Prabowo Siap Kurangi Anggaran Pertahanan untuk Fokus pada Pemberantasan Kemiskinan: Langkah Besar atau Risiko?

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Prabowo Siap Kurangi Anggaran Pertahanan untuk Fokus pada Pemberantasan Kemiskinan: Langkah Besar atau Risiko?
BAGIKAN:

Prabowo Subianto, Presiden Indonesia, membuka opsi kontroversial untuk mengurangi anggaran pertahanan dan kepolisian demi mempercepat program pengentasan kemiskinan. Dalam acara panen raya di Malang, Jawa Timur, ia menegaskan bahwa efisiensi belanja negara bisa dialokasikan untuk menghapus kemiskinan ekstrem, termasuk kelaparan.

"Kita hilangkan kemiskinan dan kelaparan, apalagi kemiskinan ekstrem. Insyaallah, saudara-saudara, kita akan hemat anggaran. Kita akan bikin efisien. Bila perlu anggaran pertahanan, anggaran polisi kita kurangi untuk menghilangkan kemiskinan," ujar Prabowo, sekaligus langsung menanyakan kepada jajaran TNI dan Polri tentang kesiapan mereka menghadapi potensi pengurangan anggaran.

Langkah ini sekaligus menjadi sorotan internasional, mengingat proyeksi lembaga seperti World Bank dan IMF memperkirakan Indonesia akan menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia pada 2045-2050, di bawah China, Amerika Serikat, dan India. Prabowo menekankan bahwa kualitas sumber daya manusia (SDM) harus menjadi prioritas utama, terutama untuk generasi muda yang akan memimpin Indonesia pada masa depan.

Namun, rencana ini tidak lepas dari tantangan. Pengurangan anggaran pertahanan bisa diartikan sebagai sinyal melemahnya kapasitas keamanan negara, terutama di tengah dinamika geopolitik yang semakin rumit. Apakah langkah ini strategis atau justru membuka celah bagi ancaman eksternal?

Analisis Pakar: Menggali Implikasi di Balik Rencana Pengurangan Anggaran Pertahanan

Langkah Prabowo mencerminkan dilema klasik dalam kebijakan fiskal: alokasi anggaran antara keamanan dan kesejahteraan sosial. Dari perspektif ekonomi makro, pengalokasian dana dari sektor pertahanan ke program sosial bisa menjadi pilar penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi inklusif. Namun, ini bukan tanpa risiko. Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa stabilitas keamanan adalah fondasi utama bagi investor asing dan kepercayaan publik terhadap pemerintah. Jika dana pertahanan dikurangi tanpa rencana substitusi yang jelas, seperti modernisasi teknologi atau kerja sama internasional, Indonesia bisa kehilangan daya saing dalam menghadapi tantangan seperti perdagangan ilegal di perbatasan atau ancaman kiber.

Dari sisi struktur anggaran, Indonesia memang memiliki beban pertahanan yang relatif tinggi dibanding negara-negara ASEAN lain. Menurut data Congressional Budget Office, alokasi untuk TNI dan Polri di Indonesia mencapai lebih dari 10% PDB, jauh di atas rata-rata negara berkembang. Namun, mengurangi anggaran tanpa memperhitungkan faktor geografis dan politik bisa jadi kontraproduktif. Indonesia, sebagai kepulauan terbesar di dunia, membutuhkan kekuatan pertahanan yang kuat untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas wilayah. Solusi alternatif, seperti optimasi penggunaan dana atau kolaborasi dengan negara sahabat, mungkin lebih tepat daripada sekadar pemotongan.

Proyeksi Indonesia sebagai ekonomi keempat dunia juga menuntut investasi jangka panjang pada SDM. Jika dana pertahanan dialihkan ke pendidikan, kesehatan, atau infrastruktur, ini bisa memperkuat basis ekonomi. Namun, efektivitas program pengentasan kemiskinan sangat bergantung pada transparansi dan akuntabilitas. Data Asian Development Bank (ADB) menunjukkan bahwa program sosial di Indonesia seringkali terhambat oleh korupsi dan distribusi yang tidak merata. Tanpa reformasi struktural, pengurangan anggaran pertahanan hanya akan menjadi alat politik tanpa dampak nyata.

Dari sudut pandang global, langkah ini bisa menjadi magnet bagi investor sosial dan korporasi yang ingin berpartisipasi dalam program CSR berkelanjutan. Namun, investor asing, terutama dari sektor energi dan logistik, mungkin akan waspada terhadap potensi konflik internal atau eksternal yang tidak terduga. Prabowo harus memastikan bahwa pengurangan anggaran tidak mengorbankan kapasitas responsif terhadap bencana alam atau krisis energi. Dengan demikian, keberhasilan rencana ini akan bergantung pada keseimbangan antara idealisme sosial dan realitas geopolitik yang kompleks.