Iran Melempar Batu kepada Menteri Luar Negeri: Kudeta Perlahan di Mata Hardline?

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Iran Melempar Batu kepada Menteri Luar Negeri: Kudeta Perlahan di Mata Hardline?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Massa garis keras Iran mengamuk ke pejabat pemerintah selama pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, menuduh mereka merencanakan kudeta perlahan.
  • Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Presiden Masoud Pezeshkian menjadi sasaran kemarahan karena peran mereka dalam negosiasi dengan Amerika Serikat.
  • Absen Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei memperkuat spekulasi tentang konflik kekuasaan di dalam struktur pemerintahan Iran pasca-perang.

Dalam upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran awal Juli, massa garis keras Iran membabi buta menyerang pejabat pemerintah, termasuk Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang dilempari batu dan dikucilkan sebagai 'pengkhianat'. Insiden ini mencerminkan ketegangan mendalam antara kelompok konservatif dan pemerintah yang sedang memimpin negosiasi dengan Amerika Serikat dan Israel.

Presiden Masoud Pezeshkian, yang baru-baru ini ditunjuk sebagai negosiator Iran, juga menjadi sasaran kemarahan. Saat ia mengiringi peti jenazah Khamenei, sebagian massa menggumamkan 'matilah si pengkhianat', menandakan ketidakpercayaan terhadap langkah-langkah diplomasi yang dianggap mengorbankan prinsip revolusi Islam.

Para hardliner mengklaim bahwa pemerintahan saat ini, yang dipimpin oleh Ghalibaf dan Araghchi, sedang melakukan 'kudeta lunak' dengan menangguhkan parlemen, menghindari kebijakan Khamenei, dan menindasi demonstrasi rakyat. Keluhan ini semakin relevan mengingat ketidakhadiran Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei yang tak jelas alasannya, baik karena alasan keamanan maupun kemampuan untuk menjalankan tugas.

Menurut analis Iran Arash Azizi, ketidakhadiran Mojtaba mengisyaratkan bahwa kelompok pro-negotiasi secara efektif menguasai kendali negara, sekaligus memperkuat narasi 'kudeta' dari hardliner. Mahmoud Nabavian, anggota parlemen radikal, menyebutkan bahwa kekosongan ini adalah 'peringatan' bagi rakyat Iran untuk waspada terhadap upaya menggulingkan struktur kekuasaan. Hal ini terkait erat dengan ketegangan di Timur Tengah yang semakin memanas.