Kebakaran Dua Rumah di Parepare: Anak Main Korek Api atau Kelalaian Konstruksi?
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Parepare, Sulawesi Selatan – Pada Kamis, 16 Juli 2024, dua rumah panggung semi‑permanen di kawasan permukiman padat terbakar habis dalam hitungan menit. Menurut saksi mata, api konon bermula dari seorang anak yang bermain‑main dengan korek api di dalam kamar yang sedang direnovasi.
"Dari anak‑anak kecil membakar. Cucu tukang bakar‑bakaran kertas, cepat sekali api membesar," ujar pemilik rumah, Hendra, kepada wartawan. Saat api melalap, Hendra berusaha menyelamatkan dokumen penting seperti KTP, KK, dan surat‑surat berharga lainnya. Upaya itu berujung pada luka bakar pada tangannya, meski ia berhasil menghindari cedera yang lebih parah.
Tim Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Parepare mengerahkan sembilan unit kendaraan pemadam untuk memadamkan kobaran. Namun, struktur bangunan yang mayoritas terbuat dari kayu serta kondisi cuaca yang berangin kencang mempercepat penyebaran api, sehingga kedua rumah hangus dalam waktu kurang dari satu jam. "Potensi penyebaran apinya lebih besar, pemicunya adalah bahan kayu ditambah cuaca angin kencang, sehingga api cepat berkobar dan menjalar," kata Kabid Damkar Parepare, Fransiskus.
Kapolres Parepare, AKBP Indra Waspada Yudha, menegaskan bahwa penyebab kebakaran masih dalam tahap penyelidikan. "Info awal seperti itu, tapi masih didalami ini," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Analisis Pakar
Kasus ini menimbulkan pertanyaan mendasar tentang keamanan konstruksi dan pengawasan pada rumah panggung yang masih menggunakan material tradisional. Meskipun anak bermain korek api menjadi faktor pemicu yang paling banyak disorot, tidak dapat diabaikan bahwa desain rumah yang tidak memadai, kurangnya sistem deteksi kebakaran, serta minimnya edukasi keselamatan di lingkungan permukiman menjadi faktor yang memperparah dampak kebakaran.
Secara historis, rumah panggung di Sulawesi Selatan dibangun dengan mempertimbangkan ventilasi alami dan kemudahan perbaikan, namun tidak dirancang untuk menahan beban api. Penggunaan kayu mentah tanpa perlakuan anti‑api, serta penempatan bahan mudah terbakar (seperti kertas, kain, dan bahan bangunan ringan) di dalam ruangan yang sedang direnovasi, menciptakan "bahan bakar" yang sempurna. Pemerintah daerah perlu meninjau kembali regulasi bangunan tradisional, mengintegrasikan standar keselamatan kebakaran yang lebih ketat, dan menyediakan pelatihan bagi warga tentang penanganan api sederhana.
Selain itu, peran orang tua dan pengasuh dalam mengawasi anak‑anak kecil menjadi sorotan. Kebiasaan memberi anak akses bebas ke korek api atau bahan mudah terbakar tanpa pengawasan jelas merupakan kelalaian yang harus diatasi melalui program edukasi keluarga. Pemerintah kota dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan dan organisasi masyarakat untuk menyelenggarakan kampanye keselamatan rumah tangga, termasuk penyuluhan tentang bahaya korek api dan pentingnya menempatkan alat pemadam api ringan di setiap rumah.
Jika tidak ada tindakan preventif yang konkret, insiden serupa dapat terulang, mengancam nyawa dan harta benda warga. Penegakan hukum terhadap kelalaian, baik dari pihak pemilik rumah yang tidak menerapkan standar keamanan maupun dari pihak yang menyalurkan korek api kepada anak, harus dipertimbangkan. Sebuah pendekatan holistik—yang menggabungkan regulasi bangunan, edukasi publik, dan penegakan hukum—adalah kunci untuk memutus rantai kebakaran yang berpotensi meluas di wilayah rawan seperti Parepare.
BERITA TERKAIT

Bencana Tanah Longsor di Chongqing: Ribuan Warga Mengungsi setelah Rumah Hancur

Eksklusif! Kolinger Bongkar Rahasia Simic yang Membawa Sang Bek Raksasa ke Pelukan Persija!
