Rupiah Merosot Lagi: Apa Penyebab di Balik Penurunan ke Rp18.115 per Dolar?

Berita Nasional
Rina WijayaRina Wijaya
Rina Wijaya
Rina Wijaya
Jurnalis Investigasi

Fokus pada liputan mendalam dan isu-isu sosial yang berdampak pada masyarakat luas.

Rupiah Merosot Lagi: Apa Penyebab di Balik Penurunan ke Rp18.115 per Dolar?
BAGIKAN:

Jakarta, 14 Juli 2026 – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada Selasa pagi, mencatat penurunan 6 poin atau sekitar 0,03 persen menjadi Rp18.115 per dolar AS. Angka ini sedikit lebih lemah dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.109 per dolar.

Penurunan ini, meski tampak marginal, menimbulkan pertanyaan serius tentang stabilitas mata uang nasional di tengah dinamika ekonomi global dan domestik. Sementara pasar valuta asing menilai faktor eksternal seperti kebijakan moneter Federal Reserve dan ketegangan geopolitik, faktor internal seperti defisit neraca berjalan, inflasi yang masih tinggi, serta kebijakan fiskal pemerintah juga berperan penting.

Data terbaru menunjukkan bahwa arus keluar modal masih menguat, dipicu oleh ketidakpastian kebijakan investasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga di luar negeri. Di sisi lain, cadangan devisa negara masih berada pada level yang relatif aman, namun tekanan pada rupiah dapat menggerus daya beli masyarakat, terutama bagi mereka yang bergantung pada impor barang kebutuhan pokok.

Bank Indonesia (BI) belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait intervensi pasar, namun para analis memperkirakan bahwa bank sentral akan tetap mengedepankan kebijakan suku bunga yang hati-hati untuk menahan laju inflasi tanpa menambah beban pada pertumbuhan ekonomi. Sementara itu, pemerintah diharapkan memperkuat kebijakan fiskal yang mendukung ekspor dan mengurangi ketergantungan pada impor, sebagai upaya jangka panjang menstabilkan nilai tukar.

Analisis Pakar

Sebagai seorang jurnalis investigasi, saya menilai bahwa penurunan nilai tukar rupiah ini bukan sekadar reaksi pasar jangka pendek, melainkan cerminan dari ketidakseimbangan struktural yang telah lama menggerogoti ekonomi Indonesia. Ketergantungan pada modal asing yang rentan terhadap fluktuasi kebijakan moneter global menempatkan rupiah pada posisi yang sangat sensitif. Apabila Federal Reserve melanjutkan kebijakan pengetatan, arus keluar modal akan semakin intensif, memperparah tekanan depresiasi.

Lebih jauh, kebijakan fiskal pemerintah yang masih berfokus pada stimulus konsumsi domestik tanpa mengatasi akar masalah neraca perdagangan dapat memperburuk situasi. Peningkatan impor barang konsumsi, terutama energi dan bahan baku, tanpa disertai peningkatan ekspor yang kompetitif, menambah beban pada cadangan devisa. Dalam konteks ini, kebijakan yang menstimulasi sektor manufaktur berorientasi ekspor menjadi sangat krusial.

Selain itu, inflasi yang masih berada di atas target BI menambah beban pada kebijakan moneter. Jika inflasi tidak terkendali, BI terpaksa akan menaikkan suku bunga, yang pada gilirannya dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi. Ini adalah dilema klasik “twin-track” antara menahan inflasi dan menjaga nilai tukar. Solusi jangka panjang memerlukan reformasi struktural, termasuk peningkatan produktivitas, diversifikasi ekspor, dan penguatan pasar domestik.

Prediksi saya, jika tidak ada langkah kebijakan yang terkoordinasi antara otoritas moneter dan fiskal, rupiah dapat terus berada dalam zona volatilitas tinggi, dengan potensi penurunan lebih jauh ke kisaran Rp18.200 per dolar dalam beberapa minggu ke depan. Hal ini akan menambah beban pada konsumen dan pelaku usaha, serta memperlemah daya saing Indonesia di pasar global. Oleh karena itu, diperlukan sinergi kebijakan yang lebih tajam, transparansi dalam pengambilan keputusan, serta komunikasi yang jelas kepada publik untuk mengurangi ketidakpastian pasar.