Iran Klaim Serangan Kedua ke Pangkalan AS di Yordania, Konflik Meluas di Asia Barat

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Iran Klaim Serangan Kedua ke Pangkalan AS di Yordania, Konflik Meluas di Asia Barat
BAGIKAN:

Iran kembali menyorot ketegangan di kawasan Timur Tengah dengan mengklaim serangan rudal balistik ke pangkalan udara Amerika Serikat (AS) di Azraq, Yordania, pada Kamis (16/7) dini hari WIB. Korps Garda Republik Iran (IRGC) menyatakan dalam pernyataan resminya bahwa serangan tersebut menargetkan landasan pacu jet tempur F-18 AS serta pusat komando dan kendali baru di wilayah Asia Barat, menggunakan rudal Kheibar-Shekan. Serangan ini diklaim sebagai pembalasan atas operasi AS yang menewaskan 121 anak penderita kanker di Ahvaz dan 168 anak di sekolah di Minab pada Maret lalu.

Mengklaim keberhasilan operasi, IRGC menyerukan kepada rakyat Yordania untuk tidak membiarkan tanah air mereka digunakan sebagai basis "kejahatan terhadap anak-anak". Pernyataan ini muncul setelah militer Yordania mengonfirmasi telah mencegat delapan rudal Iran yang ditujukan ke pangkalan tersebut. Serangan ini menjadi yang kedua kalinya dalam sepekan, setelah IRGC sebelumnya mengklaim menghancurkan fasilitas serupa di Azraq dan menargetkan Armada Kelima AS di Bahrain pada Selasa (14/7).

Konflik ini mencerminkan eskalasi ketegangan antara Iran dan AS yang sudah berlangsung sejak tahun 2020, termasuk serangan drone dan penembakan rudal yang bertubi-tubi. Yordania, sebagai sekutu AS di wilayah tersebut, kini terjepit antara komitmen aliansi dan keinginan menjaga stabilitas internal. Sementara AS belum memberikan respons resmi, serangan ini diperkirakan akan memperparah dinamika geopolitik yang sudah rumit di kawasan.

Analisis Pakar

Serangan Iran di Azraq bukan sekadar aksi militer semata, melainkan manifestasi dari strategi jangka panjang Tehran untuk menantang hegemoni AS di Asia Barat. Dengan menargetkan pangkalan AS di Yordania, Iran ingin menunjukkan bahwa kemampuan interseptasinya terbatas, sekaligus memancing respons militer AS yang bisa memicu perang terbuka. Hal ini sejalan dengan pendekatan "perang gerilya" yang digunakan Iran selama dekade terakhir, memanfaatkan proxy dan kapabilitas rudal untuk menghindari konfrontasi langsung yang merugikan.

Dari sisi Yordania, tekanan internasional semakin meningkat. Sekutu AS yang kritis ini kini harus mempertimbangkan risiko menjadi target balas Iran, sementara juga menghadapi kritik domestik terkait keterlibatan dalam konflik luar negeri. Pemerintahan Yordania mungkin akan mencari jalan keluar melalui diplomasi, tetapi kemampuan Tehran untuk mengendalikan narasi sebagai "pembela anak-anak" bisa memperlemah posisi Yordania di mata publik global.

Jika eskalasi tidak dikendalikan, kawasan ini berpotensi jadi panggung perang saudara atau perang serbuan yang melibatkan negara-negara regional seperti Israel, Arab Saudi, dan bahkan pasukan koalisi AS. Iran sendiri telah menunjukkan kemampuan teknis yang lebih canggih dengan rudal Kheibar-Shekan, yang bisa menembus sistem pertahanan udara AS. Namun, keberhasilan operasi ini juga bisa memicu sanksi ekonomi yang lebih keras dari Barat, memperparah krisis ekonomi Iran yang sudah memanas.

Dari perspektif strategis, AS kini berada di posisi sulit. Mengingat peringkat kekuatan militer Iran yang lebih lemah secara konvensional, kebijakan AS harus lebih bijak untuk menghindari perang yang tidak diinginkan. Namun, tekanan politik internal di AS untuk "menindak" agresi Iran juga tidak bisa diabaikan. Solusi diplomatik seperti pertemuan di PBB atau mekanisme de-eskalasi harus dipercepat sebelum api konflik beni menyebar ke seluruh kawasan.