Ambisi Jabar-Selangor Kuasai Gerbang ASEAN: Sekadar Seremonial atau Terobosan Ekonomi Riil?

Ekonomi
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ambisi Jabar-Selangor Kuasai Gerbang ASEAN: Sekadar Seremonial atau Terobosan Ekonomi Riil?
BAGIKAN:

BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Negeri Selangor, Malaysia, baru saja mengukuhkan komitmen strategis untuk mempererat sinergi di sektor ekonomi, investasi, teknologi, hingga pengembangan sumber daya manusia (SDM). Langkah besar ini diproyeksikan akan mencapai puncaknya pada gelaran Selangor International Business Summit (SIBS) 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Bandung.

Kolaborasi lintas negara ini bukan sekadar pertukaran dokumen formal, melainkan upaya kedua wilayah untuk menciptakan poros kekuatan ekonomi baru. Di tengah guncangan ketidakpastian geopolitik global dan volatilitas ekonomi dunia, Jawa Barat dan Selangor berupaya memposisikan diri sebagai katalisator utama dalam memperkuat daya saing kawasan ASEAN.

Fokus utama dari kemitraan ini mencakup akselerasi transfer teknologi dan penciptaan ekosistem investasi yang lebih inklusif. Dengan menggabungkan potensi industri Jawa Barat yang masif dan kemajuan teknologi serta manajemen bisnis Selangor, kedua pihak berharap dapat membuka pintu peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha di kedua wilayah.

Catatan Kritis Budi Santoso: Menakar Realitas di Balik Retorika Diplomasi

Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati pola kerja sama antarnegara, saya melihat ada kecenderungan klasik dalam setiap MoU atau kesepakatan tingkat tinggi: euforia di awal, namun stagnasi dalam eksekusi. Rencana penyelenggaraan SIBS 2026 di Bandung memang terdengar megah, namun pertanyaan besarnya adalah: sejauh mana implementasi konkret dari 'penguatan kolaborasi' ini akan menyentuh level akar rumput, terutama bagi pelaku UMKM dan tenaga kerja lokal di Jawa Barat?

Kita harus kritis melihat bahwa Selangor adalah salah satu pusat ekonomi terkuat di Malaysia dengan infrastruktur digital yang sangat mapan. Jika Jawa Barat hanya memposisikan diri sebagai 'penerima' investasi atau pasar bagi teknologi mereka, maka kolaborasi ini hanya akan menjadi jalan tol bagi modal asing untuk mengeruk keuntungan tanpa ada transfer pengetahuan yang signifikan. Kita tidak butuh sekadar angka investasi yang masuk ke laporan tahunan gubernur, kita butuh kedaulatan teknologi dan peningkatan standar SDM yang nyata.

Lebih jauh lagi, ambisi menjadi 'Gerbang ASEAN' adalah klaim yang sangat berat. ASEAN saat ini sedang mengalami turbulensi politik dan ekonomi. Untuk benar-benar menjadi pemimpin di kawasan, Jawa Barat tidak bisa hanya mengandalkan kerja sama bilateral dengan satu negara bagian di Malaysia. Perlu ada sinkronisasi kebijakan yang radikal, pemangkasan birokrasi yang seringkali menjadi 'penyakit' kronis di daerah, serta kepastian hukum yang tidak berubah-ubah setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan politik.

Prediksi saya, jika SIBS 2026 hanya menjadi ajang pameran dan seremoni potong pita, maka kerja sama ini akan berakhir menjadi arsip kertas yang berdebu. Namun, jika Pemerintah Provinsi Jawa Barat berani membuka transparansi data investasi dan menciptakan insentif yang benar-benar kompetitif—bukan sekadar janji manis—maka sinergi dengan Selangor bisa menjadi batu loncatan yang serius. Tantangannya adalah konsistensi. Jangan sampai semangat kolaborasi ini menguap begitu saja setelah lampu kamera padam dan para delegasi pulang ke negaranya masing-masing.