Dewa United Gedor Rekonstruksi Besar: Privat Mbarga & Tiga Pemain Asing Diresign, Strategi ‘Kosongkan Kandang’ Justru Bikin Publik Geleng-geleng
Eka Saputra
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Jakarta — Dalam langkah yang mengejutkan sekaligus menggegerkan jagat sepak bola Indonesia, Dewa United Banten FC resmi memutus kerja sama dengan penyerang berkebangsaan Kamerun, Privat Mbarga, jelang kompetisi BRI Super League musim 2026/2027. Keputusan ini bukan sekadar perpisahan biasa—ia menjadi simbol awal dari rekonstruksi besar-besaran yang diduga tengah digarap manajemen The Banten Warriors, meski tanpa transparansi yang memadai.
Berdasarkan unggahan resmi akun Instagram @dewaunitedfc, Rabu (15/4/2026), klub mengucapkan terima kasih atas kontribusi Mbarga selama satu musim penuh di 2025/2026. "Terima kasih untuk setiap momen @privatmbarga. Waktumu bersama Banten Warriors mungkin hanya satu babak, tapi itu akan selalu diingat. Yang terbaik untuk petualangan selanjutnya, Privat," tulis pernyataan resmi yang justru mencerminkan kebingungan: mengapa seorang pemain yang tampil 29 kali, menyumbang 5 gol dan 3 assist dalam 1.790 menit—angka yang cukup kompetitif—harus ditinggalkan begitu saja?
Privat, yang memegang paspor Kamboja dan menjadi salah satu pilar lini depan Dewa United, bukanlah nama baru di BRI Super League. Kehadirannya musim lalu dinilai sebagai upaya serius klub memperkuat lini serang pasca-promosi. Namun, fakta bahwa ia tidak dipertahankan—padahal kontraknya belum berakhir dan performanya stabil—membuka pertanyaan besar tentang kualitas pengambilan keputusan manajemen. Apakah ini semata-mata keputusan teknis, atau justru gejala krisis kepemimpinan yang tersembunyi di balik narasi "rekonstruksi"?
Lebih dari itu, keputusan ini menjadi bagian dari gelombang besar pemutusan kerja sama yang melibatkan total 13 pemain, termasuk tiga pemain asing lainnya: Alex Martins (yang kini bergabung ke Persebaya), Hugo Gomes, dan—diperkirakan—beberapa pemain lokal berpengalaman. Ini bukan sekadar pembersihan skuad; ini adalah pembersihan identitas klub. Dewa United yang baru, jika dijalani tanpa prinsip transparansi dan konsistensi, berisiko kehilangan kepercayaan publik sekaligus kehilangan nilai jual sebagai klub profesional.
Yang paling mengkhawatirkan: tidak ada penjelasan publik yang memadai tentang kriteria seleksi pemain yang dilepas. Tidak ada rilis resmi dari direktur teknis atau manajer teknis yang menjelaskan arah taktis klub ke depan. Padahal, di era modern seperti sekarang, komunikasi publik yang kuat adalah bagian tak terpisahkan dari manajemen olahraga yang sehat. Tanpa itu, setiap keputusan—bahkan yang secara statistik rasional—akan terasa seperti keputusan emosional atau bahkan politis internal.
Opini Mendalam: Rekonstruksi Tanpa Visi—Kapan Dewa United Berhenti Jadi Klub "Pengganti Sementara"?
Privat Mbarga bukan sekadar pemain asing yang "tidak cocok". Ia adalah bukti konkret bahwa Dewa United mampu merekrut talenta yang relevan di pasar internasional yang terbatas—Kamerun, bukan Eropa atau Brasil—yang menunjukkan upaya klasterisasi sumber daya yang rasional. Ia datang dengan beban ekspektasi rendah, tetapi memberi kontribusi yang layak: 5 gol dalam 29 laga berarti rasio 0,17 gol per pertandingan—angka yang wajar untuk penyerang non-penggawa tim nasional di liga yang kompetitif seperti BRI Super League. Jika ini dianggap "gagal", maka kita harus bertanya: apa standar keberhasilan yang digunakan? Apakah klub ini mengukur pemain berdasarkan gol semata, atau berdasarkan kontribusi taktis, integrasi tim, dan nilai jangka panjang?
Lebih dari itu, keputusan ini mencerminkan adanya ketidakseimbangan antara ambisi dan kapasitas manajerial. Dewa United, sebagai klub yang baru promosi dan masih dalam proses pembentukan identitas, seharusnya fokus pada konsistensi—konsistensi taktis, konsistensi komunikasi, dan konsistensi kebijakan. Alih-alih membangun fondasi jangka panjang, klub ini justru terlihat seperti "klub transit" yang hanya menampung pemain sementara sebelum mereka dipindahkan ke klub besar. Alex ke Persebaya, Privat ke mana? Tidak ada pengumuman. Hugo Gomes? Hilang tanpa jejak. Ini bukan manajemen olahraga; ini adalah manajemen proyek sementara yang tidak punya tujuan akhir yang jelas.
Di sisi lain, kita harus mempertimbangkan konteks eksternal: BRI Super League sedang memasuki era profesionalisme yang lebih ketat, dengan regulasi financial fair play yang mulai diberlakukan secara ketat. Apakah Dewa United memahami bahwa setiap pemain yang dilepas bukan hanya mengurangi modal—dalam bentuk nilai transfer atau penghematan gaji—tetapi juga mengurangi aset intelektual klub: memecat pemain berpengalaman berarti memecat institusi pengetahuan taktis yang sulit digantikan. Privat, misalnya, mungkin tidak selalu mencetak gol, tapi ia bisa menjadi mentor bagi pemain muda, menjadi penyeimbang di lini depan, atau bahkan menjadi penentu momen krusial dalam laga ketat. Hilangnya aset seperti ini—tanpa penggantian yang setara—akan membuat klub semakin rapuh di musim-musim berikutnya.
Terakhir, mari kita bicara jujur: apakah Dewa United benar-benar ingin menjadi klub besar, atau hanya menjadi pelabuhan sementara bagi pemain yang ingin "melamar" ke klub lain? Jika tujuannya hanya membangun skuad untuk satu musim dan menjual pemain inti ke klub besar, maka kita harus mengakui bahwa ini adalah strategi yang berisiko tinggi dan berpotensi merusak reputasi klub. Klub besar seperti Persija, Persib, atau bahkan Persebaya tidak pernah membangun kekuatan dengan cara ini. Mereka membangun identitas melalui konsistensi, komitmen jangka panjang, dan transparansi. Dewa United masih punya waktu—tapi jika manajemen terus memilih jalan pintas seperti ini, maka "rekonstruksi" yang dijanjikan hanya akan menjadi ilusi yang mempercepat kehancuran struktural, bukan pembangunan.
BERITA TERKAIT

Diaspora Tibet di Jepang Bentak Undang-Undang Baru China: Protes, Duka, dan Risiko Asimilasi Nasional
Siti Rahmawati
B50 Resmi Berlaku: Indonesia Bakal Hemat Rp170 Triliun, Tapi Apakah Sawit Benar‑benar Solusi?
Siti Amalia
Ribuan Buku Impor Menggoda Semarang: Apa Harga Diskon 95% Sebenarnya?
Ahmad Hidayat