Iran Desak PBB Cegah Negara Teluk Jadi 'Markas Serangan' AS: Perang Dingin Timur Tengah Kian Memanas?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

MOSKOW – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali mencapai titik kritis. Iran melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Esmail Baghaei, secara tegas menuntut agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengambil tindakan nyata untuk mencegah negara-negara di kawasan Teluk Persia menjadi landasan peluncuran serangan-serangan Amerika Serikat terhadap wilayah Iran.
"Anda [PBB] harus mendesak negara-negara yang bersangkutan untuk segera berhenti mengizinkan Amerika Serikat menggunakan wilayah mereka sebagai landasan peluncuran agresi terhadap Iran," tegas Baghaei dalam pernyataan resmi yang disampaikan di Moskow, Minggu (13/7/2025).
Seruan keras ini muncul sebagai respons langsung terhadap peringatan yang disampaikan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres melalui jubirnya, Stephane Dujarric. Guterres memperingatkan bahwa konsekuensi dari kembalinya permusuhan terbuka antara Washington dan Teheran akan bersifat "bencana" bagi stabilitas kawasan dan keamanan global.
Iran: Serangan Balasan adalah "Hak Pertahanan Diri yang Sah"
Dalam unggahannya di platform X (sebelumnya Twitter), Baghaei mengomentari pernyataan PBB terkait dimulainya kembali permusuhan antara Washington dan Teheran. Ia menegaskan bahwa serangan Iran terhadap pangkalan dan fasilitas militer AS di kawasan Teluk Persia selatan merupakan "pelaksanaan yang sah dari hak untuk membela diri" sebagaimana diatur dalam hukum internasional.
"Iran tidak pernah menginginkan eskalasi, namun kami tidak akan tinggal diam ketika kedaulatan dan kepentingan nasional kami diganggu," tulis Baghaei dalam البيان resmi tersebut.
Memorandum 18 Juni: Janji yang Diingkari?
Kronologi ketegangan ini bermula dari memorandum bersejarah yang ditandatangani oleh Teheran dan Washington pada 18 Juni lalu. Dokumen tersebut secara eksplisit mengatur berakhirnya konflik yang dipicu oleh insiden pada 28 Februari 2025. Kesepakatan itu dipuji komunitas internasional sebagai langkah positif menuju deeskalasi.
Namun, harapan damai tersebut kini tampak rapuh. Pada malam 8 Juli 2025, Amerika Serikat secara tiba-tiba melancarkan serangan udara terhadap target-target di Iran. Aksi ini melanggar secara terang-terangan semangat dan isi memorandum yang baru beberapa minggu sebelumnya ditandatangani.
Presiden AS Donald Trump membenarkan serangan tersebut dengan dalih bahwa Iran telah melakukan tindakan terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz. Trump bahkan mengumbar ancaman将进一步加大攻击力度 jika insiden serupa terulang kembali—sebuah retorika yang dinilai banyak pihak sebagai pengkhianatan terhadap semangat diplomasi.
Iran Balas Serang: Kuwait Jadi Sasaran
Sebagai respons terhadap apa yang disebutnya sebagai "agresi terang-terangan", Iran melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur militer AS di kawasan Timur Tengah. Kuwait, negara sekutu dekat Washington di kawasan, menjadi salah satu target utama serangan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Iran dalam pernyataan resminya menyebut aksi militer Washington sebagai "pelanggaran serius terhadap kesepakatan yang telah dicapai". Tehran menegaskan bahwa Washington telah mengkhianati kepercayaan yang dibangun melalui proses diplomasi intensif selama berminggu-minggu.
Analisis Mendalam
Krisis Kepercayaan yang Memburuk
Apa yang terjadi saat ini bukan sekadar eskalasi militer biasa. Ini adalah krisis kepercayaan yang sistematis antara dua kubu yang selama ini memang tidak pernah benar-benar saling percaya. Memorandum 18 Juni, yang seharusnya menjadi fondasi deeskalasi, kini terbukti hanya menjadi tempelan politik yang rapuh. Washington, dengan tradisi imperialisnya, jelas tidak bisa diharapkan memenuhi komitmen diplomatik ketika kepentingan hegemoni globalnya dipertaruhkan.
Iran, di sisi lain, mungkin memang melakukan provokasi di Selat Hormuz—namun provokasi itu harus dilihat dalam konteks yang lebih luas. Selat Hormuz adalah jalur strategis global yang membawa sekitar 20-30% pasokan minyak dunia. Ketika AS dan sekutunya menerapkan sanksi ekonomi yang menghancurkan dan tekanan maksimal, Iran memiliki hak sah untuk memberikan respons yang proporsional. Serangan terhadap kapal dagang, jika memang terjadi, adalah konsekuensi logis dari kebijakan maximum pressure yang tidak manusiawi.
Peran Negara Teluk: Sekutu atau Pemangsa?
Permintaan Iran kepada PBB untuk mendesak negara-negara Teluk agar tidak menjadi landasan serangan AS adalah langkah yang sangat strategis. Di sini kita melihat diplomasi yang cerdas dari Tehran. Dengan membawa masalah ini ke forum internasional, Iran tidak hanya menyerang secara militer, tetapi juga melakukan psychological warfare terhadap sekutu-sekutu AS di kawasan.
Negara-negara Teluk—khususnya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain—saat ini terjebak dalam dilema geopolitik yang sangat kompleks. Di satu sisi, mereka adalah sekutu tradisional Washington dan sangat bergantung pada perlindungan militer AS. Di sisi lain, eskalasi konflik ini jelas tidak menguntungkan kawasan mereka. Selat Hormuz yang tidak stabil berarti ancaman langsung terhadap ekonomi mereka yang sangat bergantung pada ekspor minyak.
Ironinya, negara-negara Teluk ini mungkin justru menjadi korban tidak berdosa dari konfrontasi AS-Iran. Kuwait yang menjadi target serangan balasan Iran adalah contoh nyata bagaimana negara kecil di kawasan harus menanggung akibat dari konfrontasi antar-kekuatan besar.
PBB: Organisasi yang Lemah dan Tidak Efektif
Permintaan Iran kepada PBB untuk bertindak adalah langkah yang diplomatis namun naif. Kita semua tahu bahwa PBB, dengan Dewan Keamanan yang dikuasai kekuatan-kekuatan besar, tidak akan mampu mengambil tindakan yang mengikat terhadap AS. Washington memiliki veto power dan tidak akan pernah membiarkan organisasi internasional membatasi aksinya.
Peringatan "bencana" dari Antonio Guterres adalah retorika kosong yang tidak akan mengubah apapun. PBB telah berulang kali membuktikan ketidakmampuannya dalam menyelesaikan konflik besar di Timur Tengah—mulai dari Suriah, Yaman, hingga sekarang Iran. Organisasi ini lebih berfungsi sebagai rubber stamp bagi kepentingan kekuatan besar daripada penjaga perdamaian yang efektif.
Prediksi dan Prospek Masa Depan
Melihat dinamika saat ini, saya memperkirakan eskalasi akan terus meningkat dalam beberapa minggu ke depan. Trump, dengan karakteristik leadership-nya yang tidak stabil dan cenderung agresif, kemungkinan akan memenuhi ancamannya untuk meningkatkan intensitas serangan. Ini adalah pola yang berbahaya—escalation ladder yang bisa dengan cepat keluar kendali.
Namun, ada juga kemungkinan bahwa kedua belah pihak akan kembali ke meja perundingan setelah pertumpahan darah yang cukup. Ini adalah realitas pahit dari geopolitik—perdamaian sering kali hanya dicapai setelah konflik mencapai titik yang menyakitkan bagi semua pihak.
Bagi Indonesia, situasi ini memiliki implikasi langsung. Selat Hormuz yang tidak stabil berarti harga minyak global yang fluktuatif, yang pada akhirnya mempengaruhi ekonomi domestik. Selain itu, jutaan tenaga kerja Indonesia di kawasan Timur Tengah akan menghadapi risiko keamanan yang meningkat.
Pemerintah Indonesia harus mengambil sikap yang lebih proaktif dan tegas.表态 yang ambigu tidak lagi cukup. Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia memiliki kredibilitas moral untuk menengahi konflik ini. Namun, selama pemerintah kita terjebak dalam politik domestik dan tidak memiliki visi geopolitik yang jelas, kita hanya akan menjadi penonton pasif dalam sejarah yang sedang ditulis.
Intinya, konflik AS-Iran ini adalah ujian bagi tatanan dunia multipolar. Apakah kita akan terus hidup di bawah dominasi kekuatan-kekuatan besar, atau masyarakat internasional akan berani membangun sistem yang lebih adil dan berkeadilan? Waktu yang akan menjawab—namun tanda-tandanya saat ini tidak menggembirakan.
BERITA TERKAIT

Krisis Air di DIY: Dosen UMY Peringatkan, Solusi Rumah Tangga Jadi Kunci Selamat dari Kekeringan 2026

Gubernur DKI Soroti Edukasi Pilah Sampah di MPLS: Apakah Kebijakan Ini Cukup atau Sekadar Panggung Hijau?
