Prambanan Jadi Panggung Persaingan Budaya: Indonesia-India Siapkan Jembatan Pariwisata Baru
Siti Rahmawati
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Jakarta, 9 Juli 2026 – Menteri Pariwisata Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana, menegaskan bahwa hubungan peradaban antara Indonesia dan India bukan sekadar retorika diplomatik, melainkan sebuah jaringan budaya yang berakar kuat dalam seni, bahasa, arsitektur, dan mitologi. Dalam kunjungan kerjanya bersama Presiden Prabowo Subianto ke Candi Prambanan, Widiyanti menyoroti potensi situs warisan dunia itu sebagai jembatan strategis untuk memperdalam koneksi spiritual dan komersial antara kedua negara.
"Kami ingin menjadikan Prambanan sebagai salah satu jembatan penting dalam memperkuat hubungan pariwisata budaya dan spiritual antara Indonesia dan India. Bersama Bali, Prambanan memiliki kedekatan emosional dan spiritual yang kuat dengan wisatawan India," ujar Widiyanti dalam sebuah keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta pada Kamis (9/7).
Menurutnya, jejak peradaban India dapat dilihat jelas dalam relief-relief candi yang mengisahkan epik Ramayana dan Mahabharata. "Kompleks candi Hindu tersebut tidak hanya menghadirkan warisan arsitektur dan spiritualitas, tetapi juga memperlihatkan bagaimana nilai‑nilai peradaban India diterima, diolah, dan diperkaya menjadi ekspresi kebudayaan yang khas Indonesia," tegasnya.
Widiyanti menilai kunjungan Perdana Menteri India, Narendra Modi, ke Prambanan sebagai momen krusial untuk menggerakkan agenda people‑to‑people contact. "Kami melihat kunjungan PM Modi ke Prambanan sebagai momentum yang sangat penting untuk memperkuat hubungan antarmasyarakat antara Indonesia dan India. Hubungan kedua negara bukan hanya hubungan diplomatik, tetapi juga hubungan budaya dan peradaban yang telah terbangun sejak lama," katanya.
Data Kementerian Pariwisata menunjukkan peningkatan kunjungan wisatawan India: 298.450 orang dari Januari hingga Mei 2026, naik 0,40 % dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tren pertumbuhan positif juga terlihat dalam tiga tahun terakhir, dari 606.439 pada 2023 menjadi 734.490 pada 2025. Namun, Widiyanti menekankan bahwa angka kuantitatif saja tidak cukup; kualitas pengalaman, interaksi budaya, dan keberlanjutan harus menjadi fokus utama.
Dengan agenda kunjungan PM Modi, pemerintah berharap eksposur Prambanan sebagai destinasi budaya kelas dunia akan melambung, sekaligus membuka peluang investasi dalam infrastruktur wisata, pelatihan pemandu, dan program pertukaran budaya. "Kami berharap kunjungan Perdana Menteri Modi dapat semakin meningkatkan eksposur pariwisata Indonesia, khususnya Candi Prambanan," tutup Widiyanti.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis senior investigasi, saya melihat dua dinamika yang sedang berpotensi mengubah lanskap pariwisata dan hubungan bilateral Indonesia‑India. Pertama, penggunaan simbol budaya seperti Prambanan sebagai alat diplomasi lunak bukanlah hal baru, namun kini semakin terukur melalui data kunjungan dan investasi. Pemerintah Indonesia tampaknya berusaha mengubah nostalgia budaya menjadi motor pertumbuhan ekonomi, mengingat sektor pariwisata menyumbang lebih dari 5 % PDB nasional. Jika strategi ini berhasil, Indonesia dapat memposisikan diri sebagai hub budaya Asia Selatan‑Southeast Asia, menarik tidak hanya wisatawan India, tetapi juga investor sektor kreatif.
Kedua, ada risiko tersembunyi di balik narasi kebersamaan peradaban. Kedekatan spiritual antara Prambanan dan India dapat menjadi arena persaingan geopolitik, mengingat India semakin aktif memperluas pengaruhnya di Indo‑Pasifik melalui soft power. Kunjungan PM Modi ke Yogyakarta bukan sekadar wisata, melainkan sinyal bahwa India ingin menancapkan pijakan budaya yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat posisi tawar dalam kerjasama ekonomi, keamanan, dan teknologi. Indonesia harus menyeimbangkan antara memanfaatkan peluang ekonomi dan menjaga kedaulatan kebudayaan dari potensi dominasi eksternal.
Selanjutnya, data kunjungan yang meningkat marginal (0,40 %) menandakan bahwa pertumbuhan masih berada pada level stagnan. Untuk mengubah tren ini menjadi lonjakan signifikan, diperlukan kebijakan yang lebih agresif: paket visa yang disederhanakan, promosi digital yang tersegmentasi, serta kolaborasi dengan platform travel India yang memiliki jutaan pengguna. Tanpa langkah-langkah tersebut, Prambanan berisiko menjadi sekadar latar belakang foto Instagram, bukan destinasi yang menghasilkan nilai tambah ekonomi berkelanjutan.
Akhirnya, saya memperingatkan bahwa fokus pada satu situs warisan dapat menimbulkan ketimpangan alokasi sumber daya. Pemerintah harus memastikan bahwa upaya pengembangan Prambanan tidak mengorbankan situs lain yang juga memiliki potensi budaya, seperti Candi Borobudur atau situs-situs arkeologi di Papua. Diversifikasi penawaran wisata budaya akan mengurangi tekanan pada Prambanan, menjaga kelestarian, sekaligus memperluas basis pasar wisatawan internasional.
BERITA TERKAIT

Komisi III Desak Polri Gali Tuntas Korupsi Batu Bara: Ancaman Pemadaman Listrik dan Keterlibatan Elite
Budi Santoso
Brankas Raksasa di Sentul Terbongkar: 74 kg Emas, Uang Asing Ratusan Miliar, dan Jejak Korupsi Besar-Besaran
Budi Santoso
Setelah Lahan 20 Ha Diserahkan, Kapan Sekolah Garuda di Manokwari Benar‑benar Dibangun?
Budi Santoso