S&P Global Naikkan Rating Indonesia ke BBB: Kredibilitas Kebijakan Ekonomi Terbukti

Ekonomi
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

S&P Global Naikkan Rating Indonesia ke BBB: Kredibilitas Kebijakan Ekonomi Terbukti
BAGIKAN:

Jakarta, 2026 - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, afirmasi S&P Global Ratings terhadap peringkat kredit sovereign Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil mencerminkan kepercayaan internasional terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah. Penilaian ini menjadi sorotan utama pasar keuangan global mengikuti proyeksi pertumbuhan ekonomi yang kuat dan kebijakan makroekonomi prudent yang diterapkan.

Dalam laporan terbarunya, S&P menilai Indonesia mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen per tahun, dengan proyeksi pertumbuhan riil mencapai 5,1 persen pada 2026 dan rata-rata 4,9 persen hingga 2029. Capaian pertumbuhan 5,6 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan I-2026 juga menjadi bukti konkret, didorong oleh belanja pemerintah dan percepatan pencairan anggaran.

Airlangga menekankan, keberhasilan ini tidak lepas dari komitmen pemerintah menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen PDB serta perbaikan administrasi perpajakan. Pertumbuhan pendapatan negara mencapai 19 persen pada lima bulan pertama 2026, dipicu oleh pulihnya penerimaan PPN dan royalti sektor sumber daya alam. Ia menambahkan, pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) diharapkan dapat memperbaiki tata kelola sektor komoditas serta mengurangi praktik miss-invoicing.

Meski demikian, S&P menyatakan risiko kontinjensi bagi pemerintah relatif terbatas, dengan aset sektor perbankan di bawah 60 persen PDB. Namun, agen rating tersebut menyarankan potensi peningkatan peringkat apabila terjadi penguatan struktural pada metrik fiskal dan eksternal, seperti penyempitan defisit anggaran mendekati 2 persen PDB serta stabilitas nilai tukar.

Analisis Pakar: Rating BBB, Tapi Masih Ada Risiko yang Tidak Terlihat

Affirmasi rating kredit sovereign Indonesia oleh S&P Global memang menjadi keberhasilan yang patut diacungi jempol. Namun, di balik angka-angka yang menggoda ini, terdapat dinamika struktural yang perlu diperhatikan. Pertama, proyeksi pertumbuhan 5 persen yang dianggap konsisten belum tentu mampu menutupi ketergantungan ekonomi Indonesia pada sektor sumber daya alam. Meskipun PT Danantara diharapkan sebagai solusi, tantangan dalam mengubah budaya korupsi dan praktik transfer pricing yang sudah terstruktur tetap menjadi hambatan nyata. Tanpa reformasi institusional yang mendalam, afirmasi ini berisiko hanya menjadi mimpi indah yang pudar.

Kedua, keberhasilan fisikalisasi kebijakan fiskal harus diimbangi dengan transparansi yang lebih baik. Defisit anggaran di bawah 3 persen PDB mungkin terlihat ideal, tetapi jika pencapaian tersebut didorong oleh alokasi anggaran yang tidak tepat atau proyek infrastruktur yang tidak produktif, dampak jangka panjangnya bisa merugikan. Airlangga menyebutkan 'prediktabilitas kebijakan' sebagai kunci, namun diperlukan bukti konkret bahwa kebijakan ini benar-benar berpihak pada rakyat biasa, bukan sekadar memenuhi standar pasar global.

Ketiga, meski risiko sistem keuangan dianggap rendah, ketergantungan pada sektor perbankan yang masih belum sepenuhnya terdiversifikasi menjadi catatan kritis. Jika terjadi shock eksternal yang melanda, seperti kenaikan suku bunga global atau konflik geopolitik, ketahanan sektor keuangan Indonesia belum tentu mampu menahan tekanan. S&P mungkin terlalu optimis dalam menilai stabilitas ini tanpa memperhitungkan volatilitas pasar yang semakin tidak menentu.

Terakhir, afirmasi ini sebaiknya menjadi momentum bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali paradigma pembangunan ekonomi. Jika selama ini terlalu fokus pada pertumbuhan kuantitatif, maka saatnya beralih ke pertumbuhan kualitatif yang inklusif. Rating BBB bisa menjadi awal yang baik, tetapi tujuan akhir haruslah mewujudkan ekonomi yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat. Tanpa itu, afirmasi ini hanyalah sebuah 'pihak kanan' yang mengelirukan.