China Unggul AS di Mata Dunia: Xi Jinping 'Mengalahkan' Trump dalam Persepsi Global
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Jakarta, CNBC Indonesia – Persepsi internasional terhadap Amerika Serikat (AS) mengalami erosi signifikan pada 2026, mengungkapkan pergeseran paradigma global di tengah ketegangan geopolitik yang semakin kompleks. Survei terbaru Pew Research Center menunjukkan bahwa China kini dianggap lebih positif daripada AS di 25 dari 36 negara yang disurvei, termasuk dua mitra strategis AS: Kanada dan Meksiko. Ini adalah perubahan historis yang belum pernah terjadi dalam dua dekade terakhir.
Menurut hasil jajak pendapat yang melibatkan lebih dari 42.000 responden dari Februari hingga Mei 2026, 22 negara juga memberikan penilaian lebih baik kepada Presiden China Xi Jinping dibandingkan Presiden AS Donald Trump. Negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, dan Inggris ikut mengikuti tren ini, sementara hanya enam negara—Israel, Jepang, India, Korea Selatan, Filipina, dan Polandia—yang masih memandang AS lebih baik.
Laura Silver, Associate Director Pew Global Attitudes Research, menyatakan bahwa ini adalah pertama kalinya China unggul secara nyata dalam persepsi global sejak Pew mulai melacak opini sekitar 20 tahun lalu. Ia menyebut faktor pandemi Covid-19 yang sudah tidak relevan lagi, serta kebijakan luar negeri AS di bawah Trump sebagai penyebab utama penurunan citra. 'Langkah-langkah seperti tuntutan AS atas Greenland, operasi militer yang menangkap pemimpin Venezuela, hingga sikap AS dalam konflik Israel-Hamas di Gaza justru memperburuk citra AS di mata dunia,' ujarnya.
Meski demikian, AS tetap unggul dalam aspek penghormatan terhadap kebebasan pribadi warga, meski keunggulan ini terus menyusut. Kedutaan Besar China di Washington menyambut hasil survei sebagai pengakuan atas 'pencapaian tata kelola dan kemajuan pembangunan.'
Analisis Mendalam: Dampak Ekonomi dari Pergeseran Persepsi Global
Perubahan persepsi ini bukan sekadar fenomena politik semata, melainkan cerminan pergeseran keseimbangan ekonomi dan kepercayaan institusional global. China, dengan proyek infrastruktur megah seperti Belt and Road Initiative (BRI), telah menjadi mitra ekonomi yang dianggap lebih andal dibandingkan AS yang semakin terlihat agresif secara geopolitik. Di mata negara-negara berkembang, khususnya di Asia dan Afrika, China ditatap sebagai 'penyelamat' yang menawarkan pendanaan tanpa syarat politik yang memberat. Ini berpotensi memperkuat ikatan ekonomi China dengan blok regional seperti ASEAN, yang pada 2026 semakin bergairah untuk diversifikasi mitra dagang.
Dari sisi investasi asing, pergeseran ini bisa memicu aliran modal keluar dari AS ke China. Jika persepsi negatif terhadap AS berlanjut, pasar saham dan obligasi AS mungkin akan mengalami tekanan, terutama di negara-negara yang semula kritis terhadap Beijing. Di sisi lain, China bisa memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi yuan sebagai mata uang cadangan alternatif AS. Bank Sentral China sudah lama berupaya memperluas penggunaan yuan dalam transaksi internasional, dan hasil survei ini bisa menjadi 'pendorong psikologis' bagi negara-negara untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.
Namun, kita harus waspada terhadap 'efek cahaya' dari survei ini. Periode Februar-Mei 2026 adalah masa-masa konflik AS-Israel-Iran, di mana AS dilihat sebagai pihak yang agresif. Jika konflik ini mereda atau AS mengganti kebijakan luar negeri, persepsi global bisa berubah kembali. Selain itu, China sendiri bukan tanpa kritik—terutama terkait hak asasi manusia dan praktik perdagangan yang tidak adil. Tantangan besar bagi Beijing adalah mempertahankan citra positifnya sambil menjaga kestabilan internal pasca-pandemi.
Dari perspektif Indonesia, hasil survei ini menuntut kita untuk lebih bijak dalam memilih mitra ekonomi. AS tetap memiliki keunggulan dalam inovasi dan teknologi, tetapi China punya daya tarik dalam stabilitas geopolitik dan investasi infrastruktur. Kita perlu memanfaatkan posisi strategis sebagai jembatan antara kedua kekuatan ini, sambil memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Jika global semakin condong ke Tiongkok, Indonesia bisa jadi kunci dalam rantai pasok strategis BRI—tapi harus waspada agar tidak jadi 'negara tamak' yang hanya mengambil untung tanpa memberikan kontribusi nyata.
BERITA TERKAIT

SDN di Kampung KB Hanya Diterima Satu Murid Baru, Guru Tetap Semangat Meski Fasilitas Modern Terapkan

SDN di Kampung KB Hanya Diterima Satu Murid: Fenomena Demografi atau Tantangan Pendidikan?
