Kim Jong Un Gencarkan Program Nuklir: Dampak Besar bagi Keamanan Regional dan Kebijakan AS

Dunia
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kim Jong Un Gencarkan Program Nuklir: Dampak Besar bagi Keamanan Regional dan Kebijakan AS
BAGIKAN:

Dalam rapat pleno Komisi Militer Pusat Partai Buruh Korea yang digelar pada Kamis, 9 Juli, pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, menegaskan bahwa keamanan dan perdamaian negara hanya dapat terjamin melalui "militer yang kuat" serta kemampuan untuk menangkis segala ancaman. Pernyataan ini menandai komitmen resmi Pyongyang untuk meningkatkan kekuatan nuklirnya, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Menurut laporan Kantor Berita Korea Utara (KCNA), keputusan tersebut merupakan bagian dari upaya lebih luas untuk memodernisasi militer dan meningkatkan kesiapan tempur. Rapat tersebut juga memutuskan untuk memperkuat standar, spesialisasi, dan modernisasi pangkalan militer, serta mempercepat pembangunan pangkalan angkatan laut modern. Infrastruktur teknis sistem tempur akan ditingkatkan, dan Pyongyang bertekad untuk melengkapi angkatan lautnya dengan persenjataan nuklir.

Beberapa minggu sebelumnya, Kim Jong Un mengawasi uji coba kapal perusak angkatan laut Kang Kon berkapasitas 5.000 ton, yang sempat terbalik saat peluncuran tahun lalu namun berhasil diperbaiki. Upaya ini mencerminkan ambisi Pyongyang untuk memperkuat kemampuan konvensional sekaligus nuklir.

Sejak pertemuan puncak 2019 antara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Hanoi, tidak ada kemajuan signifikan dalam hal denuklirisasi atau pelonggaran sanksi internasional. Korea Utara tetap berada di bawah rezim sanksi yang ketat karena program nuklirnya, dan secara teknis masih berada dalam keadaan perang dengan Korea Selatan, mengingat konflik 1950-1953 berakhir hanya dengan gencatan senjata.

Analisis Pakar

Sebagai analis hubungan internasional, saya melihat langkah Kim Jong Un ini sebagai kalkulasi strategis yang berakar pada persepsi ancaman eksternal, terutama kebijakan AS yang semakin keras terhadap program nuklir Pyongyang. Dengan meningkatkan baik kualitas maupun kuantitas senjata nuklir, Pyongyang berusaha menciptakan "deterrence" yang lebih kredibel, sekaligus memperkuat posisi tawar dalam setiap negosiasi diplomatik di masa depan. Namun, strategi ini juga berisiko memperparah isolasi ekonomi dan menambah tekanan sanksi, yang pada gilirannya dapat memperburuk kondisi domestik dan memperkuat rezim otoriter melalui narasi keamanan nasional.

Di tingkat regional, peningkatan kemampuan nuklir dan modernisasi angkatan laut Korea Utara dapat memicu respons balasan dari Seoul dan Jepang, yang telah memperkuat aliansi militer dengan Washington. Peningkatan ketegangan di Selat Korea berpotensi menimbulkan insiden militer yang tidak disengaja, mengingat kedua belah pihak telah meningkatkan patroli dan latihan militer secara intensif. Risiko eskalasi ini menuntut peran aktif komunitas internasional, khususnya PBB dan ASEAN, untuk mendorong dialog yang konstruktif dan mengurangi ketegangan melalui mekanisme kepercayaan.

Terlepas dari tekanan sanksi, Pyongyang tampaknya menilai bahwa manfaat politik dan keamanan dari pengembangan nuklir melebihi biaya ekonomi jangka pendek. Dalam konteks geopolitik yang semakin multipolar, Korea Utara mungkin juga mengharapkan dukungan atau setidaknya toleransi dari negara-negara seperti Rusia dan China, yang memiliki kepentingan strategis di kawasan. Namun, kebijakan ini menantang keseimbangan kekuasaan di Asia Timur dan menambah beban pada kebijakan luar negeri Amerika Serikat, yang harus menyeimbangkan antara penegakan nonproliferasi dan menghindari konfrontasi militer yang dapat berujung pada konflik terbuka.