Argentina Tak Tergoyahkan, Tapi Inggris Siap Guncang Semifinal Piala Dunia 2026

Olahraga
Dimas PratamaDimas Pratama
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Argentina Tak Tergoyahkan, Tapi Inggris Siap Guncang Semifinal Piala Dunia 2026
BAGIKAN:

Marietta, Georgia (ANTARA) – Menjelang laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Inggris di Stadion Atlanta, gelandang bintang Alpes Alexis Mac Allister menegaskan skuadnya tidak merasakan tekanan. Pernyataan itu terdengar tegas saat ia berlatih di Atlanta United Training Ground pada Selasa, 14 Juli.

"Kami tidak merasakan tekanan. Pengalaman kami di semifinal sebelumnya menjadi modal utama," ujar Mac Allister, yang kini berlabuh di Liverpool. Namun, ia tak menyepelekan lawan. "Inggris memiliki sederet pemain luar biasa dan dipimpin oleh Thomas Tuchel yang cerdas. Saya tidak terkejut mereka sampai di sini," tambahnya.

Mac Allister menekankan bahwa Argentina selalu menghormati lawan dengan menampilkan performa maksimal. "Setiap pemain siap mati‑matian demi bendera," katanya, menegaskan tekad tim asuhan Lionel Scaloni untuk mempertahankan trofi yang pertama kali diraih pada 2022.

Sejarah pertemuan kedua tim mencatat 14 pertemuan, dengan Inggris menang enam kali, Argentina tiga kali, dan lima kali berakhir imbang. Kemenangan Argentina terakhir atas Inggris di Piala Dunia terjadi pada perempat final 1998 (2‑2, Argentina menang 4‑3 lewat adu penalti). Momen paling ikonik tetap pertemuan 1986, ketika Diego Maradona mencetak gol “tangan Tuhan” dan “gol abad ini” untuk mengalahkan Inggris 2‑1.

Argentina kini menargetkan trofi keempatnya (1978, 1986, 2022) sementara Inggris hanya memiliki satu (1966). Tekanan mental, taktik, dan kebugaran menjadi faktor penentu dalam duel yang diprediksi akan menjadi pertarungan taktik antara Scaloni dan Tuchel.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat sepak bola yang telah menelusuri dinamika politik olahraga selama dua dekade, saya melihat dua hal krusial yang akan menentukan hasil laga ini. Pertama, kesiapan taktis Argentina tidak hanya bergantung pada pengalaman pemain senior, melainkan pada kemampuan Scaloni mengintegrasikan pemain muda yang belum terbukti di panggung dunia. Jika lini tengah tidak mampu menahan tekanan pressing tinggi Inggris, Argentina akan terpaksa menurunkan lini pertahanan yang rentan.

Kedua, Thomas Tuchel dikenal dengan fleksibilitas formasi dan adaptasi cepat selama pertandingan. Ia kemungkinan akan menurunkan sistem 3‑4‑3 yang menekankan kecepatan sayap dan pressing agresif. Hal ini dapat memaksa Argentina untuk bermain lebih defensif, menurunkan intensitas serangan yang selama ini menjadi senjata utama mereka.

Namun, faktor psikologis tidak kalah penting. Mac Allister menegaskan tidak ada tekanan, namun fakta bahwa Argentina adalah juara bertahan menambah beban ekspektasi publik dan media. Sementara Inggris, yang belum pernah menjuarai Piala Dunia sejak 1966, memiliki motivasi historis yang kuat. Jika Tuchel berhasil menyalakan semangat kebanggaan nasional, Inggris dapat mengubah dinamika pertandingan menjadi duel mental, bukan sekadar taktik.

Prediksi saya: pertandingan akan berakhir dengan selisih tipis, kemungkinan 1‑0 atau 2‑2 yang berlanjut ke adu penalti. Kunci kemenangan Argentina terletak pada kemampuan mereka menahan tekanan pressing Inggris selama 90 menit dan memanfaatkan peluang dari serangan balik cepat. Jika Inggris berhasil menembus pertahanan tinggi Scaloni, mereka berpeluang mengamankan tempat di final dan menulis ulang sejarah sepak bola Inggris.