Bali United Rekrut Gelandang Brasil: Langkah Berani atau Sekadar Gimik?

Olahraga
Maya SariMaya Sari
Maya Sari
Maya Sari
Wartawan Olahraga

Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Bali United Rekrut Gelandang Brasil: Langkah Berani atau Sekadar Gimik?
BAGIKAN:

Bali United resmi menambah jajaran pemainnya dengan kedatangan gelandang asal São Paulo, Queven da Silva Inácio, yang dijuluki "Queven". Pemain berusia 27 tahun ini diharapkan menjadi "amunisi" baru menjelang kompetisi Super League 2026/2027. Pengumuman resmi disampaikan oleh CEO klub, Yabes Tanuri, di Gianyar, Selasa lalu.

Queven menandatangani kontrak setelah menorehkan lima gol dan lima assist dalam 23 penampilan bersama Chonburi FC (Thailand) pada musim lalu. Sebelumnya, kariernya berkelok dari tim muda Mirassol U20 (Brasil) ke sejumlah klub domestik Brasil, termasuk AD Guarulhos, Tres Corações, Monte Azul, Maringá, Marcilio Dias, dan Portuguesa. Pada 2021, ia memulai petualangan luar negeri dengan FC Shkupi (Makedonia Utara) sebelum pindah ke FC Ballkani (Kosovo) dua tahun kemudian.

"Kami menyiapkan komposisi terbaik jelang musim kompetisi yang baru," ujar Yabes Tanuri. Ia menambahkan harapan bahwa Queven dapat beradaptasi cepat dan memberikan kontribusi signifikan di lini tengah Serdadu Tridatu. Kedatangan Queven menjadi pemain asing kedua yang diangkat Bali United pada bulan Juli 2026, menyusul penyerang asal Belanda, Jort van der Sande.

Latihan pramusim dijadwalkan segera, dengan Queven akan bergabung bersama Kadek Arel dan rekan-rekan lainnya. Klub menekankan pentingnya sinergi tim dan kesiapan taktik sebelum kompetisi dimulai.

Analisis Pakar

Di balik antusiasme publik, rekrutmen Queven menimbulkan pertanyaan mendasar tentang strategi jangka panjang Bali United. Mengingat biaya akuisisi pemain asing yang tidak sedikit, apakah investasi ini sebanding dengan potensi peningkatan performa? Klub tampaknya mengandalkan profil pemain yang pernah berkompetisi di liga Asia Tenggara, namun belum terbukti mampu bersaing di level Super League yang kini semakin kompetitif.

Selain aspek finansial, ada isu adaptasi budaya dan taktik. Queven, yang terbiasa bermain di liga dengan gaya fisik dan kecepatan tinggi, harus menyesuaikan diri dengan pola permainan yang lebih teknis dan menuntut disiplin taktis di Indonesia. Jika proses adaptasi tidak berjalan mulus, Bali United berisiko menghabiskan slot pemain asing yang berharga tanpa hasil yang memadai.

Lebih jauh, keputusan ini mencerminkan tren klub-klub Indonesia yang semakin bergantung pada pemain asing untuk menutupi kekurangan domestik. Hal ini dapat menghambat pengembangan talenta lokal, terutama di posisi gelandang yang masih minim produksi bintang nasional. Sebuah kebijakan yang lebih seimbang antara pengembangan pemain muda Indonesia dan perekrutan asing harus dipertimbangkan demi keberlanjutan sepak bola tanah air.

Terakhir, performa Queven di Chonburi FC memang mengesankan, namun konteks kompetisi Thailand berbeda dengan dinamika Super League. Pengalaman di Makedonia Utara dan Kosovo menambah nilai, namun tidak menjamin keberhasilan di Indonesia. Jika Queven mampu menyesuaikan diri dan memberikan kontribusi yang diharapkan, ia dapat menjadi katalisator perubahan taktik Bali United. Sebaliknya, kegagalan adaptasi akan menambah daftar panjang pemain asing yang datang dan pergi tanpa meninggalkan jejak berarti.