Honda Super-ONE: Mobil Listrik yang Bikin Adrenalin Melekat di Setiap Mil!

Otomotif
Raka MahendraRaka Mahendra
Raka Mahendra
Raka Mahendra
Jurnalis Otomotif

Pakar modifikasi kendaraan dan tren pasar motor di Asia Tenggara.

Honda Super-ONE: Mobil Listrik yang Bikin Adrenalin Melekat di Setiap Mil!
BAGIKAN:

Honda kembali menggugat konvensi dengan meluncurkan Super-ONE, mobil listrik pertamanya di Indonesia, melalui panggung GIIAS 2026. Dibandingkan pesaing yang terus menggadaikan kapasitas baterai dan jarak tempuh, Honda justru mengambil jalan berbeda: menghadirkan EV yang bukan cuma efisien, tapi juga bikin hati berdebar. Ini bukan sekadar mobil listrik—ini adalah manifesto Honda tentang kecintaan terhadap mobil.

Desain Super-ONE mengusung filosofi minimalis dengan dimensi ringkas, tapi tak kalah garap. Dari luar, mobil ini tampak lincah dan agresif, seakan siap menerjang jalanan. Namun, inti keunikan terletak pada inspirasi budaya Harajuku yang ditanamkan ke dalam setiap detail. Analog seperti kaset dan piringan hitam (vinyl) menjadi bahan studi untuk menciptakan karakter yang personal, menyeberangkan dunia otomotif ke ranah emosional. Ini adalah EV yang ingin Anda peluk, bukan sekadar dikendarai.

Di dalam kabin, layar sentuh 9 inci menjadi pusat kendali, terhubung langsung dengan ekosistem digital Honda CONNECT, Google, Apple CarPlay, dan Android Auto. Sebelum bergerak, panel instrumen menyambut pengemudi dengan animasi khusus yang menegaskan nuansa futuristik. Tak hanya itu, Honda menyertakan paket keselamatan Honda Sensing sebagai standar, memastikan pengalaman berkendara yang aman dan terjamin.

BOOST Mode adalah fitur yang paling memukau. Saat diaktifkan, tenaga mobil melonjak dari 47 kW menjadi 70 kW, bukan hanya di angka—suara knalpot, respons kemudi, bahkan nuansa kabin ikut berubah. Ini adalah EV yang bisa Anda “dikendalikan” secara emosional, bukan sekadar mengutak-atik parameter teknis. Baterai 29,6 kWh memberikan jangkauan hingga 274 km (WLTP), dan pengisian dari 0-80% cuma butuh 30 menit. Meski harga belum diumumkan, ini adalah tawaran yang patut diantisipasi.

Analisis Pakar: Honda Super-ONE, Apakah Ini EV yang Bisa Menggoyang Pasar Indonesia?

Honda Super-ONE bukan sekadar produk baru—ini adalah pernyataan strategis dari Honda untuk menaklukkan pasar EV di Indonesia. Dengan menekankan emotional connection dan sensasi berkendara, Honda tampaknya ingin menyasar segmen pengemudi muda yang ingin EV yang tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga punya “jiwa”. Pendekatan ini berbeda dari pesaing seperti Nissan Ariya atau Hyundai Ioniq yang lebih fokus pada efisiensi dan teknologi. Namun, pertanyaannya: apakah rakyat Indonesia siap membayar premium untuk “keunikan emosional”? Jika harga Super-ONE terlalu tinggi, ini bisa jadi mimpi yang tak tercapai.

Dari sisi teknis, BOOST Mode adalah fitur yang cukup menarik. Dengan meningkatkan tenaga hingga 50%, Honda ingin menunjukkan bahwa EV bisa dinikmati seperti mobil sport. Namun, saya curiga apakah fitur ini hanya “hiasan” atau benar-benar memberikan pengalaman berbeda. Tanpa data tentang torsi maksimal atau penggunaan bahan baku untuk baterai, sulit untuk menilai apakah Super-ONE bisa bersaing dengan Tesla Model 3 atau BYD Dolphin dalam hal performa. Honda perlu transparan pada aspek ini agar tidak terlalu “bermime”.

Keputusan Honda untuk memilih GIIAS 2026 sebagai panggung debut Asia Tenggara juga patut diapresiasi. Indonesia memang menjadi pasar strategis, terutama dengan rencana pemerintah untuk mengadopsi EV secara masif. Namun, tantangan besar menanti: infrastruktur pengisian daya masih terbatas, dan kebanyakan konsumen masih ragu dengan EV. Honda harus tidak hanya menawarkan produk yang menarik, tapi juga ekosistem pendukung yang kuat, seperti jaringan pengisian dan layanan purna jual.

Dari sudut pandang saya sebagai reviewer otomotif, Super-ONE adalah langkah berani yang bisa memicu persaingan yang sehat di pasar EV Indonesia. Namun, keberhasilannya akan sangat bergantung pada harga dan strategi pasar. Jika Honda bisa menawarkan harga kompetitif dengan fitur yang memadukan teknologi dan emosi, ini bisa jadi mobil yang mengubah pola pikir konsumen. Tapi jika hanya sekadar “gadget mewah”, saya khawatir ini akan jadi koleksi museum karena terlalu eksklusif untuk kalangan menengah.