Honda Siapkan Super‑One di GIIAS 2026: Janji Elektrifikasi atau Sekadar Hiasan Panggung?

Otomotif
Doni SuryaDoni Surya
Doni Surya
Doni Surya
Reviewer Mobil

Mengupas tuntas performa mobil terbaru dan memberikan tips otomotif terpercaya.

Honda Siapkan Super‑One di GIIAS 2026: Janji Elektrifikasi atau Sekadar Hiasan Panggung?
BAGIKAN:

Jakarta – PT Honda Prospect Motor (HPM) mengumumkan bahwa ia akan meluncurkan Honda Super‑One pada Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026. Pengumuman ini disampaikan oleh Yulian Karfili, kepala Sub‑Divisi Strategi Komunikasi, yang menekankan bahwa kendaraan tersebut merupakan "evolusi berikutnya" dari budaya Honda yang "fun to drive" sekaligus menegaskan posisi Honda di era elektrifikasi.

Super‑One menampilkan desain yang berani: stance lebar, blister fender, ban berprofil luas, serta palet warna yang kontras. Tim desain mengklaim terinspirasi dari budaya anak muda Harajuku, menggabungkan nostalgia analog – kaset, vinyl – dengan estetika modern. Pendekatan ini tampak berusaha menyeimbangkan kehangatan emosional dengan teknologi listrik, menolak tren visual yang terlalu digital.

Dari segi performa, Honda menonjolkan Boost Mode yang dapat meningkatkan daya motor listrik dari 47 kW menjadi 70 kW. Fitur ini diklaim tidak hanya menambah tenaga, tetapi juga menambahkan efek suara deru yang meniru mesin konvensional, serta tampilan panel instrumen yang lebih agresif. Berat kendaraan dilaporkan hanya 1.090 kg, menjadikannya salah satu EV teringan di kelasnya, meski data resmi belum diverifikasi secara independen.

Super‑One dilengkapi lima mode berkendara – i ECON, CITY, NORMAL, SPORT, dan BOOST – serta Single Pedal Control pada CITY mode. Sistem keselamatan Honda Sensing meliputi Adaptive Cruise Control dengan Low‑Speed Follow, Collision Mitigation Braking System, Road Departure Mitigation, Automatic High‑Beam, dan Lane Keeping Assist System. Enam titik airbag serta rangka G‑CON + ACE menjadi standar.

Namun, di balik rangkaian fitur yang mengesankan, HPM masih menutup rapat mengenai harga jual. Penundaan ini menimbulkan pertanyaan tentang strategi penetapan harga Honda di pasar EV Indonesia yang masih sensitif terhadap biaya. Apakah Super‑One akan menjadi kendaraan premium yang mengandalkan citra, ataukah Honda berani menurunkan harga untuk menyaingi kompetitor lokal seperti Wuling dan BYD?

GIIAS 2026 sendiri akan digelar di ICE BSD City, Tangerang, 30 Juli – 9 Agustus 2026, menjanjikan sorotan besar bagi produsen otomotif yang ingin menegaskan diri di pasar Asia Tenggara.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat dua hal penting yang belum dibahas secara terbuka: pertama, kualitas baterai yang menjadi tulang punggung EV. Honda menyebutkan kerja sama dengan QuantumScape, namun tidak ada rincian mengenai kapasitas, kecepatan pengisian, atau siklus hidup sel. Tanpa transparansi ini, konsumen akan sulit menilai nilai jangka panjang kendaraan.

Kedua, strategi penetapan harga yang masih dirahasiakan menimbulkan keraguan. Pasar Indonesia masih didominasi oleh kendaraan listrik berharga di bawah 300 juta rupiah. Jika Super‑One diposisikan di atas angka tersebut, Honda berisiko kehilangan pangsa pasar yang sedang tumbuh, terutama mengingat kebijakan pemerintah yang memberi insentif bagi kendaraan di bawah batas tertentu.

Desain yang mengusung nostalgia analog memang menarik, namun dapat menjadi double‑edged sword. Sementara generasi milenial dan Gen‑Z menghargai keunikan, mereka juga menuntut konektivitas digital yang seamless. Mengabaikan aspek ini dapat membuat Super‑One terasa ketinggalan zaman di era mobil terhubung.

Terakhir, klaim "berat terendah di kelas" harus diuji secara independen. Berat yang lebih ringan memang meningkatkan efisiensi, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang keamanan struktural, terutama pada tabrakan frontal. Pengujian crash independen dan publikasi data resmi akan menjadi tolok ukur kredibilitas Honda.

Jika Honda dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dengan data terbuka, Super‑One berpotensi menjadi pionir EV yang tidak hanya mengandalkan gaya, tetapi juga substansi teknis. Jika tidak, kendaraan ini berisiko menjadi sekadar showpiece di GIIAS, meninggalkan kesan bahwa Honda masih berjuang menemukan identitasnya dalam revolusi elektrifikasi.