Ambisi Integrasi Karet-BNI City: Solusi Kemacetan atau Sekadar 'Bedak' Fasilitas?

Ekonomi
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ambisi Integrasi Karet-BNI City: Solusi Kemacetan atau Sekadar 'Bedak' Fasilitas?
BAGIKAN:

JAKARTA – PT Kereta Api Indonesia (KAI) resmi mengumumkan rencana besar untuk mengintegrasikan Stasiun Karet dengan Stasiun BNI City. Proyek yang ditargetkan rampung pada 28 September 2026 ini diklaim akan mengubah wajah mobilitas komuter di jantung ibu kota menjadi lebih aman dan nyaman.

Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar pembenahan fisik, melainkan upaya strategis dalam menata ulang alur pelanggan. Dalam skema baru ini, Stasiun Karet tidak lagi berdiri sebagai entitas mandiri untuk proses gate-in dan gate-out, melainkan akan dialihfungsikan menjadi concourse atau ruang penghubung menuju Stasiun BNI City.

Untuk menjamin kenyamanan perpindahan penumpang, KAI berencana memasang fasilitas travelator berpendingin udara. Langkah ini diambil mengingat tingginya volume penumpang di kedua titik tersebut. Data Semester I 2026 menunjukkan angka yang fantastis: Stasiun Karet mencatat 7,2 juta aktivitas, sementara BNI City mencatat 2,6 juta aktivitas, dengan total akumulasi hampir 10 juta pergerakan penumpang dalam enam bulan.

Namun, tantangan terbesar bukan terletak pada pembangunan fisik, melainkan pada manajemen sosial. Kawasan Karet dikenal sebagai ekosistem yang kompleks, melibatkan pejalan kaki, pengemudi ojek pangkalan, ojek daring, hingga pelaku UMKM lokal. Bobby mengklaim akan menggunakan pendekatan solutif dan bertahap agar integrasi ini tidak mematikan denyut ekonomi masyarakat sekitar.

Selain faktor kenyamanan, alasan keselamatan operasi menjadi pendorong utama. Jarak yang terlalu berdekatan antara Stasiun Karet dan BNI City selama ini dianggap mengganggu pola operasi perjalanan kereta api. Dengan memusatkan akses masuk dan keluar di BNI City, KAI berharap tercipta alur yang lebih steril dan teratur, terutama bagi pengguna Commuter Line Basoetta yang jumlah penumpangnya terus melonjak signifikan.

Analisis Redaksi: Menakar Efektivitas Integrasi di Tengah Ego Sektoral

Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati pola pembangunan infrastruktur transportasi di Jakarta, saya melihat rencana integrasi Karet-BNI City ini sebagai langkah yang 'terlambat tapi perlu'. Secara teknis, menyatukan dua titik yang jaraknya hanya sepelemparan batu adalah logika dasar efisiensi. Namun, kita harus kritis: apakah ini benar-benar tentang keselamatan operasi, atau sekadar upaya KAI untuk mempermudah manajemen kontrol massa di satu pintu utama (BNI City) demi menekan biaya operasional petugas di lapangan?

Yang menjadi perhatian serius saya adalah nasib 'ekosistem akar rumput' di sekitar Stasiun Karet. KAI menyebut akan melakukan 'penataan', namun dalam kamus pembangunan kota, kata 'penataan' seringkali menjadi eufemisme dari 'penggusuran halus'. Ojek pangkalan dan pedagang kecil yang selama ini hidup dari arus penumpang Stasiun Karet terancam kehilangan mata pencaharian jika alur penumpang dipindahkan secara total ke BNI City. Jika KAI tidak menyiapkan skema relokasi yang konkret dan bukan sekadar janji 'mendengar masukan', maka integrasi ini berpotensi memicu konflik sosial di lapangan.

Lebih jauh lagi, penggunaan travelator berpendingin udara memang terdengar mewah, namun jangan sampai fasilitas 'kosmetik' seperti ini mengaburkan persoalan mendasar: kapasitas angkut KRL yang masih sering kewalahan. Integrasi stasiun tanpa peningkatan frekuensi rangkaian kereta hanya akan memindahkan titik penumpukan massa dari satu area ke area lain. Kita tidak butuh sekadar 'lorong dingin', kita butuh sistem transportasi yang tidak membuat penumpang merasa seperti sarden di jam sibuk.

Prediksi saya, proyek ini akan menghadapi resistensi kuat dari komunitas transportasi informal di kawasan Karet jika sosialisasi hanya dilakukan satu arah. KAI harus berani membuka ruang dialog yang transparan, bukan sekadar memberikan 'informasi yang jelas' melalui petunjuk arah. Keberhasilan proyek ini tidak akan diukur dari seberapa dingin suhu di travelator tersebut, melainkan dari seberapa mampu KAI mengintegrasikan kepentingan korporasi dengan hak hidup masyarakat kecil di sekitarnya. Jangan sampai integrasi ini menjadi monumen kemewahan di tengah peminggiran ekonomi rakyat.