Darurat Kebakaran TPA Jatiwaringin Resmi Ditutup: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Penanggulangan?

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Darurat Kebakaran TPA Jatiwaringin Resmi Ditutup: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Penanggulangan?
BAGIKAN:

Jatiwaringin, Tangerang – Status darurat kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, resmi berakhir pada Selasa, 14 Juli 2026. Keputusan ini diambil melalui Surat Keputusan (SK) Bupati Tangerang Nomor 609 yang berlaku sejak 1 hingga 14 Juli 2026, menyusul kebakaran besar yang meluluhlantahkan sekitar 15 hektar lahan TPA.

Meski status darurat dicabut, Satuan Tugas (Satgas) penanganan kebakaran tetap disiagakan untuk mengantisipasi potensi munculnya titik api baru selama musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung lebih lama dari biasanya. Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid, menegaskan bahwa penanganan tidak berhenti begitu saja. "Untuk status kedaruratannya, tadi saya mendapatkan masukan dari Kementerian Kehutanan maupun Kementerian Lingkungan Hidup, ini hari terakhir, besok mungkin sudah bisa dicabut. Tetapi dengan catatan mitigasinya terus dijalankan," ujarnya.

Berbagai langkah mitigasi telah disiapkan, antara lain:

  • Melanjutkan proses pendinginan area bekas kebakaran untuk mencegah re‑ignition.
  • Pembangunan tandon dan toren air di kawasan landfill guna memastikan pasokan air yang cukup bagi pemadam kebakaran.
  • Penyediaan pompa alkon dan pembangunan jalur khusus bagi kendaraan pemadam kebakaran.
  • Pemanfaatan drone thermal untuk mendeteksi titik panas tersembunyi di dalam timbunan sampah.

Satgas yang dibentuk selama masa darurat tetap dipertahankan. Struktur Satgas dipimpin oleh Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang, sementara Sekretaris Daerah bertindak sebagai penanggung jawab, sesuai dengan SK Nomor 609.

Pemerintah Kabupaten Tangerang juga meminta Dinas Kesehatan terus memantau kondisi kesehatan warga di sekitar TPA Jatiwaringin yang sebelumnya terdampak asap kebakaran. "Evaluasi ini sekaligus merancang upaya-upaya masa transisi ini yang harus dilakukan oleh semua pihak, termasuk oleh pemerintah daerah, dalam hal ini adalah BPBD juga dengan Dinas Lingkungan Hidup dan OPD terkait," jelas Maesyal.

Kebakaran yang terjadi sejak 30 Juni 2026 diperkirakan dipicu oleh suhu tinggi yang memantik gas metana dalam timbunan sampah. Meskipun api telah padam, proses pendinginan masih berlangsung untuk mencegah timbulnya kembali titik api.

Analisis Pakar

Penutupan status darurat bukan berarti masalah selesai. Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat pola berulang dalam penanganan TPA di Indonesia: kebakaran besar selalu terjadi pada musim kemarau, namun respons pemerintah cenderung bersifat reaktif, bukan preventif. Pembangunan infrastruktur seperti tandon air dan jalur pemadam memang langkah positif, namun tanpa regulasi yang ketat mengenai pengelolaan limbah organik dan kontrol emisi metana, risiko kebakaran akan tetap tinggi.

Penggunaan drone thermal memang inovatif, namun teknologi ini harus diintegrasikan ke dalam sistem monitoring harian, bukan sekadar alat darurat. Pemerintah daerah perlu mengalokasikan anggaran berkelanjutan untuk pemeliharaan peralatan ini, serta melatih personel lokal agar dapat mengoperasikannya secara mandiri.

Selain itu, kesehatan warga sekitar harus menjadi prioritas utama. Asap kebakaran mengandung partikel halus (PM2.5) yang dapat memperburuk kondisi pernapasan, terutama pada anak-anak dan lansia. Dinas Kesehatan harus melakukan survei kesehatan jangka panjang, bukan sekadar pemantauan singkat pasca‑kebakaran.

Terakhir, transparansi dalam pelaporan kebakaran dan mitigasi masih jauh dari ideal. SK Bupati yang hanya mencakup rentang waktu dua minggu menimbulkan pertanyaan: mengapa tidak ada kebijakan jangka panjang yang mengikat semua pihak? Tanpa akuntabilitas yang jelas, upaya mitigasi berpotensi menjadi sekadar formalitas yang mudah dilupakan ketika musim hujan kembali tiba.