Indonesia Masuk Dewan Pengambil Keputusan AI Global: Apa Ruginya bagi Ekonomi Digital Nusantara?
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

JAKARTA, 17 Juli 2026 – Indonesia resmi menorehkan namanya sebagai salah satu negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO), organisasi internasional yang dibentuk di bawah naungan PBB untuk mengatur tata kelola kecerdasan buatan (AI) secara global. Kemegahan ini diumumkan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto selama konferensi pers virtual dari Shanghai, China.
Menjadi founding member WAICO memberikan Indonesia keunggulan kompetitif dalam mengakses diskusi strategis tentang arah perkembangan AI dunia. Airlangga menegaskan bahwa langkah ini merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia tidak hanya menjadi pengamat, tetapi aktor sentral dalam pembentukan aturan main teknologi yang diproyeksikan akan merevolusi struktur ekonomi global.
"Kami ingin memastikan AI berkembang secara inklusif, aman, etis, dan tidak dimonopoli oleh kekuatan tertentu," ujar Airlangga. Ia menekankan bahwa WAICO akan menjadi landasan bagi pengembangan AI yang selaras dengan prinsip PBB: human-centered, tepercaya, dan berfokus pada kesejahteraan universal.
Indonesia kini menargetkan pertumbuhan ekonomi digital dari US$130 miliar pada 2024 menjadi US$366 miliar pada 2030. Bahkan, dengan implementasi ASEAN Digital Economic Framework Agreement (DEFA), target tersebut bisa melonjak ke US$600 miliar. WAICO diharapkan menjadi katalis utama dalam mencapai ambisi tersebut.
Pendirian WAICO ditandatangani Airlangga di sela acara World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, setelah pertemuan tinggi bersama Presiden China Xi Jinping dan Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Kesepakatan ini menandai komitmen multilateral untuk menghindari dominasi AI oleh segelintir negara atau korporasi besar.
Analisis Mendalam: AI sebagai Pangsa Pasar atau Ancaman Keamanan?
Keputusan Indonesia untuk menjadi founding member WAICO bukan sekadar simbol diplomasi teknologi. Ini adalah langkah strategis untuk memperkuas posisi negara ke-4 negara terbesar di dunia dalam hal potensi AI. Menurut data McKinsey, AI bisa menambah GDP global sebesar 1,2% per tahun hingga 2030. Indonesia, dengan populasi 270 juta jiwa dan ekonomi digital yang sedang menggebu, berada di garis start yang tepat untuk memanfaatkan momentum ini.
Namun, tantangan besar menanti. Data BPS pada 2023 menunjukkan bahwa hanya 30% UMKM di Indonesia yang sudah mengadopsi teknologi digital secara maksimal. Jika AI tidak diintegrasikan secara inklusif, risiko terjadinya kesenjangan digital akan semakin lebar. Di sinilah peran WAICO menjadi krusial – bukan hanya sebagai forum diskusi, tetapi juga sebagai penyedia standar global yang memastikan AI tidak menjadi alat eksklusi.
Dari sisi geopolitik, kehadiran Indonesia di WAICO juga menjadi benteng diplomasi soft power. Dengan menjadi mediator antara blok Barat dan Timur, Indonesia bisa memperkuat narasi "AI untuk keadilan global" – sebuya mengadvokasi hak negara-negara berkembang untuk mengakses teknologi secara adil. Ini juga peluang bagi Indonesia untuk menjadi hub pelatihan AI di kawasan Asia Tenggara, mengingat potensi SDM muda yang melimpah.
Namun, tanpa regulasi domestik yang tegas, ambisi AI Indonesia bisa berujung kosong. Pemerintah perlu mempercepat pembentukan regulasi AI yang berbasis etika, sekaligus meningkatkan investasi di R&D. Jika dibiarkan, Indonesia berisiko jadi konsumen pasif AI asing, bukan pembuat aturan. WAICO adalah pintu gerbang, tapi tanpa infrastruktur yang kokoh, Nusantara bisa terlempar ke jurang inovasi.
BERITA TERKAIT

Super League Menanti! Persija Gelar Latihan Terbuka ke-4, Siapkan Formasi Juara 2026/27
Bencana Longsor Hebat di Chongqing: Lebih dari 60 Warga Mengungsi, Pemerintah Tingkatkan Respons Darurat
