen inti dari identitas nasional. Dengan menyelaraskan dirinya dengan takhayul kolektif rakyat, Milei secara efektif membangun narasi bahwa ia adalah bagian dari massa—seorang pemimpin yang bersedia mengorbankan gengsi diplomatik demi 'keselamatan spiritual' tim nasionalnya.

Secara historis, Argentina adalah negara yang sering kali didera polarisasi politik yang tajam dan krisis ekonomi yang berulang. Dalam konteks ini, sepak bola berfungsi sebagai katarsis nasional. Ketika seorang presiden memilih untuk tunduk pada aturan tidak tertulis dari takhayul sepak bola, ia sedang melakukan diplomasi domestik yang sangat kuat. Milei, yang dikenal dengan gaya politiknya yang tidak ortodoks dan populis, memahami bahwa bagi masyarakat Argentina, kegagalan mematuhi cábala dapat dianggap sebagai bentuk pengkhianatan terhadap keberuntungan nasional.

Selain itu, tindakan ini menunjukkan bagaimana soft power olahraga dapat mendikte perilaku para aktor politik tertinggi. Di panggung internasional, kehadiran seorang kepala negara di final Piala Dunia sering kali digunakan untuk proyeksi citra negara dan diplomasi bilateral tingkat tinggi. Namun, dengan memilih absen, Milei mengirimkan pesan bahwa kedaulatan budaya dan sentimen emosional domestik jauh lebih berharga dibanding formalitas geopolitik di tribun kehormatan stadion Amerika Serikat.

Pada akhirnya, fenomena ini membuktikan bahwa di era modern yang serba rasional dan berbasis data, elemen-elemen irasional seperti mitos, ritual, dan takhayul tetap memegang peranan krusial dalam membentuk keputusan politik dan sosial. Bagi Milei dan jutaan rakyat Argentina, batas antara takdir, usaha keras, dan sepotong jaket keberuntungan di Olivos adalah garis tipis yang menentukan harga diri bangsa di mata dunia.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa Presiden Argentina Javier Milei tidak hadir langsung di final Piala Dunia 2026?
A: Javier Milei memilih absen karena mempercayai takhayul atau ritual keberuntungan (cábala). Ia meyakini bahwa menonton pertandingan dari kediaman resminya di Olivos dengan jaket khusus membawa keberuntungan bagi timnas Argentina.

Q: Apa yang dimaksud dengan tradisi 'cábala' dalam budaya sepak bola Argentina?
A: 'Cábala' adalah istilah sosiokultural di Argentina yang merujuk pada ritual, kebiasaan, atau takhayul tertentu yang dilakukan secara konsisten oleh pemain, pelatih, maupun suporter untuk memastikan kemenangan tim.

Q: Siapa saja tokoh timnas Argentina yang juga memiliki ritual khusus?
A: Selain Presiden Milei, pelatih Lionel Scaloni selalu menginjak lapangan dengan kaki kanan terlebih dahulu, sementara Lionel Messi, Rodrigo De Paul, dan Presiden AFA Claudio Tapia rutin berfoto bersama sebelum laga-laga besar.