AS Siapkan Serangan Besar ke Iran: Trump Buka Skenario Membongkar Strategi Militer dan Dampak Ekonomi Global

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

AS Siapkan Serangan Besar ke Iran: Trump Buka Skenario Membongkar Strategi Militer dan Dampak Ekonomi Global
BAGIKAN:

Jakarta, CNBC Indonesia – Serangan udara terbaru Amerika Serikat (AS) terhadap Iran bukan sekadar tindakan militer semata, melainkan langkah strategis untuk memperkuat opsi operasional jangka panjang. Tiga pejabil AS yang mengetahui rencana mengungkapkan, rangkaian serangan terhadap sistem pertahanan udara, radar pantai, situs rudal, drone, hingga aset maritim Iran bertujuan mempersiapkan panggung bagi operasi lebih besar jika diperlukan.

"Ini membantu mempersiapkan panggung, jika diperlukan," kata salah satu pejabat AS secara anonim, seperti dikutip Reuters. Langkah ini muncul setelah Presiden Donald Trump mengumumkan konflik dengan Iran secara resmi kembali dimulai, memicu spekulasi mengenai langkah Washington selanjutnya.

Meski Iran telah mengalami kerusakan militer akibat kampanye AS dan Israel sejak Februari 2026, negara ini tetap memiliki persediaan drone dan rudal yang signifikan. Konflik terus memanas, dengan Iran semakin aktif menyerang kapal tanker dan negara-negara di Teluk Arab. Sementara itu, Pentagon belum merespons permintaan komentar terkait laporan ini.

Trump sebelumnya memerintahkan militer AS untuk tidak menyerang fasilitas minyak Iran di sekitar Pulau Kharg, tetapi opsi merebut pulau strategis tersebut tetap terbuka. Ia menegaskan, "Jika kita melemahkan mereka cukup jauh dan cukup dalam, saya akan melakukannya." Ia juga mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran, termasuk kompleks bawah tanah Gunung Pickaxe.

Pakar militer CSIS, Mark Cancian, menilai bahwa ancaman Trump terhadap Pulau Kharg memiliki dua sisi. Meski dapat meningkatkan tekanan diplomatik, langkah ini justru mengungkap rencana AS secara terbuka, mengurangi keuntungan strategis militer.

Kritik dari anggota Kongres AS menggugat strategi Trump tidak mampu memaksa Iran memberikan konsesi politik. Bahkan, konflik justru memperkuat pengaruh Iran di Selat Hormuz, jalur yang menjadi salah satu dari lima utama pasokan minyak mentah dunia.

Analisis Mendalam: Risiko Militer vs. Dampak Ekonomi Global

Dari perspektif ekonomi makro, langkah AS di bawah Trump menimbulkan dilema strategis yang kompleks. Meski serangan udara dapat memberikan manfaat jangka pendek bagi keamanan energi global, risiko eskalasi konflik menjadi ancaman nyata bagi stabilitas pasar. Selat Hormuz, yang menjadi jalur krusial bagi 20% pasokan minyak dunia, berpotensi menjadi titik api yang memicu lonjakan harga energi. Bagi Indonesia, negara yang masih sangat bergantung pada impor minyak, lonjakan harga BBM bisa memperparah beban inflasi dan menggoyahkan rencana fiskal pemerintah.

Strategi Trump yang terbuka dalam mengungkap target operasi seperti Pulau Kharg justru mengurangi efektivitas militer AS. Dari sudut pandang bisnis, transparansi berlebihan dapat memberikan ruang bagi Iran untuk mempersiapkan diri, sekaligus menimbulkan ketidakpercayaan pasar global terhadap konsistensi kebijakan AS. Investor global mungkin akan beralih ke aset yang lebih aman, seperti obligasi pemerintah atau emas, sebagai respons terhadap ketidakpastian geopolitik.

Dari sisi diplomatik, ancaman AS terhadap program nuklir Iran berpotensi memperkuat koalisi negara-negara non-Blok dalam menentang sanksi atau intervensi militer. Ini bisa memperparah ketegangan internasional, terutama dengan negara-negara yang berdagang dengan Iran seperti China dan Rusia. Bagi ekonomi global, terutama negara-negara berkembang, larangan perdagangan dengan Iran bisa menurunkan pertumbuhan ekonomi regional.

Dari perspektif jangka panjang, langkah AS mungkin saja mempercepat de-dollarisasi ekonomi global. Iran telah lama berusaha mengurangi ketergantungan pada dolar AS, dan konflik ini bisa memperkuat aliansi ekonomi alternatif seperti yang digagas China dengan inisiatif mereka. Bagi Indonesia, ini menjadi tantangan bagi kebijakan diversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada mata uang dominan global.