Tragedi di Pabrik Sepatu China: 28 Nyawa Melayang, Akankah Ada Pertanggungjawaban Sejati?

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Tragedi di Pabrik Sepatu China: 28 Nyawa Melayang, Akankah Ada Pertanggungjawaban Sejati?
BAGIKAN:

Beijing, 2026 - Sedikitnya 28 orang dikonfirmasi tewas dalam kebakaran dahsyat yang melanda pabrik sepatu Huiteng di Kota Jinjiang, Provinsi Fujian, China tenggara, pada Kamis siang waktu setempat. Insiden maut ini kembali mengungkap luka lama dalam sistem keselamatan kerja industri manufaktur China yang hingga kini belum juga sembuh.

Kebakaran berkobar sekitar pukul 12.00 waktu setempat (04.00 GMT), menghancurkan fasilitas produksi yang seharusnya menjadi tempat ratusan pekerja mencari nafkah. Lebih dari 180 petugas pemadam kebakaran bersama 35 unit mobil pemadam dikerahkan untuk menjinakkan api yang membara selama berjam-jam. Evakuasi korban menjadi pemandangan pilu di lokasi kejadian.

Menanggapi tragedi ini, Presiden Xi Jinping langsung menginstruksikan penyelidikan menyeluruh terhadap penyebab kebakaran. Ia juga menuntut agar pihak-pihak yang bertanggung jawab dimintai pertanggungjawaban penuh. Namun, bisakah kita mempercayai janji serupa yang sudah berulang kali kita dengar setiap kali tragedi industri terjadi?

Baca juga: 40 Pejabat Dianggap Bertanggung Jawab atas Kebakaran Restoran di China

Baca juga: 16 Orang Meninggal Akibat Kebakaran di China Barat Daya

Baca juga: Tim Penyelamat Terus Padamkan Kebakaran Hutan di Sichuan

Opini Mendalam: Melampaui Angka dan Janji

Sebagai jurnalis senior yang telah menginvestigasi puluhan kasus kecelakaan industri di berbagai belahan dunia, saya tidak bisa tidak merasakan deja vu yang menyakitkan. Setiap tahun, kita disuguhi statistik korban jiwa akibat kecelakaan kerja di China. Setiap kali, pejabat berpidato penuh emosi, menjanjikan reformasi, dan menuntut pertanggungjawaban. Namun, yang berubah hanyalah angka di laporan, bukan kondisi di lapangan.

Kecelakaan di pabrik Huiteng ini bukanlah insiden terisolasi. Ia adalah gejala kronis dari penyakit sistemik yang sudah lama menggerogoti industri manufaktur China: tekanan produksi yang tidak manusiawi, pengawasan keselamatan yang sekadar formalitas, dan budaya impunitas yang membudaya. Ketika margin keuntungan diutamakan di atas keselamatan pekerja, maka tragedi seperti ini bukan lagi "bila", melainkan "kapan". Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi mengapa kebakaran terjadi, melainkan mengapa regulasi yang sudah ada tidak mampu mencegah kematian yang seharusnya bisa dihindari ini.

Yang menggelisahkan saya sebagai pengamat adalah pola yang terus berulang. Dari kebakaran pabrikēŽ©å…· di Shenzhen hingga kecelakaan tambang di Shanxi, kita selalu melihat skenario yang sama: investigasi dimulai setelah korban berjatuhan, pejabat berjanji tidak akan mengulangi kesalahan, lalu semuanya kembali normal sampai tragedi berikutnya menyapa. Xi Jinping bisa menginstruksikan penyelidikan, tapi bisakah instruksi itu mengubah struktur ekonomi yang secara inheren mendorong pengabaian keselamatan demi efisiensi? Ini adalah pertanyaan yang tidak nyaman, tapi harus diajukan.

Lebih dari itu, kita perlu bertanya: siapa sebenarnya korban di balik angka 28 orang ini? Mereka adalah pekerja migrant dari daerah pedalaman yang datang ke kota-kota industri dengan harapan hidup lebih baik. Mereka adalah tulang punggung ekonomi China yang sering kali bekerja di kondisi berbahaya tanpa perlindungan memadai. Ketika kita membahas tragedi ini, kita tidak boleh melupakan bahwa di balik setiap angka statistik, ada cerita manusiawi tentang keluarga yang hancur, mimpi yang pupus, dan masa depan yang dicuri. Pertanggungjawaban sejati bukan hanya tentang menghukum pelaku, tapi juga tentang menciptakan sistem yang mencegah kematian pekerja di masa depan - sesuatu yang hingga kini masih menjadi impian yang jauh dari kenyataan.