Di Balik Angka Fantastis: BRI Kembali Jadi 'Sapi Perah' Negara dengan Setoran Pajak Rp55 Triliun, Seberapa Kuat Fondasinya?

Ekonomi
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Di Balik Angka Fantastis: BRI Kembali Jadi 'Sapi Perah' Negara dengan Setoran Pajak Rp55 Triliun, Seberapa Kuat Fondasinya?
BAGIKAN:

JAKARTA – Menjelang peringatan Hari Pajak Nasional pada 14 Juli, sorotan publik kembali tertuju pada peran strategis Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam menjaga ketahanan fiskal Indonesia. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, atau BRI, kembali membuktikan dirinya tak sekadar raksasa finansial, melainkan tulang punggung penerimaan negara di tengah gejolak ekonomi global yang tak menentu.

Data yang dirilis menunjukkan bahwa konsistensi BRI dalam menyumbang devisa negara tak tergoyahkan. Pada kuartal pertama tahun 2026 saja, entitas bisnis milik negara ini telah menyetorkan Rp19,1 triliun ke kas negara. Jumlah ini merupakan gabungan dari kewajiban pajak sebesar Rp8,1 triliun dan dividen tahun berjalan yang mencapai Rp11,0 triliun.

Jika kita mengurai rekam jejak tiga tahun terakhir, tren positif ini semakin terlihat jelas. Tahun 2023 lalu, total setoran BRI mencapai Rp50,5 triliun, yang terdiri dari pajak Rp27,3 triliun dan dividen Rp23,2 triliun. Angka tersebut melonjak signifikan pada 2024 menjadi Rp57,6 triliun (pajak Rp31,9 triliun dan dividen Rp25,7 triliun). Meski sempat mengalami fluktuasi, pada 2025 BRI tetap mempertahankan kontribusi di level tinggi dengan total setoran Rp55,8 triliun, komposisinya Rp28,1 triliun pajak dan Rp27,7 triliun dividen.

Komponen setoran ini mencakup berbagai jenis kewajiban fiskal, mulai dari Pajak Penghasilan (PPh) Badan, PPh pasal 21, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Bea Meterai, hingga Pajak Daerah. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menegaskan bahwa kepatuhan pajak adalah manifestasi nyata dari tanggung jawab korporasi yang tak bisa ditawar.

"Kami percaya bahwa kepatuhan terhadap kewajiban perpajakan tidak hanya menjadi bentuk tanggung jawab perusahaan, tetapi juga bagian dari kontribusi langsung bagi kemajuan bangsa," tegas Hery. Ia juga menyambungkan pencapaian ini dengan arahan dari Badan Pengatur BUMN dan Danantara Indonesia, yang mendorong terciptanya nilai tambah berkelanjutan.

Lantas, apa rahasia di balik kemampuan BRI terus mengucurkan dana segar ke negara? Jawabannya terletak pada fundamental bisnis yang solid. Laporan keuangan per Kuartal I 2026 memperlihatkan laba bersih BRI Group menembus angka Rp15,5 triliun. Total aset tumbuh 7,2% year-on-year (YoY) menjadi Rp2.250 triliun, sementara penyaluran kredit dan pembiayaan melesat 13,7% menjadi Rp1.562 triliun.

Salah satu indikator kunci kesehatan bank, Dana Pihak Ketiga (DPK), juga menunjukkan performa impresif dengan nominal Rp1.555,1 triliun atau tumbuh 9,4% YoY. Yang lebih menarik perhatian para analis adalah rasio CASA (Current Account Savings Account) konsolidasian yang kini mendominasi hingga 68,07% dari total DPK, atau setara Rp1.058,6 triliun. Peningkatan ini signifikan dibandingkan periode sama di 2025 yang hanya sebesar 65,77%. Rasio CASA yang tinggi ini menandakan biaya dana BRI yang rendah, menjadi senjata ampuh untuk mempertahankan margin keuntungan di tengah suku bunga yang volatile.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah lama mengawasi roda perputaran ekonomi nasional, saya melihat pencapaian BRI ini bukan sekadar angka-angka di atas kertas, melainkan sebuah sinyal bahaya sekaligus harapan. Mari kita bedah dengan jernih. Pertama, ketergantungan fiskal negara terhadap kontribusi BUMN, khususnya BRI, semakin besar. Dalam situasi penerimaan pajak dari sektor swasta yang seringkali fluktuatif akibat perlambatan ekonomi, BRI berfungsi sebagai 'stabilisator' otomatis bagi APBN. Ini adalah berita bagus untuk jangka pendek, namun menjadi pertanyaan serius untuk jangka panjang: apakah kita terlalu bergantung pada 'sapi perah' BUMN?

Kedua, kita harus mengkritisi narasi 'value creation' yang dikaitkan dengan Danantara Indonesia. Keberadaan entitas baru ini dalam ekosistem BUMN seharusnya tidak hanya menjadi lapisan birokrasi baru. Pernyataan Hery Gunardi soal sinergi dengan Danantara harus diuji dengan hasil nyata: apakah efisiensi yang dicapai benar-benar optimal, atau justru ada biaya silang yang tersembunyi di balik manajemen aset super besar ini? Peningkatan rasio CASA hingga 68% adalah indikator teknis yang sangat baik, menunjukkan kepercayaan masyarakat yang tinggi, namun manajemen harus waspada. Dominasi dana murah ini seringkali membuat bank lengah dalam mengelola risiko kredit, terutama ketika agresivitas penyaluran kredit tumbuh di atas 13% sementara daya beli masyarakat global sedang tertekan.

Ketiga, mari kita lihat dari sisi keadilan dan struktur ekonomi. BRI adalah bank yang identik dengan segmen UMKM dan ritel. Fakta bahwa mereka masih bisa membukukan laba dan pajak triliunan rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi 2026, mengindikasikan bahwa sektor riil bawah—yang menjadi basis BRI—sangatlah tangguh. Ini adalah pelajaran berharga bagi pemerintah. Alih-alih terus mengejar investasi asing yang seringkali 'sariawan', pemerintah harus lebih memperkuan ekosistem domestik. Namun, ada sisi gelap yang harus diawasi: tekanan untuk terus menunjukkan kinerja positif dan membayar dividen serta pajak besar bisa memaksa manajemen bank untuk mengambil risiko berlebihan dalam penyaluran kredit. Kita tidak ingin melihat 'bom waktu' kredit macet (NPL) meledak di kemudian hari hanya demi memenuhi target kontribusi negara tahun ini.

Terakhir, momentum Hari Pajak ini harus dijadikan titik refleksi, bukan sekadar seremonial. Kontribusi BRI yang mencapai setengah triliun dolar dalam beberapa tahun terakhir adalah bukti bahwa BUMN masih menjadi penopang utama ekonomi Indonesia. Namun, negara tidak boleh puas hanya dengan memungut pajak. Pertanyaan kritisnya adalah: Apakah penerimaan pajak ini sudah kembali dalam bentuk infrastruktur dan layanan publik yang berkualitas bagi rakyat kecil yang menjadi nasabah setia BRI? Jika siklus ini hanya berputar pada 'rakyat bayar pajak ke bank, bank bayar pajak ke negara, negara menyetor kembali ke bank sebagai modal', maka pertumbuhan ekonomi kita hanyalah ilusi akuntansi semata. Kita butuh ekosistem di mana keuntungan bank benar-benar ditransformasikan menjadi kesejahteraan riil, bukan sekadar angka surplus di laporan keuangan.