Kala Massa Demo Nyanyi Lagu Perlawanan Bella Ciao
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

MATAHARI hampir tenggelam ketika orator demonstrasi "Mosi Tidak Percaya Prabowo-Gibran" mendendangkan lagu perlawanan asal Italia berjudulBella Ciaodi Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat pada Jumat, 17 Juli 2026. "O partigiano, portami via," ujar salah satu orator dari Aliansi Majelis Perjuangan Rakyat itu melantunkan penggalan lagu tersebut.
LaguBella Ciaomerupakan lambang perlawanan yang dinyanyikan para wanita mondina—sebutan untuk pekerja lapangan— yang bekerja di sawah Italia pada akhir abad ke-19.Kemudian dinyanyikan juga oleh kelompok fasis Italian Resistance Movement pada masa Perang Dunia II sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah fasis yang dipimpin oleh Benito Mussolini. Setelah itu pun lagu ini masih dipakai untuk konteks perlawanan.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Begitu mendengar lagu yang populer lewat serial Money Heist itu, peserta demonstrasi lainnya ikut bernyanyi: "o bella ciao, bella ciao, bella ciao, ciao, ciao!" sembari mengepalkan tangan ke atas.
Peristiwa itu terjadi seusai polisi melarang pesertademonstrasimenggeser mobil komando ke kawasan putar balik — supaya aksi mereka menjadi perhatian para pengendara di jalanan. Massa aksi itu sebenarnya sudah gundah. Karena sejak siang, polisi melarang mereka menyuarakan aspirasi di Patung Kuda, dekat Monumen Nasional atau Monas.
Jalan menuju ke sana juga sudah disekat. Polisi beralasan, kawasan tersebut masuk ke dalam radius militer. Negosiasi sempat terjadi, namun menemui jalan buntu. Akhirnya, massa aksi yang kebanyakan mahasiswa itu terpaksa berdemo di Jalan Medan Merdeka Selatan.
Menjelang batas waktu demonstrasi pada pukul 17.30 WIB, mereka ingin menggeser mobil komando. Karena gayung tak bersambut, walhasil massa aksi yang bergeser. Di sana, mereka bernyanyi, bermain bola, bahkan ular naga.
Tampak dua mahasiswa berdiri berhadap-hadapan sembari menautkan tangan di atas kepala, membentuk lengkungan tinggi — seperti gerbang kecil. Peserta aksi lainnya berbaris sambil memegang pundak rekannya dari belakang. Sembari berjalan melewati gerbang, mereka mendendangkan lagu: "Ganyang, ganyang, ganyang Prabowo! Ganyang Prabowo sekarang juga!"
Di penghujung aksi, perwakilan Aliansi Majelis Perjuangan Rakyat membacakan pernyataan sikap. "Pada hari ini, kami sangat kecewa karena aksi kami yang damai — tidak sampai ke kesepakatan awal — aksi di Patung Kedua," ujar Koordinator Lapangan dari Universitas Negeri Jakarta, Afzaki.
Setelah unjuk rasa ini, kata mahasiswa itu, mereka akan terus melawan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Untuk itu, mereka akan mengkonsolidasikan aksi berikutnya bersama elemen mahasiswa dan masyarakat sipil lainnya.
Lebih jauh Jenderal Lapangan Aliansi Majelis Perjuangan Rakyat, An Nur, menjelaskan alasan para mahasiswa tidak mengenakan almamater. "Kami tidak ingin mengkotak-kotakan bahwasanya ini mahasiswa, ini masyarakat sipil. Karena bergerak satu, sama, dengan tuntutan yang sama," ujarnya kepada wartawan.
Ia tak menjawab ketika ditanya kekhawatiran aksi disusupi oleh pihak tertentu. Namun, menurut An Nur, Aliansi Majelis Perjuangan Rakyat telah memiliki skema supaya demonstrasi tidak disusupi. "Ketika ada provokasi, pasti bukan kami. Kami akan langsung menangkapnya kalau terjadi," ujarmahasiswaUNJ itu.
Pilihan editor:Pidana Anyar untuk Aktivis
BERITA TERKAIT

Mundur ke Belakang? Di Balik Skenario Penarikan Kembali SPP SMA/SMK Negeri di Jawa Barat

Detail Bantahan Hotman Paris Soal Kasus Febrie Adriansyah
