Bagpipes & Yel-Yel Maroko: Konvergensi Budaya yang Menyulut Gejolak Geopolitik di Tengah Laga 'Dini' Prancis vs Maroko

Olahraga
Dimas PratamaDimas Pratama
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Bagpipes & Yel-Yel Maroko: Konvergensi Budaya yang Menyulut Gejolak Geopolitik di Tengah Laga 'Dini' Prancis vs Maroko
BAGIKAN:

Boston, Amerika Serikat — Dalam hiruk-pikuk Stadion Boston yang memanas menjelang laga perempat final Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Maroko, sebuah adegan tak terduga menghentak imajinasi: alat musik tradisional Skotlandia, bagpipes, berdentang di tengah nyanyian yel-yel suporter Maroko yang menggelegar. Bukan kebetulan, bukan sekadar hiburan semata—ini adalah simbolisasi langka dari transnasionalisme budaya yang kini menjadi panggung tersendiri dalam pertarungan identitas global.

Dari panggung kecil di luar lapangan, Calum Bell, seorang seniman Skotlandia yang telah bermukim di Boston selama lebih dari satu dekade, memainkan bagpipes dengan penuh keyakinan. Dua bulan latihan intensif, katanya, bukan hanya untuk kefasihan teknis, tetapi juga untuk memahami makna di balik gerakan musikalnya: “Saya diminta panitia untuk menghibur. Tapi saya tahu, di sini, menghibur berarti menghormati perjuangan, kebanggaan, dan sejarah yang dibawa oleh para suporter ini.”

Di sisi lain, kelompok perkusi Flagship Entertainment dari Massachusetts menggema dengan irama drum, tam-tam, dan simbal yang membangun ritme kolosal—seolah mengingatkan kita bahwa suporter bukan lagi massa pasif, melainkan aktor budaya yang membangun narasi sendiri di luar teks pertandingan. Riuh suara ini bukan sekadar latar; ia menjadi soundtrack dari gerakan sosial yang sedang berlangsung: suporter Maroko yang, meski berada ribuan kilometer dari tanah air, membangun home ground di tanah asing dengan kekuatan suara dan warna bendera.

Sebanyak 64.146 penonton memenuhi stadion—angka yang mencerminkan betapa Piala Dunia kini bukan hanya ajang sepak bola, tapi juga festival geopolitik. Ribuan suporter Maroko tiba tiga jam sebelum laga, membawa bendera, drum, dan nyanyian perlawanan yang telah menjadi identitas mereka sejak Piala Dunia 2022 di Qatar. Di sini, mereka bukan hanya mendukung tim; mereka memproyeksikan keberadaan Afrika Utara di peta dunia modern yang sering kali mereduksi mereka menjadi narasi keamanan atau migrasi.

Bukan kebetulan pula bahwa laga ini disebut “terlalu dini” oleh banyak analis. Padahal, ini bukan pertama kalinya Prancis dan Maroko bertemu di level besar: semifinal 2022 di Qatar menjadi titik balik—kemenangan Prancis 2-0 bukan hanya menentukan nasib tim, tapi juga memicu gelombang diskusi tentang ras, kolonialisme, dan identitas ganda para pemain Maroko yang berkarier di Liga Prancis. Achraf Hakimi (PSG), Samir El Mourabet (Strasbourg), atau Amine Sbai (Angers)—semua nama ini bukan sekadar pemain; mereka adalah jembatan antara dua dunia yang sering dipandang sebagai kontradiktif: modernitas Barat dan tradisi Arab-Islam.

Analisis Pakar

Menempatkan laga Prancis vs Maroko sebagai “pertemuan yang terlalu dini” adalah kesalahan retoris yang sengaja dibangun oleh media mainstream untuk menyembunyikan akar historis yang jauh lebih dalam. Sejak kolonialisme Prancis di Maroko (1912–1956), hubungan kedua negara tidak pernah netral. Setiap pertemuan di lapangan hijau adalah refleksi dari ketegangan yang tak pernah benar-benar diselesaikan: dari migrasi tenaga kerja yang terjadi pasca-kemerdekaan, hingga kebijakan integrasi yang diskriminatif terhadap komunitas Maghribi di Prancis. Laga ini bukan hanya soal gol atau skor; ia adalah ruang publik yang memungkinkan suara-suara yang selama ini dibungkam—baik oleh media, institusi, maupun narasi nasional—untuk kembali terdengar. Yel-yel Maroko di Boston bukan sekadar semangat suporter; ia adalah pernyataan politik: “Kami ada. Kami tidak lupa. Dan kami tidak lagi takut.”

Lebih jauh, kehadiran bagpipes Skotlandia—alat musik yang identik dengan perlawanan anti-colonial (terutama terhadap Inggris)—di panggung yang didominasi oleh simbol Maroko adalah ironi yang sangat cerdas. Ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap dominasi Barat tidak lagi terbatas pada batas geografis atau etnis. Globalisasi telah menciptakan aliansi budaya yang tak terduga: Skotlandia, yang juga pernah mengalami penaklukan dan marginalisasi, kini bersolidaritas dengan Maroko dalam ruang yang sama. Bell bukan sekadar musisi; ia adalah perwakilan dari gerakan transnasional yang melihat bahwa keadilan tidak mengenal bendera nasional semata. Dalam konteks ini, suara bagpipes menjadi metafora: bahwa kebebasan adalah bahasa universal, dan bahwa suara yang dibangkitkan di Boston, AS, bisa menjadi inspirasi bagi perjuangan di Rabat, Casablanca, atau bahkan di Glasgow.

Terakhir, kita harus berani mengakui bahwa Piala Dunia 2026 bukan lagi ajang sportivitas netral. Ia telah berubah menjadi arena geopolitik yang sangat aktif—di mana kekuatan lunak (soft power) lebih menentukan daripada kekuatan militer. Maroko, yang sejak 2022 menjadi simbol kebangkitan Afrika dan dunia Arab di panggung global, kini tidak lagi hanya bermain sepak bola; ia membangun narasi baru tentang dirinya sendiri: bukan sebagai negara yang tergantung pada kolaborasi Barat, tetapi sebagai aktor yang mampu mengorganisir kekuatan budaya, ekonomi, dan diplomatik secara mandiri. Laga ini, jika dilihat dari perspektif jangka panjang, bisa menjadi titik balik dalam hubungan Prancis-Maroko: bukan dalam bentuk konflik, tetapi dalam bentuk pengakuan—bahwa Maroko bukan lagi “anak asuh” atau “mitra simbolis”, melainkan mitra yang setara, dengan sejarah, budaya, dan keberanian untuk menegaskan diri di tengah gempuran globalisme yang homogen.