Eksodus Massal Jelang 2026/2027: Persijap Jepara 'Bongkar Pasar', Enam Penggawa Lokal Cabut Tanpa Pengganti!
Eka Saputra
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

JAKARTA — Dinamika transfer menjelang kick-off BRI Super League musim 2026/2027 kian memanas. Persijap Jepara, klub yang berjuluk Laskar Kalinyamat, tengah berada dalam pusaran badai revolusi skuad setelah memastikan pemutusan kerja sama dengan enam pemain lokalnya dalam waktu yang hampir bersamaan.
Berdasarkan pengumuman resmi yang dirilis manajemen klub pada Jumat lalu, daftar nama yang harus meninggalkan Jepara antara lain Akbar Arjunsyah, Prince Kallon, Firman Ramadhan, Ardi Ardiana, Indra Arya, dan Muhammad Ardiansyah. Manajemen Persijap menyampaikan ucapan perpisahan yang penuh emosional, berharap para pemain ini menemukan kesuksesan di tempat baru.
Namun, di balik ucapan selamat tinggal yang manis tersebut, terdapat fakta keras mengenai strategi manajemen. Bek Akbar Arjunsyah dan Muhammad Ardiansyah harus hengkang lantaran masa peminjaman mereka telah usai menyusul tuntasnya kompetisi 2025/2026. Sementara itu, nasib Prince Kallon, Firman Ramadhan, Ardi Ardiana, dan Indra Arya lebih pilu; mereka tidak lagi menjadi bagian rencana tim setelah manajemen memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak mereka.
Kondisi ini memperparah eksodus yang sudah terjadi sebelumnya. Dicky Kurniawan dan Wahyudi Hamisi telah lebih dulu dilepas. Ironisnya, badai pemutusan kontrak tidak hanya menyasar pemain lokal. Persijap juga telah berpisah dengan enam pemain asing mereka, yakni Carlos Franca, Aly Ndom, Alexis Gomez, Lucas Morelatto, Iker Guarrotxena, dan Sudi Abdallah. Total, ada lebih dari selusin pemain yang angkat koper dari Laskar Kalinyamat.
Yang menjadi sorotan tajam adalah ketiadaan kejelasan mengenai pemain pengganti. Hingga berita ini diturunkan, belum ada satu pun nama pemain anyar yang diumumkan secara resmi. Pelatih Mario Lemos diyakini sedang bekerja ekstra keras menyusun puzzle tim baru, namun waktu terus berjalan menuju bergulirnya musim baru.
Opini Mendalam: Revolusi Tanpa Rencana atau Gambling Berbahaya?
Sebagai jurnalis yang telah lama mengamati sepak bola Indonesia, apa yang terjadi di Persijap Jepara ini adalah sinyal bahaya yang tidak boleh dianggap remeh. Melepas 12 hingga 14 pemain dalam satu periode transfer bukanlah sekadar 'peremajaan skuad', melainkan sebuah pembongkaran total struktur tim. Dalam dunia sepak bola profesional, stabilitas adalah kunci. Memang, ada saatnya untuk membuang pemain yang tidak produktif, namun melakukan 'pembersihan' besar-besaran tanpa segera mengumumkan rekrutan anyar adalah langkah manajerial yang sangat dipertanyakan.
Kita harus mempertanyakan kapasitas manajemen Persijap dalam merancang tim. Kompetisi BRI Super League musim 2026/2027 bukanlah ajang coba-coba. Lawan-lawan Persijap saat ini kemungkinan besar sudah jauh lebih matang dalam persiapan. Kepergian pemain asing seperti Lucas Morelatto dan Iker Guarrotxena, yang biasanya menjadi tulang punggung permainan, harus segera digantikan dengan kualitas yang setara, atau bahkan lebih baik. Jika Mario Lemos harus menunggu hingga detik-detik terakhir untuk mendapatkan pemain, maka proses adaptasi dan tim building akan menjadi bencana saat liga dimulai.
Selain itu, fenomena ini mengindikasikan adanya ketidaksiapan manajemen dalam hal kontrak dan perencanaan jangka panjang. Membiarkan kontrak pemain habir secara bersamaan tanpa ada opsi perpanjangan atau rencana cadangan adalah kesalahan amatir. Laskar Kalinyamat berisiko kehilangan identitas permainan mereka musim lalu. Apakah strategi ini adalah bentuk penghematan finansial atau justru sebuah kepanikan akibat hasil musim lalu yang tidak memuaskan? Tanpa transparansi dari manajemen, spekulasi negatif akan terus menghantui.
Terakhir, ini adalah ujian berat bagi Mario Lemos. Seorang pelatih hanya sebaik materi yang ia miliki. Jika manajemen tidak segera mendatangkan pemain berkualitas dalam waktu dekat, maka Lemos bisa menjadi 'kambing hitam' atas kegagalan tim di awal musim. Suporter Persijap layak mendapatkan penjelasan, bukan hanya sekadar ucapan selamat tinggal kepada pemain lama. Eksodus ini bisa menjadi awal dari kebangkitan atau justru awal dari mimpi buruk degradasi. Waktu akan menjawab, namun indikasi saat ini cenderung mengkhawatirkan bagi keberlangsungan Persijap di kancah tertinggi.
BERITA TERKAIT

Stok Ayam Melimpah, Harga Jatuh: Apa Sinyal Krisis Pangan di Bangka Belitung?
Budi Santoso
Meksiko Gugat AS: 17 Warga Tewas di Tahanan ICE, Pemerintah Siap Bawa Kasus ke Pengadilan
Ahmad Hidayat
Jokowi Kenang Rachmat Gobel: Antara Pujian Politik dan Warisan Bisnis Kontroversial
Budi Santoso