Mencari Nafkah, Berjumpa Maut: Tragedi Pemuda Palestina Ditembak di Pagar Pemisah Yerusalem

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Mencari Nafkah, Berjumpa Maut: Tragedi Pemuda Palestina Ditembak di Pagar Pemisah Yerusalem
BAGIKAN:

JAKARTA — Sebuah insiden memilukan kembali menggoreskan duka mendalam bagi warga Palestina. Seorang pemuda berusia 20 tahun, yang diketahui sedang berupaya mencari nafkah, tewas ditembak pada Senin (13/7) ketika mencoba menembus pagar pembatas Israel menuju Yerusalem Timur. Informasi ini disampaikan langsung oleh badan kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Mengutip laporan dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), korban yang tak disebutkan identitasnya tersebut berupaya melintasi zona perbatasan di kawasan Bir Nabala. Ironisnya, dalam pernyataannya, OCHA tidak merinci siapa pihak yang bertanggung jawab atas penembakan tersebut, maupun afiliasi pelakunya, meninggalkan sebuah misteri yang kerap terjadi di wilayah konflik ini.

"Warga Palestina harus senantiasa dilindungi, dan dalam konteks penegakan hukum, penggunaan kekuatan mematikan harus menjadi pilihan terakhir," tegas OCHA dalam pernyataan resminya, menekankan prinsip kemanusiaan yang sepertinya semakin luntur di tanah yang diduduki tersebut.

Tragedi ini tidak terlepas dari kebijakan ketat otoritas Israel. Sejak Oktober 2023, pemerintah Israel telah mencabut atau menangguhkan mayoritas izin bagi warga Palestina untuk memasuki Yerusalem Timur dan Israel, baik untuk bekerja maupun keperluan mendesak lainnya. Kebijakan ini secara efektif mematikan mata pencaharian ribuan warga, memaksa mereka mengambil risiko nyawa demi sekadar bertahan hidup.

Pagar pembatas yang mulai dibangun Israel pada 2002 silam—dengan dalih mencegah serangan—kini berubah menjadi tembok pemisah yang mematikan. Data OCHA mencatat, hingga 6 Juni, sudah ada 20 warga Palestina tewas dan lebih dari 290 lainnya luka-luka saat berupaya melintasi penghalang ini.

Sementara itu, krisis kemanusiaan juga melanda Gaza. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengungkapkan bahwa akses pakan ternak terakhir kali diizinkan masuk pada 4 Juni lalu. Akibatnya, harga pakan melonjak dua hingga tiga kali lipat, mengancam ketahanan pangan lokal dan upaya pelestarian ternak warga.

"Untuk melindungi hewan ternak dan memperkuat ketersediaan pangan setempat, badan-badan kemanusiaan menyerukan dibukanya kembali akses impor pakan ternak, serta masuknya pasokan pertanian esensial secara penuh dan tanpa hambatan," pungkas OCHA, seraya menyoroti perlunya akses kemanusiaan yang tak terputus.

Analisis Pakar

OLEH: Budi Santoso, Pimpinan Redaksi

Kematian pemuda 20 tahun tersebut bukanlah sekadar kecelakaan atau tragedi biasa; ini adalah gejala dari sebuah structural violence atau kekerasan struktural yang sistematis. Ketika sebuah negara memutus akses ekonomi suatu populasi—dalam hal ini dengan mencabut izin kerja—dan kemudian menggunakan kekuatan mematikan ketika populasi tersebut berupaya bertahan hidup, kita tidak lagi berbicara tentang keamanan perbatasan, melainkan tentang pembersihan etnis secara perlahan dan kriminalisasi kemiskinan.

Pagar pemisah itu sejatinya adalah monumen ketidakadilan. Dibangun dengan dalih keamanan, namun pada praktiknya, ia memotong jalan hidup, memisahkan petani dari ladangnya, dan pekerja dari tempat kerjanya. Dunia internasional seringkali hanya mencatat angka—20 tewas, 290 luka—tanpa benar-benar memahami narasi di balik angka tersebut: bahwa setiap korban adalah individu yang didorong ke ujung tanduk oleh kebijakan apartheid. Penggunaan istilah "pihak tidak dikenal" atau ketidakjelasan pelaku dalam laporan-laporan semacam ini seringkali menjadi tameng impunitas, di mana nyawa warga sipil dianggap murah dan dapat ditembak dengan bebas tanpa konsekuensi hukum yang jelas.

Lebih jauh lagi, kita harus melihat korelasi antara pengetatan di perbatasan Yerusalem dengan blokade di Gaza. Apa yang terjadi pada pakan ternak di Gaza adalah cerminan dari apa yang terjadi pada manusia di perbatasan Yerusalem: strategi pengepungan total. Tujuannya jelas: membuat kehidupan di wilayah pendudukan menjadi tidak layak huni dan tidak berkelanjutan. Dengan membiarkan harga pakan meroket dan menembak mereka yang mencari nafkah, ada upaya sadar untuk mematahkan semangat dan daya tahan hidup warga Palestina.

Sebagai jurnalis, saya menyayangkan sikap diamnya komunitas global. Pernyataan "kekuatan mematikan harus menjadi pilihan terakhir" dari OCHA sudah terdengar seperti rekaman jejak yang diulang-ulang tanpa memiliki gigi untuk menggigit atau menegur pelanggar. Jika kita mengizinkan narasi bahwa mencari pekerjaan adalah alasan yang sah untuk ditembak, maka kita telah kehilangan kemanusiaan kita. Tragedi ini adalah panggilan darurat bagi dunia untuk tidak hanya melihat konflik ini sebagai pertempuran militer, tetapi sebagai krisis kemanusiaan yang direkayasa oleh kebijakan-kebijakan yang kejam dan tidak manusiawi.