Ambisi Global Indonesia Youth Summit: Sekadar Seremonial atau Transformasi Nyata Kepemimpinan Muda?

Politik
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ambisi Global Indonesia Youth Summit: Sekadar Seremonial atau Transformasi Nyata Kepemimpinan Muda?
BAGIKAN:

JAKARTA – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mencoba melakukan manuver besar dalam memperkuat kapasitas generasi muda melalui program Indonesia Youth Summit (IYS). Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, mengonfirmasi bahwa program ini melibatkan kolaborasi strategis dengan sembilan negara maju, termasuk Amerika Serikat, China, Inggris, Jepang, Korea Selatan, Australia, hingga Arab Saudi.

Langkah ini diungkapkan Erick usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait penyelenggaraan Wirasena Youth Camp dan Indonesia Sport Summit 2026. Menurut Erick, keterlibatan negara-negara dengan sistem pembangunan kepemudaan yang unggul bertujuan agar Indonesia dapat melakukan benchmarking dan mengadopsi praktik terbaik (best practices) guna mengakselerasi kemajuan pemuda nasional.

IYS dirancang sebagai inkubator kepemimpinan yang mempertemukan berbagai elemen pemuda—mulai dari mahasiswa, aktivis, wirausahawan, hingga profesional muda—untuk merumuskan solusi atas problematika sosial, ekonomi, pendidikan, dan lingkungan. Erick menegaskan bahwa program ini adalah fondasi krusial dalam menyongsong 100 tahun Sumpah Pemuda.

"Saya juga sudah mengontak PBB (United Nations) untuk meminta pemetaan posisi kepemudaan kita secara global. Kita perlu tahu di mana posisi kita agar bisa memperbaharui investasi masa depan bagi pemuda Indonesia," ujar Erick dengan optimis.

Menpora juga memberikan peringatan keras bahwa tanpa persiapan yang matang, generasi muda Indonesia terancam kalah bersaing di kancah internasional, yang pada akhirnya akan menciptakan stigma negatif terhadap daya saing bangsa di mata dunia.

Analisis Redaksi: Menakar Efektivitas Diplomasi Pemuda

Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati dinamika kebijakan publik, saya melihat langkah Kemenpora ini sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, menggandeng sembilan negara besar dan PBB adalah langkah diplomasi yang terlihat prestisius di atas kertas. Namun, pertanyaan besarnya adalah: Apakah ini akan menjadi transformasi sistemik atau sekadar 'wisata intelektual' bagi segelintir pemuda terpilih?

Seringkali, program-program berskala internasional yang digagas pemerintah terjebak dalam pola top-down yang bersifat seremonial. Kita tidak boleh lupa bahwa tantangan kepemudaan di Indonesia bukan sekadar kurangnya 'peta jalan' atau 'pola pikir', melainkan masalah struktural seperti akses pendidikan yang timpang, tingginya angka pengangguran terdidik, dan penyempitan ruang demokrasi bagi aktivis muda. Mengimpor praktik terbaik dari Korea Selatan atau Amerika Serikat tanpa melakukan kontekstualisasi terhadap realitas sosiologis di pelosok Nusantara adalah sebuah kenaifan administratif.

Keterlibatan PBB dan negara-negara G20 dalam IYS memang memberikan legitimasi global, namun efektivitasnya akan diuji pada bagaimana output dari diskusi-diskusi mewah tersebut dikonversi menjadi kebijakan konkret. Jika IYS hanya berakhir pada penandatanganan MoU dan foto bersama, maka kita hanya sedang memproduksi 'elit muda' yang fasih berbicara bahasa global namun gagap menghadapi realitas akar rumput. Kita membutuhkan mekanisme monitoring yang transparan mengenai bagaimana benchmarking ini benar-benar mengubah kurikulum kepemimpinan atau menciptakan lapangan kerja baru bagi pemuda.

Prediksi saya, jika program ini tidak dibarengi dengan reformasi birokrasi di internal Kemenpora dan keterbukaan terhadap kritik dari pemuda non-afiliasi pemerintah, IYS hanya akan menjadi etalase politik. Indonesia tidak butuh sekadar 'calon pemimpin masa depan' yang terpoles standar internasional, tetapi pemimpin yang memiliki integritas dan keberanian untuk membongkar stagnasi pembangunan. Jangan sampai ambisi mengejar standar global justru membuat kita kehilangan jati diri dan mengabaikan urgensi krisis pemuda di tingkat lokal.